-

Adab Terhadap al-Qur'an

Kerap kita temui, ada saja orang yang tidak membaca al-Qur’an dengan adab yang benar. Entah karena tidak tahu, atau karena tidak ingin menerapkan apa yang mereka ketahui. Bagi seorang penghafal al-Qur’an, mengetahui dan menerapkan adab terhadap al-Qur’an sangatlah penting. Karena hafalan al-Qur’an seseorang yang menghafal dengan adab dengan yang tidak itu berbeda jauh.

Seorang penghafal yang mempunyai hafalan juz ‘amma, lebih baik daripada seseorang yang menghafal al-Qur’an, namun tidak menerapkan adab terhadap al-Qur’an. Di antara adab terhadap al-Qur’an ialah :

Pertama, tidak membaca al-Qur’an sambil tidur atau melakukan hal lain selama membaca al-Qur’an. Selama membaca al-Qur’an mau tidak mau, kita harus fokus terhadap bacaan. Sebab kita otak kita tidak dapat membagi konsentrasi dalam melakukan 2 hal sekaligus. Semisal membaca al-Qur’an sambil tidur atau selonjoran, sadar atau tidak, kita pasti mengantuk, dan terkadang akhirnya ketiduran. Tidak hanya dalam membaca atau menghafal al-Qur’an, saat belajar pun, jika kita mengerjakan sambil mengerjakan hal yang lain seperti mendengarkan musik, atau sambil nonton, pasti yang lebih banyak kita lakukan adalah mendengarkan musik atau nonton tadi, disebabkan otak kita hanya mempunyai 1 jatah konsentrasi untuk satu pekerjaan.

Kedua, tidak membiarkan al-Qur’an dalam keadaan terbuka jika tidak dibaca atau saat berbicara. Dalam membaca al-Qur’an, hendaknya fokus untuk membacanya. Jika harus memulai suatu pembicaraan yang penting, kita dapat menutup al-Qur’an selama pembicaraan itu berlangsung, kemudian membukanya kembali. Karena al-Qur’an tidak seperti buku-buku lainnya, maka membaca al-Qur’an tidak bisa seperti membaca buku bacaan, dengan kata lain harus menggunakan adab.

Ketiga, mendengarkan bacaan al-Qur’an. Dalam Surah al-A’râf ayat 204, Allah berfirman, “Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. Maksudnya ayat ini ialah jika dibacakan al-Qur’an kita diwajibkan mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik dalam sembahyang maupun di luar sembahyang, terkecuali dalam shalat berjamaah ma'mum boleh membaca Al Faatihah sendiri waktu imam membaca ayat-ayat al-Qur’an.

Mendengarkan al-Qur’an saja, kita mendapat rahmat, apalagi bila membacanya dengan sepenuh hati. Maka, alangkah baiknya saat al-Qur’an dibacakan kita mendengarkan bacaan al-Qur’an dengan seksama.

Keempat, tidak mensejajarkan al-Qur’an dengan sesuatu yang lebih rendah.
Perlakuan seperti ini terkadang terjadi tanpa kita sadari. Semisal meletakkan al-Qur’an di atas sajadah yang kita duduki. Hal ini, walaupun kita tidak berniat mensejajarkannya dengan kaki kita, dapat diartikan seperti itu. Atau meletakkan al-Qur’an di tempat yang rendah. Padahal sebenarnya, al-Qur’an adalah kitab yang tertinggi, menyandang kata “al-‘Aliyy” pada namanya, karena merupakan kalâmullâh dan tidak ada yang lebih tinggi dari perkataan Allah, maka hendaknyalah al-Qur’an tidak disejajarkan atau diletakkan pada tempat yang lebih rendah daripada nilai al-Qur’an itu sendiri.

Kelima, tidak membelakangi atau membawa-bawa al-Qur’an tepat disebelah pinggang.
Hal ini tanpa sadar sering dilakukan. Namun, ada saja yang jarang menyadarinya. Misalkan kita menggunakan tas ransel yang di dalamnya ada al-Qur’an, maka itu dapat dikatakan membelakangi al-Qur’an. Alangkah baiknya saat kita membawa al-Qur’an, kita menyedekapkan al-Qur’an tersebut di dada, sehingga al-Qur’an memiliki tempat yang terhormat.

Keenam, membaca al-Qur’an menghadap kiblat. Hal ini memang tidak terlalu diharuskan dalam membaca al-Qur’an. Namun, untuk lebih khusyuk saat membaca al-Qur’an, sebaiknya membaca al-Qur’an dengan menghadap ke kiblat.

Ketujuh, membaca ta’awudz saat memulai membaca al-Qur’an Allah swt. Berfirman dalam Surah an-Nahl ayat 98. Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Seringkali, apabila kita telah melakukan pembicaraan dengan orang lain, kita menghentikan membaca al-Qur’an dan tidak membacanya dengan ta’awudz. al-Qur’an itu kitab tertinggi, diturunkan oleh yang Mahatinggi, maka, saat melakukan pembicaraan dengan manusia lain, hendaknya, saat memulai kembali membaca al-Qur’an, bacalah ta’awudz.

Lain lagi halnya saat berpidato. Sering pula kita temukan bila para orator saat berpidato mengucapkan ta’awudz saat membacakan sebuah ayat. Mungkin bagi orang yang paham maksud ta’awudz, ini bukanlah suatu kesalahan. Namun, bagi orang yang awam, yang membaca ta’awudz saja ia kurang fasih, akan bertanya-tanya, “Surat dan ayat berapakah firman Allah yang berbunyi ‘A’udzubillahiminasysyaithonirrajîm,’” atau “Masak Allah berlindung dari godaan setan??”

Dalam hal ini, membaca ta’awudz cukup dalam hati saja, atau kalau tetap ingin melafalkan ta’awudz kita tidak mengatakan “Allah berfirman” karena bisa terjadi salah pengertian.

Kedelapan, mengamalkan apa yang terkandung dalam al-Qur’an dengan ikhlas
Untuk adab yang satu ini, siapapun, pasti sedang dalam proses untuk melakukannya. Namun bukan berarti alasan ini menghalangi kita untuk mengamalkan isi al-Qur’an. Karena, ikhlas itu adalah saat kita melakukan sesuatu tanpa mengharapkan apapun selain keridhoan dari Allah swt. Sehingga saat kita mengamalkan kandungan al-Qur’an kita tidak merasa berat atau sungkan. Salah satu faktor yang membantu timbulnya sikap ikhlas ialah pembiasaan terhadap diri sendiri.

Demikianlah beberapa adab terhadap al-Qur’an yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan, karena kesempurnaan hanya milik Allah swt. Kekurangan pasti milik kita, manusia. Terimakasih atas kesempatannya. Semoga bermanfaat bagi seluruh alam.(Nurul Wahana)

Artikel Terkait

  • Ramadhan Bersama Al-Qur'an
  • Sebab Turunnya Ayat Al-Qur`an
  • Nida Al-Quran
  • Tema Pokok al-Quran