Orasi Ilmiah Dr. Hj. Faizah Ali Syibromalisi MA: Peran Sarjanah Muslimah dalam Pembinaan Keluarga dan Masyarakat di Era Globalisasi

Oleh: Dr. Hj. Faizah Ali Syibromalisi, MA

 

Pendahuluan

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan Allah untuk menjadi petunjuk kehidupan bagi umat manusia.  Islam dengan kitab sucinya tidak hanya mampu merespon dan menyikapi perubahan-perubahan yang terjadi dimana saja dan kapan saja, sesuai  dengan misinya yang shâlih likulli zaman wal makan tapi juga Islam mampu menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Umat Islam sepanjang sejarahnya telah membuktikan bahwa kandungan ajaran yang ada dalam Al-Qur’an telah menjadi petunjuk yang luar biasa untuk menata dan meniti kehidupan yang lebih baik dan bermakna.

Sebagai kitab petunjuk, keberadaan           Al-Qur’an pada saat ini sangat dibutuhkan, karena manusia pada saat ini tengah berada pada kondisi yang cukup memperihatinkan. Nilai-nilai agama  mengalami erosi. Sedikit demi sedikit semangat kejujuran, keadilan, kepedulian kepada sesama manusia, lingkungan dan lain sebagainya, semakin hari semakin menjauh dari kehidupan. Manusia tengah dilanda oleh semangat konsumerisme, berlomba-lomba dengan kebendaan dan kemewahan. Sehingga nilai-nilai agama, kemanusiaan dan adat istiadat semakin terpinggirkan. Dengan demikian, Al-Qur’an  idealnya menjadi roh (spirit) dan benteng moralitas bangsa.

Ajaran moral dan petunjuk Al-Qur’an diyakini tetap terjaga otentisitasnya, tidak  terkontaminasi oleh ulah tangan manusia. Kesepakatan tentang otentitas dan finalitas        Al-Qur’an itulah yang kiranya patut disyukuri oleh kaum Muslimin, bahwa di tengah-tengah berbagai keragaman paham dan perbedaan dalam berbagai masalah keagamaan –bahkan pertentangan berbagai kelompok, umat Islam masih berpegang pada Kitab Suci yang Satu, Al-Qur’an al-Karîm, yang teksnya bersifat final dan universal.

Nabi saw. telah mewariskan Al-Qur’an dan  perjuangan Islam kepada para ulama. Sebab, sepeninggal beliau tidak ada nabi lagi. Ulama-lah yang harus memimpin dan membimbing umat. Artinya, baik buruknya umat, jatuh bangunnya Islam, tergantung pada keberadaan dan peran sosok-sosok ulama pewaris Nabi tersebut. Jika mereka rusak, maka rusaklah umat Islam. Oleh sebab itu sebagai sumber nilai dan moral,           Al-Qur’an bukan lagi hanya  sekedar dibaca, dihayati dan dimiliki, tetapi juga harus dijaga otentisitasnya, dimaknai untuk diamalkan atau diaktualisasikan dalam perilaku sosial yang bermoral. Muara nilai-nilai agama adalah kebaikan dan kemaslahatan umat manusia. Memuliakan     Al-Qur’an tentu bukan saja menyimpannya di rak paling atas,  melainkan menjadikan nilai-nilai      Al-Qur’an selalu menuntun hidup kita selama 24 jam.

Kesadaran terhadap kewajiban melestarikan Al-Qur’an  dan mengamalkannya, telah mendorong umat Islam mendirikan Perguruan tinggi yang menekuni ilmu-ilmu Al-Qur’an seperti  Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ). Dengan harapan  tampilnya para ulama Al-Qur’an perempuan, sarjana-sarjana muslimah yang benar-benar menjadi model “pewaris nabi”, yang siap berjihad di jalan Allah li l lai kalimâtillah.

Kalau sejarah telah mencatat bagaimana Nabi  telah mencetak perempuan-perempuan yang berprestasi dalam berbagai bidang pengetahuan. Aisyah, istri nabi dikenal sebagai seorang ilmuwan dan kritikus ulung. Sehingga nabi menyatakan “ambillah setengah pengetahuan agama kalian dari Al-Humairah (yakni Aisyah).” Nama-nama seperti Asma binti Al-Sayyidah Sakinah, putri Al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib, sayidah Nafisah, sayidah Aisyah dan banyak lain. Maka  harapan  para pendiri IIQ ternyata juga tidak sia-sia. Tidak bisa dipungkiri bahwa sejak didirikan sampai saat ini, IIQ telah berperan menjaga eksistensi  Al-Qur’an di Indonesia dan mencetak sarjana-sarjana muslimah. Tugas menjaga kelestaraian Al-Qur’an dan menyebarkannya kepada orang lain, disadari bukan hanya tugas yag harus diperankan oleh sarjana laki -laki saja. Tetapi juga oleh sarjana-sarjana muslimah alumni IIQ.

Hal tersebut bisa ditelusuri melalui  rekam jejak sarjana-sarjana muslimah alumni IIQ yang tersebar di seluruh Indonesia. Bisa dikatakan bahwa hampir seluruh kegiatan seputar Al-Qur’an di Indonesia dari mulai PAUD TK Al-Qur’an, TPA. Guru agama, kegiatan MTQ, tashih al-Qur’ân, institusi institusi Tahfihz al-Qur’ân,  penceramah, dosen bahkan  ada sarjana muslimah alumni IIQ menjadi anggota anggota DPR saat ini.  (bahkan kita saksikan sederetan pemangku jabatan akademik IIQ sendiri saat ini adalah alumni IIQ).   Akses terhadap pendidikan telah menjadi kunci keberhasilan dari upaya pemberdayaan perempuan untuk menjadi sarjana muslimah alunmni IIQ.

  

Peran sarjana muslimah dalam keluarga

            Islam adalah agama yang sangat memuliakan para ibu dan meletakkan posisi mereka sebagai madrasah dalam rumah tangga, guru dan pendidik pertama bagi anak-anaknya, bahkan pendidikan itu sudah terbina ketika anak tersebut masih dalam kandungan. Karena ibu  seperti dikatakan oleh  Imam Syafii, “Ibu adalah guru besar. Jika dibekali dengan baik, maka Anda telah membekali satu generasi.”  Seorang penyair Mesir  Ahmad Syauqi  mengatakan: “Seorang ibu  adalah Lembaga pendidikan, jika engkau benar-benar mempersiapkan dirinya,  berarti engkau telah mempersiapkan sebuah generasi yang benar-benar digdaya”

Dalam sejarah Islam, ibu sering kali digambarkan sebagai tokoh penting dibalik kesuksesan orang-orang besar. Ulama yang kita kenal seperti Imam Bukhari, Imam Syafi’i, Imam al-Baihaqi dan Imam an-Naisaburi menjadi ulama yang pakar dalam bidang masing-masing berkat besarnya perhatian sang bunda terhadap pendidikan mereka.

Sarjana muslimah sebagai perempuan yang memiliki kualitas pendidikan yang baik, harus berperan dalam menciptakan generasi bangsa yang lebih baik pada masa mendatang,  mereka harus  berkonstribusi dalam menanamkan nilai-nilai moral dan pembentukan karakter generasi bangsa yang lebih baik. Namun Tugas sebagai sarjana muslimah di luar rumah hendaknya tidak melupakan fungsi dan perannya sebagai pengatur kehidupan rumah tangga.  Oleh sebab itu kewajiban seorang ibu untuk mendidik anak-anaknya harus betul-betul disadari, karena setiap hari, melalui media cetak maupun media elektronik kita disodorkan berbagai informasi prilaku menyimpang remaja yang terjadi di republik ini. Misalnya  perkelahian antar pelajar, tawuran, pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, perampokan, perjudian akibat menenggak minuman keras, narkoba, dan gambar-gambar  porno. Di antara penyebab dari maraknya perilaku menyimpang di atas adalah tidak efektifnya pengasuhan dan pendidikan anak yang dilakukan oleh orang tua. Lemahnya pengasuhan dapat terjadi, di samping kesibukan sang ibu bekerja di luar rumah, juga karena rendahnya pengetahuan dan kesadaran orang tua tentang betapa pentingnya fungsi dan peranannya sebagai pemberi rasa aman dan kasih sayang, dan sebagai pendidik pertama dan utama. Khalil Gibran mengatakan: “Siapa pun anak yang kehilangan kasih sayang ibunya karena ketidak hadiran ibunya pada masa pertumbuhannya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.”

Kondisi ini sungguh sangat memperihatinkan, karena itu sarjana-sarjana muslimah alumni IIQ dituntut segera mengambil peran, untuk menjadi pelaku bagi berbagai upaya meningkatkan kualitas ibu. Baik  kualitas spiritual keagamaan, pendidikan, kualitas pemahaman tentang pendidikan anak dan kualitas perannya di tengah-tengah keluarga dan masyarakat

 

Peran  Sarjana Muslimah  di Masyarakat

Tugas perempuan sebagai istri, sebagai ibu rumah tangga dan pendidik  bukan berarti membelenggu perempuan dan membatasi gerak perempuan dalam ranah publik. Karena Islam telah  memberi perempuan peran, bukan saja dalam kehidupan rumah tangga, melainkan juga dalam kehidupan bermasyarakat. Laki-laki maupun perempuan  menurut ajaran Islam,  wajib bekerja dan  berkarya serta terjun dalam semua bidang kehidupan. Karena bekerja berarti memanfaatkan semua potensi manusia dalam kehidupan ini, dengan menggunakan daya yang dimiliki; daya fisik, daya pikir, daya kalbu dan daya hidup  untuk kemaslahatan diri sendiri dan kemaslahatan orang banyak. Tentu sesuai  dengan profesi, kecenderungan dan tingkat pendidikan  masing-masing manusia sebagai  mahluk sosial. Laki-laki maupun perempuan  harus bekerja sama topang menopang demi mencapai kebahagiaan hidup dan kesejahteraannya.

Salah satu  dalil keagamaan yang dapat dijadikan dasar untuk mendukung hak-hak perempuan untuk bekerja atau berkarir. dikemukakan dalam QS. At-taubah [9]: 71.

 
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang maruf, mencegah dari yang munkar QS. At-taubah [9]: 71.

 

Ayat  ini sangat terkait dengan kewajiban menyeru pada yang baik dan mencegah diri dari yang buruk  (amar ma’ruf nahi munkar).  Ayat ini menunjukan betapa perempuan dan lelaki harus dapat bekerja sama dalam membangun masyarakat sejahtera. Nabi saw. bersabda: “Siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, dia bukanlah termasuk kelompok mereka”. Hadis ini tentu saja peringatan kepada siapa pun dari umat Nabi Muhammad saw., sekaligus anjuran kepada mereka –baik laki-laki maupun perempuan– agar memberi perhatian kepada masyarakatnya

Adanya perbedaan jenis kelamin  antara laki-laki dan perempuan terkait dengan fungsi dan peran yang diemban masing-masing. Perbedaan tersebut bukanlah  pembedaan (diskriminasi), akan tetapi perbedaan tersebut dimaksudkan untuk mendukung misi pokok Al-Qur’an, yaitu terciptanya hubungan harmonis antara laki-laki dan perempuan yang didasari rasa kasih sayang. Islam tidak memungkiri bahwa mengabaikan perempuan berarti mengabaikan setengah dari potensi masyarakat, dan melecehkan mereka berarti melecehkan seluruh manusia. Karena tidak seorang manusiapun –kecuali Adam dan Hawa as– yang tidak lahir melalui seorang perempuaan.

Oleh sebab itu akses perempuan untuk menduduki jabatan strategis dan keterlibatan perempuan dalam kegiatan-kegiatan pembangunan, mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat jangan dihambat oleh alasan-alasan peran reproduksi perempuan yang tidak masuk akal. Peran perempuan dalam bidang pendidikan dan politik sangat signifikan dalam proses pembangunan bangsa. Karena perempuan  mengetahui dan paham betul terhadap permasalahan-permasalahan perempuan dan keluarga. Setidaknya kaum perempuan dapat memberi masukan yang sangat berarti dalam penyusunan kebijakan-kebijakan terkait masalah perempuan, anak-anak dan keluarga. Rendahnya keterlibatan perempuan di pemerintahan dan parlemen, berdampak langsung pada kecilnya alokasi perhatian terhadap pembangunan kesejahteraan perempuan, karena kebijakan-kebijakan di buat tidak berdasarkan pada kepentingan dan kebutuhan perempuan. Perempuan diposisikan sebagai objek pembangunan di mana hak-hak dan kebutuhan kesejahteraannya terabaikan.

Mahatma Ghandi, sepeti yang dikutip dalam buku Sarinah, pernah berkata, “Banyak sekali pergerakan kita kandas di tengah jalan karena ketiadaan perempuan di dalamnya.” Melalui pernyataan itu, Ghandi ingin mengingatkan rakyat India bahwa keterlibatan perempuan dalam pembangunan bangsa adalah hal mutlak dan tidak tergantikan.

Namun sungguh sangat ironis bila kita melihat fakta kondisi pendidikan perempuan di Indonesia, negara dengan penduduknya yang  mayoritas muslim. Kondisi pendidikan perempuan sangat tidak berimbang. kondisi seperti ini antara lain ditunjukan oleh masih tingginya angka buta huruf di kalangan perempuan, dan rendahnya jumlah perempuan di jenjang pendidikan tinggi, yakni kurang dari 5 %. Dari jumlah ini IIQ dalam usianya yang ke-38 telah berhasil menyumbangkan tenaga terdidiknya berupa sarjana-sarjana muslimah sebanyak 1500 lebih sarjana dari strata satu (S1) dan 400 lebih sarjana strata dua (S2)

Pandangan negatif terhadap perempuan dan perbedaan kualitas yang selama ini terasa di masyarakat lebih banyak disebabkan antara lain oleh kurang tersedianya peluang bagi perempuan untuk berkembang melalui pendidikan di rumah tangga, yang lebih memprioritaskan anak lelaki dibandingkan anak perempuan. Hal itu diperparah lagi dengan kurangnya minat perempuan atau lemahnya dorongan lelaki terhadap mereka untuk mengembangkan diri akibat begitu meresapnya pandangan budaya yang keliru itu. Padahal kalau merujuk kepada kitab suci, tidak ditemukan dasar dari suprioritas satu jenis atas jenis yang lain.

Sebenarnya perempuan bisa berperan dan berprestasi. Ini terbukti antara lain dengan tampilnya sekian banyak perempuan yang memiliki prestasi yang menyamai, bahkan melebihi, prestasi lelaki sepanjang sejarah Islam dan sejarah perjuangan bangsa kita. Ini juga membuktikan bahwa perempuan dapat maju dan berprestasi jika mereka bertekad untuk maju dan menciptakan peluang buat diri mereka.

Maka bagi masyarakat umum, pekerjaan rumah yang harus diselesaikan adalah menghilangkan anggapan perempuan sebagai makhluk kelas dua yang sebaiknya dirumahkan. Peran melayani suami dan mendidik anak memang menjadi tugas perempuan, namun bukan berarti  keterlibatan perempuan dalam kegiatan-kegiatan  pembangunan dan  mencerdaskan masyarakat tidak diperlukan. Karena itu anggapan ini harus sedikit demi sedikit dihilangkan sehingga tercipta iklim sosial yang mendukung keterlibatan perempuan dalam kegiatan-kegiatan pembangunan.

Untuk menjadi Negara yang berdemokrasi, hak-hak perempuan baik dalam bidang pendidikan budaya dan polititik mutlak diakui keberadaanya. Peningkatan partisipasi perempuan ini merupakan suatu wujud komitmen Negara untuk menyadarkan seluruh perempuan di Indonesia bahwa diri mereka adalah sesuatu yang berharga,  yang dibutuhkan untuk menciptakan generasi yang cerdas  beriman dan bertakwa penerus masa depan bangsa

 

Penutup

    Dengan melihat realitas di atas nyatalah bahwa IIQ telah memberikan sumbangsih  yang demikian besar dalam menjaga eksistensi kitab suci Al-Qur’an, dalam menjaga dan mengembangkan pendidikan berbasis karakter dan dalam menciptakan syiar keislaman di Indonesia. harapan  tampilnya para ulama Al-Qur’an perempuan, sarjana-sarjana muslimah yang siap berjihad di jalan Allah li l’ lai kalimâtillah.

Oleh karena itu, kewajiban pemerintah dan juga masyarakat adalah memberikan sumbangsih dan perhatian yang lebih besar lagi bagi Perguruan Tinggi yang menekuni ilmu-ilmu Al-Qur’an seperti Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ).  Upaya menjadikan IIQ sebagai basis pendidikan berbasis Al-Qur’an yang mencetak hâfizhah, mufassirah dan pengkaji  Al-Qur’an harus terus diupayakan. Upaya Bapak Gubernur untuk meningkatkan kesalehan masyarakat ibukota melalui pendidikan  berbasis Al-Qur’an dan Menjadikan IIQ sebagai central pengembangan calon-calon peserta MTQ bagi putri-putri daerah Ibu Kota adalah langkah yang tepat sehingga perlu dilanjutkan dan ditingkatkan. Dan terakhir pemberian beasiswa bagi mahsiswa yang berprestasi di kancah MTQ harus terus dilanjutkan dan ditambah jumlahnya.
_________
Orasi imliah ini disampaikan pada acara Wisuda S1 XVI dan S2 IX dan Dies Natalis ke-38 IIQ Jakarta di Sawangan, 29 September 2015

Artikel Terkait