Rektor IIQ, Salah satu dari Lima Wanita dengan Pesona Keulamaan yang Mengalahkan Pria

Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Nabi Saw. mengatakan bahwa wanita itu kurang akal dan agamanya. Maksud dari kurangnya akal sebab kesaksian wanita setengah dari kesaksian pria, sementara kurang agamanya karena setiap kali wanita haid, ia tidak salat dan puasa.

Tentang hal tersebut, penjelasan dalam kitab Hakadza ‘Alamatni al-Hayat mungkin sangat mengena. Musthafa As-Siba’i menjelaskan, “Bukan berarti wanita itu kurang akal daripada laki-laki, tetapi perasaannya mendominasi akalnya. Pria akalnyalah yang mendominasi perasaannya.”

Nah, jika kita temui ada wanita yang mampu mengungguli laki-laki dalam beberapa hal, itu berarti yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu wanita mampu membuat akalnya lebih dominan daripada perasaannya. Paling tidak, ini dia 5 wanita dengan pesona keulamaan yang mengalahkan pria.

1.Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo

Beliau merupakan wanita pertama dari Indonesia yang mendapatkan gelar doktor dengan predikat cumlaude, pada konsentrasi Fikih Perbandingan Mazhab dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Perempuan kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah tahun 1946 ini, merupakan ahli fikih ternama di Indonesia. Beliau sering diundang menjadi pembicara, baik dalam forum nasional maupun internasional. Selain itu, beberapa tulisannya juga sering dimuat di media cetak.

Beliau pernah menjadi anggota Komisi Fatwa MUI serta masih aktif mengajar di beberapa Universitas,  di antaranya Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) Jakarta, Pascasarjana Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta, Dosen Pascasarjana UIN Jakarta, Universitas Islam Jakarta, dan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Selain aktif di MUI, beliau juga penggerak sejumlah LSM wanita yang mengantarkannya mendapat penghargaan sebagai tokoh peningkatan peranan wanita.

Sepak terjang beliau tak hanya di dunia pendidikan dan politik, tapi juga merambah pada dunia perbankan.

Beliau menjabat sebagai Dewan Pengawas Syariah di Bank Niaga Syariah dan Ketua Pengawas Syariah di Asuransi Takaful Great Eastern. Informasi sebagai dilansir iiq.ac.id.

2. Prof. Dr. Nabilah Lubis

Wanita asli Mesir ini, memutuskan menetap di negara Indonesia setelah dipersunting oleh Mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo. Hal ini sebagaimana tertulis dalam buku otobiografinya yang berjudul Roman Putri Kairo dan Mozaik Pengabdian di Negeri Khatulistiwa.

Beliau merupakan seorang Ahli Filologi Indonesia yang merupakan Guru Besar Ilmu Filologi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai ketua Majelis Ilmuwan Muslimat se-Dunia cabang Indonesia (2013).

Beliau aktif dalam dunia menulis, tulisannya banyak yang dimuat di beberapa media massa baik nasional maupun internasional. Beliau juga menjabat sebagai pemimpin umum majalah berbahasa Arab Alo Indonesia.

3. Prof. Dr. Aisjah Girindra

Wanita kelahiran Bukittinggi tahun 1935 ini, adalah seorang Guru Besar Biokimia IPB dan pakar makanan halal Indonesia, seperti dilansir Eramuslim.com.

Doktor wanita pertama di Pogram Pascasarjana IPB ini, pernah menjadi Direktur Lembaga Penelitian dan Pengkajian Obat-obatan, Kosmetik dan Makanan (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia dan Presiden Dewan Halal Dunia.

4. Prof. Dr. Zakiyah Daradjat

Wanita kelahiran Minang 1926 ini,  Ahli Psikologi Islam jebolan Ain Shams University Cairo, Mesir. Termasuk kalangan santri pertama yang mendapatkan gelar sarjana di luar negeri dalam bidang psikologi.

Psikolog yang melihat doa sebagai salah satu metode terapi mental ini, merupakan orang yang pertama kali merintis dan memperkenalkan psikologi agama di lingkungan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia.

Beliau aktif dalam mengampanyekan Psikologi Islam melalui berbagai media, buku, artikel, makalah, diskusi, radio, televisi, serta mengajar di berbagai lembaga pendidikan.

Selain itu, karya-karyanya menjadi bacaan wajib di perguruan tinggi, terutama mengenai Pendidikan Agama dan Psikologi Agama. Sayangnya, beliau telah kembali ke haribaan Tuhan pada tahun 2013 silam.

5. Rahmah El-Yunusiyah

Rahmah El-Yunusiyah merupakan sosok pembaharu pada abad ke 19 M. Wanita kelahiran Padang Panjang ini, anak dari seorang ulama besar di zamannya, Syekh Muhammad Yunus, seorang hakim sekaligus pemimpin Tarekat Naqsabandiyah al-Khalidiyah serta ahli ilmu falak dan hisab yang pernah menuntut ilmu di Mekah selama 4 tahun.

Berasal dari keluarga yang kental dengan tradisi akademis, ia tumbuh besar dengan pendidikan yang layak tak seperti perempuan umumnya pada zaman itu.

Ia menilai bahwa kaum perempuan juga perlu mendapatkan pendidikan, karena itu, ia mendirikan Sekolah Perempuan. Jadi bisa dibilang, dia merupakan penggagas Sekolah Perempuan pertama.

Ia resmi mendirikan lembaga pendidikan untuk perempuan pada 1 November 1923, sekolah itu diberi nama Madrasah Diniyah Lil Banat.

Masyarakat banyak yang tertarik, dan pada masa penjajahan Jepang sekolah ini dipopulerkan dengan nama “Sekolah Diniyah Puteri”, sedangkan pada masa sekarang dikenal sebagai “Perguruan Diniyah Puteri”. Informasi ini seperti tertulis dalam Jurnal Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga, Februari-Juli 2004.

Sumber: http://www.datdut.com/wanita-dengan-pesona-keulamaan/#

Artikel Terkait