Orasi Ilmiah Wisuda S1 XVIII S2 XI dan Dies Natalis 40 Tahun 2017: KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN .
Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo, MA
(Rektor IIQ Jakarta)

Pendahuluan
Keterbukaan informasi dan komunikasi melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kini berkembang pesat dan telah diatur dalam UU No. 11 tahun 2008 dan No. 14 tahun 2008. Hari ini, hampir setiap orang memegang alat komunikasi canggih; HP atau SmartPhone, sehingga dapat dengan mudah berkomunikasi dan mengakses berbagai informasi.
Selain itu, saat ini muncul juga sebuah media interaksi di alam maya yang disebut dengan Media Sosial atau MEDSOS. Media sosial adalah website dan aplikasi yang digunakan untuk jejaring sosial secara online di dunia maya. Di era Medsos yang semakin canggih, para pengguna (user) dapat berkomunikasi, berinteraksi, saling kirim pesan, dan saling berbagi (sharing), dan membangun jaringan (networking), baik jaringan pertemanan maupun jaringan bisnis. 

Dampak Positif dan Negatif
Dalam kenyataannya perkembangan keterbukaan informasi dan perkembangan media sosial menimbulkan dampak terhadap pengguna dan orang lain baik secara individual maupun kolektif. Dampak tersebut adakalanya bersifat positif, ada pula yang negatif. 
Berikut adalah di antara dampak positif dari keterbukaan informasi dan penggunaan media sosial: 1. Memudahkan penggunanya untuk berinteraksi dengan banyak orang, baik dari dalam maupun luar negeri. 2. Memperluas pergaulan. 3. Jarak dan waktu bukan lagi masalah. 4. Lebih mudah dalam mengekspresikan diri. 5. Membantu pekerjaan, baik individual, maupun perkantoran. 6. Memudahkan pencarian literatur dan bahan-bahan pembelajaran, dan lain-lain. 
Di samping dampak positif, keterbukaan informasi dan media sosial juga memiliki dampak negatif, antara lain: 1. Semakin  maraknya  penipuan, pencemaran nama baik/penghinaan secara terbuka melalui media sosial; 2. Melemahkan dan menurunkan sensitivitas, karena perhatian seseorang lebih tercurah ke dunia maya, dari pada dunia nyata. 3. Membuat waktu terbuang dengan sia-sia. 4. Mengganggu konsentrasi belajar. Karena itu di sebagian lembaga pendidikan dan pesantren, penggunaan HP dan akses terhadap internet dan medsos dibatasi agar tidak mengganggu belajar. 5. Rentan menjadi media penyebaran pornografi; 6. Menjadi instrumen untuk menyuburkan hoax, ujaran kebencian, fitnah, olok-olok, sarana provokasi, agitasi, dan sarana mencari keuntungan politik serta ekonomi. 

Tuntunan Al-Qur’an 
Dampak negatif era keterbukaan informasi melalui intrumen media sosial ini seyogjanya disikapi dengan arif dan bijaksana. Bentuk penyikapan itu salah satunya dapat dipelajari dari Al-Qur’an. Jika kita mengkaji Al-Qur’an, akan ditemukan beberapa kata kunci tentang komunikasi negatif, seperti hoax, fitnah, ujaran kebencian, namîmah dan lainnya. Kata kunci ini pada saat yang sama juga mengisyaratkan tentang pentingnya sikap hati-hati, mawas diri dan cerdas literasi tentang Media Sosial. Diantara kata-kata kunci tersebut adalah:
Kata Kunci Pertama, Qaul Zur (قول الزور) 
Kata “qaul” berasal dari fi’il “qâla – yaqûlu – qaulan” yang berarti berkata–perkataan”. Sedangkan kata “al-zûr” berasal dari fi’il “zâra – yazîru –zûran”, yang berarti bohong, kesaksian palsu. Menurut Ibnu al-Arabî, kullu syai’in min khairin au syarin (segala sesuatu yang baik atau buruk). Namun di dalam perkembangannya, kata ini digunakan untuk makna memperindah suatu kebohongan (tazyînul kidzb).  
Menurut Abu Bakar, ada empat pendapat tentang makna tazwîr yakni: pertama, melakukan kebohongan dengan kepalsuan; kedua, menyamakan, ketiga, menghias dan memperindah, dan keempat, menyiapkan dan memikirkan pembicaraan. Dari makna pertama kemudian muncul istilah syâhid al-zûr (saksi palsu). Keburukan dari kesaksian palsu, (syahâdat az-zûr) digolongkan sebagai salah satu dosa besar, al-kabâ’ir, sebagaimana firman Allah Swt : 
ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦۗ وَأُحِلَّتۡ لَكُمُ ٱلۡأَنۡعَٰمُ إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡۖ فَٱجۡتَنِبُواْ ٱلرِّجۡسَ مِنَ ٱلۡأَوۡثَٰنِ وَٱجۡتَنِبُواْ قَوۡلَ ٱلزُّورِ ٣٠ 
Artinya: “Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu kehara-mannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta”. (QS. Al-Ḥajj : 30)
Dalam ayat ini disebutkan dua perintah Allah, yaitu: (a) Perintah menjauhi perbuatan menyembah patung atau berhala, karena perbuatan itu adalah perbuatan yang menimbulkan kekotoran dalam diri dan sanubari seseorang yang mengerjakannya dan perbuatan itu berasal dari perbuatan setan. (b) Perintah menjauhi perkataan dusta dan larangan melakukan persaksian yang palsu.  Dalam ayat ini, persaksian palsu dan penyembahan berhala disebut secara bersamaan, karena kedua perbuatan itu pada hakikatnya adalah sederajat, keduanya sama-sama berdusta dan mengingkari kebenaran. Disebutkan dalam hadis Nabi saw, bahwa beliau ketika salat subuh setelah memberi salam, beliau berdiri, kemudian berkata : 
عدلت شهادة الزور الإشراك بالله، عدلت شهادة الزور الإشراك بالله،  عدلت شهادة الزور الإشراك بالله (رواه أبو داود عن خريم بن فاتك)
Artinya: “Persaksian palsu sama beratnya dengan mempersekutukan Allah, persaksian palsu sama beratnya dengan mempersekutukan Allah, persaksian palsu sama beratnya dengan mempersekutukan Allah” (HR. Abu Daud dari Khuraim bin Fãtik)
 Dengan demikian dapat dikatakan, qaul zûr adalah suatu komunikasi dan informasi yang membawa dampak negatif, baik terhadap orang lain, maupun terhadap diri pelakunya sebagai akibat dari kebohongannya dan kesaksian palsunya. Kesaksian palsu merupakan salah satu dosa besar, sama dosanya dengan syirik (menyekutukan Tuhan). Karena itu, Media Sosial tidak boleh digunakan sebagai alat untuk menyebar kebohongan dan kesaksian palsu. 
Kata Kunci Kedua, Tajassus dan Ghibah. Kata Tajassus  berasal dari kata “al-Jassu” yang berarti menyentuh dengan tangan, mendeteksi denyut nadi seseorang untuk mengetahui kesehatannya dan memeriksa dengan cara meraba. Dari kata ini muncul pengertian lain seperti menyelidiki, meneliti, memeriksa, mengamati dan memata-matai. Spionase yang bertugas memata-matai musuh disebut “Jâsûs.” Kata al-Jass lebih banyak digunakan pada kejelekan, mencari berita untuk orang lain dengan cara meneliti atau menyelidiki. Dari kata ini kemudian berkembang pula menjadi kata tajassus yang berarti mencari-cari kesalahan orang lain. Mencari kesalahan orang lain biasanya berawal dari prasangka buruk (سوء الظن). Dan dari prasangka buruk kemudian timbul ghîbah. 
Kata ghîbah sendiri terambil dari akar kata ghaib yang berarti tertutupnya sesuatu dari pandangan mata. Karena itu, mata hari ketika terbenam atau seseorang yang tidak berada di tempat juga disebut ghaib. Ghîbah juga berarti gunjing, yaitu menyebut aib orang lain di belakangnya. Masalah ghîbah ini sangat berbahaya dan dapat menimbulkan fitnah. Imam al-Ghazali mengatakan, orang yang tidak mampu menjaga lidah dan banyak berbicara, ia akan mudah membicarakan keburukan orang lain (ghîbah). Berkenaan dengan Tajassus dan Ghîbah ini Allah Swt berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ ١٢ 
Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥujurãt : 12) 
Dalam tafsir Departemen Agama dikatakan, ayat tersebut melarang orang-orang beriman mencari-cari kesalahan, kejelekan dan noda orang lain. Ayat tersebut juga melarang menggunjing atau mengumpat orang lain. Yang dinamakan ghîbah (menggunjing) ialah menyebut-nyebut keburukan orang lain yang tidak disukainya, sedang ia tidak berada di tempat itu, baik dengan ucapan atau isyarat, karena yang demikian itu menyakiti orang yang diumpat. Umpatan yang menyakiti itu ada yang terkait dengan cacat tubuh, budi pekerti, harta, anak, istri, saudara, atau apa saja yang ada hubungannya dengan diri seseorang. Tidak ada perbedaan pendapat antara para ulama, bahwa mencari-cari kesalahan orang lain dan menggunjing itu termasuk dosa besar  dan diwajibkan supaya segera bertobat kepada Allah dan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan.
Sehubungan dengan larangan mencari kesalahan atau aib orang lain dan menggunjing ini Rasulullah Saw bersabda : 
إيّاكم والظن فإن الظن أكذب الحديث ولا تجسّسوا ولا تحسّسوا ولا تناجشوا ولا تباغضوا ولا تحاسدوا ولا تدابروا وكونوا عباد الله إخوانا.  (رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة)
“Jauhilah olehmu berburuk sangka, karena berburuk sangka itu termasuk perkataan yang paling dusta. Dan jangan mencari-cari kesalahan orang lain, jangan buruk sangka, jangan membuat rangsangan dalam penawaran barang, jangan benci membenci, jangan dengki – mendengki, jangan belakang-membelakangi dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah). 
Hadis di atas menerangkan, bahwa tidak boleh membuat gosip, mencari-cari atau meneliti kesalahan-kesalahan atau aib-aib orang, lalu membeberkannya, atau menyebar-luaskannya, atau menggunjingkannya, perbuatan seperti itu haram hukumnya, kecuali bagi orang yang dizalimi, atau demi menegakkan keadilan, atau permintaan fatwa, maka dibolehkan, sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Nisâ’ : 148
لَّا يُحِبُّ ٱللَّهُ ٱلۡجَهۡرَ بِٱلسُّوٓءِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ إِلَّا مَن ظُلِمَۚ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا. 
“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (QS. al-Nisâ’ : 148)
Ayat ini menerangkan bahwa tidak boleh membuat gosip, fitnah, aib, atau keburukan orang lain, kecuali bagi orang yang dizalimi. Bagi al-madzlum dibolehkan untuk membeberkan aib orang lain, seperti pada saat mengemukakan pendapat kepada hakim dalam rangka menegakkan keadilan dan hukum.  Maka di luar itu, tidak ada peluang sedikitpun bagi pengguna media sosial untuk mencari-cari aib orang lain, lalu menggunjingkannya.
Kata Kunci Ketiga, Namîmah. Kata namîmah diambil dari kata kerja Namma-Yanimmu-Namîmatan yang berarti membawa berita bohong dan mengadu domba, atau membawa berita dari seseorang kepada orang lain, atau dari suatu kelompok kepada kelompok lain dengan cara menjelekkannya atau memfitnahnya. Pelakunya disebut nammâm yang berati pengadu domba  yaitu orang yang menyampaikan pembicaraan dari satu orang kepada yang lain dengan tujuan mendatangkan keretakan.  Dari pengertian namîmah, dapat dikatakan, namîmah adalah memprovokasi atau memindahkan, atau menyampaikan suatu berita bohong yang dapat mengadu domba antara perorangan, atau kelompok, kepada orang lain, atau kelompok yang lain, yang menyebabkan keretakan di antara mereka. 
Imam adz-Dzahabî mengatakan, ulama sepakat bahwa mengadu domba (namîmah) hukumnya haram. Karena itu hukuman bagi pelaku namimah adalah neraka, sebagaimana sabda Nabi Saw: 
لا يدخل الجنـة قتات. 
“Tukang mengadu domba itu tidak akan masuk surga” (HR. al-Bukhari)
Dengan demikian, sebaiknya kita lebih berhati-hati ketika mendapatkan berita melalui Media Soial. Jangan terburu-buru menshare berita-berita yang berlum diketahui kebenarannya. Jika sudah diketahui kebenaran, perlu ditimbang dulu apakah berita tersebut mendatangkan manfaat atau justru dapat mendatangkan madarat. 
Kata Kunci Keempat, Sukhriyah. Kata “sukhriyah” (سخرية) berasal dari akar kata sakhira–yaskharu yang berarti merendahkan dan menundukkan. Makna ini kemudian berkembang menjadi antara lain: mengolok-olok, karena hal itu bersifat merendahkan yang lain. Menghinakan, karena biasanya yang demikian menganggap rendah status sosial atau derajat orang yang dihinanya.  
Dari pengertian itu dapat dikatakan bahwa Sukhriyah terbagi kepada dua, pertama; makna dasar yang berarti merendahkan dan menundukkan. Kedua; sukhriyah berarti mengolok-olok, menghina, menghinakan atau tidak menghargai. Berkenaan dengan sukhriyah Allah berfirman dalam QS. Al-Ḥujurât : 11
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ١١ 
Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Ḥujurãt : 11)
Dalam tafsir Kemenag RI dikatakan, sabab nuzūl ayat ini berkenaan dengan tingkah laku Banî Tamîm yang pernah berkunjung kepada Rasulullah SAW, lalu mereka memperolok beberapa sahabat yang fakir dan miskin seperti ‘Ammâr, Suhaib, Bilal, Khabbâb, Salman al-Farisi dan lain-lain, karena pakaian mereka sangat sederhana lalu turunlah ayat tersebut. 
Dalam ayat ini Allah mengingatkan umat Islam (lelaki maupun perempuan) supaya jangan mengolok-olok yang lain, karena boleh jadi, mereka yang diolok-olok itu jauh lebih mulia dan terhormat di sisi Allah dari pada mereka yang mengolok-olok. Menurut al-Maraghi, perbuatan mengolok-olok sangat jelek. Siapa yang tidak bertobat setelah melakukannya, maka ia telah berbuat jahat dan berdosa besar. 

Fatwa MUI
Selain hukum positif dan hukum normatif sebagaimana diisyaratkan Al-Quran di atas, untuk mengatasi dan menyikapi dampak-dampak negatif dari keterbukaan informasi dan media sosial, maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan Fatwa No. 24, Tahun 2017, tentang “Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial”.
Secara umum, Fatwa Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial yang dikeluarkan oleh MUI itu meliputi: a). Pedoman Umum; b). Pedoman verifikasi informasi; c). Pedoman pembuatan informasi; dan d). Pedoman penyebaran informasi di media sosial.
Khusus dalam hal penyebaran informasi melalui media sosial, MUI memfatwakan bahwa konten/informasi yang akan disebarkan kepada khalayak umum harus memenuhi kriteria sebagai berikut: 
a. Konten/informasi tersebut benar, baik dari sisi isi, sumber, waktu dan tempat, latar belakang serta konteks informasi disampaikan; 
b. Bermanfaat, baik bagi diri penyebar maupun bagi orang atau kelompok yang akan menerima informasi tersebut. 
c. Bersifat umum, yaitu informasi tersebut cocok dan layak diketahui oleh masyarakat dari seluruh lapisan sesuai dengan keragaman orang/khalayak yang akan menjadi target sebaran informasi. 
d. Tepat waktu dan tempat (muqtadlal hal), yaitu informasi yang akan disebar harus sesuai dengan waktu dan tempatnya karena  informasi benar yang disampaikan pada waktu dan/atau tempat yang berbeda bisa memiliki perbedaan makna. 
e. Tepat konteks, informasi yang terkait dengan konteks tertentu tidak boleh dilepaskan dari konteksnya, terlebih ditempatkan pada konteks yang berbeda yang memiliki kemungkinan pengertian yang berbeda.
f. Memiliki hak, orang tersebut memiliki hak untuk penyebaran, tidak melanggar hak seperti hak kekayaan intelektual dan tidak melanggar hak privacy. 
Melalui Fatwa ini, MUI menyatakan bahwa tidak boleh menyebarkan informasi yang berisi hoax, ghîbah, fitnah, namîmah, aib, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis yang tidak layak sebar kepada khalayak. Juga tidak boleh menyebarkan informasi untuk menutupi kesalahan, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, membangun opini agar seolah-olah berhasil dan sukses, dan tujuan menyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak. Juga tidak boleh menyebarkan konten yang bersifat pribadi ke khalayak, padahal konten tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan ke ranah publik, seperti ciuman suami istri dan pose foto tanpa menutup aurat.
Menurut Fatwa MUI tersebut, setiap orang yang memperoleh informasi tentang aib, kesalahan, dan atau hal yang tidak disukai oleh orang lain tidak boleh menyebarkannya kepada khalayak, meski dengan alasan tabayyun. Demikian juga setiap orang yang mengetahui adanya penyebaran informasi tentang aib, kesalahan, dan atau hal yang tidak disukai oleh orang lain harus melakukan pencegahan. Pencegahan dimaksud adalah dengan cara mengingatkan penyebar secara tertutup, menghapus informasi, serta mengingkari tindakan yang tidak benar tersebut. 
Sementara itu orang yang bersalah telah menyebarkan informasi hoax, ghîbah, fitnah, namîmah, aib, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis kepada khalayak, baik sengaja atau tidak tahu, harus bertaubat dengan meminta ampunan kepada Allah (istighfar) serta; (a). Meminta maaf kepada pihak yang dirugikan; (b). menyesali perbuatannya; (c). dan komitmen tidak akan mengulangi.
Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa baik Al-Qur’an, hukum positif, maupun fatwa MUI, semuanya melarang umat berkomunikasi tentang sesuatu yang negatif, baik melalui lisan atau tulisan, seperti berkata dusta, ghibah, mengadu domba, menfitnah, dan mengolok-olok orang lain. Era keterbukaan informasi dan kebebasan berekspresi via Medsos tidak berarti mengabsahkan semua berbuatan. Sebagai umat dan warga bangsa yang baik, semua aturan main yang ada, khususnya isyarat Al-Qur’an yang telah dijelaskan di atas, harus ditaati dan diamalkan dengan baik agar tidak menimbulkan keresahan dan perpecahan umat dan bangsa. 

Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan berikut:
1. Keterbukaan informasi dan komunikasi, yang terus berkembang, seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang muncul dan berkembangnya media sosial, telah membawa berbagai perkembangan dan kemudahan dalam berbagai bidang kehidupan
2. Meskipun demikian, keterbukaan informasi dan komunikasi, khususnya dengan berkembangnya media sosial, memiliki dampak negatif. Di antaranya, medsos justru menyuburkan fitnah, hoax, ujaran kebencian, berita bohong, tajassus, ghibah, namîmah dan yang semacamnya, di ruang publik. Sehingga kalau tidak segera diatasi, bisa membahayakan kehidupan bersama. 
3. Al-Qur’an, sebagai kitab hidayah, memberi kunci-kunci petunjuk bagi persoalan-persoalan yang muncul yang diakibatkan oleh berkembangnya keterbukaan informasi sosial, khususnya di media sosial. 
4. Beberapa kata kunci tersebut di antaranya adalah: qaul zûr, tajassus, ghibah, namîmah dan sukhriyah. Dari kata-kata kunci ini, kita bisa memahami, bahwa Al-Qur’an dalam ayat-ayatnya, dengan tafsiran para ulama yang dikuatkan dengan hadis Rasul Saw, mengingatkan kita tentang apa saja yang harus, boleh dan tidak boleh kita lakukan, terkait kebebasan berkomunikasi.
5. Mensikapi dampak negatif kebebasan informasi dan komunikasi di media sosial, MUI telah mengeluarkan Fatwa No. Fatwa No. 24, Tahun 2017, tentang “Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial”. Maka agar mendapatkan penjelasan yang detail soal hukum dan tata cara menyikapi keterbukaan informasi dan Medos dapat merujuk pada fatwa tersebut. 

Artikel Terkait