Khazanah Tafsir Indonesia karya Islah Gus Mian

Judul Buku   : Khazanah Tafsir Indonesia, Dari Hermeneutika hingga Ideologi

Penulis  : Islah Gusmian

Penerbit  : Lkis, Yogyakarta

Tahun : 2013

Tebal    : xxvi + 414 halaman

ISBN    : 978-979-16776-9-1

Kajian Al-Qur’an selalu saja menarik bagi siapapun, terutama umat Islam. Al-Qur’an selalu  menghadirkan dinamika bagi para pembacanya. Selama kurun empat belas abad sejak diwahyukan, telah banyak penafsiran dan penggalian makna Al-Qur’an oleh segenap mufasir. Upaya itu melahirkan hamparan teks-teks kitab tafsir dari segala sudut pandang dari segala bidang keilmuan. Pemahaman Al-Qur’an pada akhirnya melahirkan dinamika keilmuan yang terbentang luas dari bumi ke langit. Kenyataan ini tidak hanya terjadi di kawasan jazirah Arab, tempat diturunkannya Al-Qur’an, tetapi juga di negara-negara lain dimana kajian Al-Qur’an berkembang, termasuk Indonesia.

Sejarah peradaban Islam di Indonesia sejatinya berpijak dari pengamalan Al-Qur’an. Sebab, dalam keimanan Islam, Al-Qur’an dipandang sebagai petunjuk bagi umat manusia yang tak lekang di segala zaman dan tempat. Proses dialektika muslim Nusantara dengan realitasnya yang unik di satu pihak, dengan teks Al-Qur’an sebagai validitas teologis, menghasilkan keberagaman wajah muslim Indonesia. Akulturasi agama Arab dan tradisi Indonesia melahirkan corak lokalitas Islam Nusantara. Keharmonisan itu, menjadi sebab kegandrungan pribumi Nusantara memeluk agama Islam. Secara historis, tradisi  tafsir Al-Qur’an di Indonesia telah terbangun cukup lama, sejalan dengan kemunculan jaringan intelektual muslim Indonesia-Arab. Sebab, sejak abad ke-10, tidak sedikit muslim Nusantara yang menjalankan ibadah haji sembari belajar dan mendalami agama dari para syaikh di Arab.

Tak heran, pada abad ke-16 telah muncul penulisan tafsir. Yakni naskah Tafsir Surah al-Kahfi yang diduga ditulis pada awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) di mana mufti kesultanannya adalah Syams al-Din al-Sumatrani. Satu abad kemudian, lahir karya tafsir Tarjuman al-Mustafid yang ditulis lengkap 30 juz oleh ulama Aceh, Abd al-Raul al-Sinkili (1615-1693 M). Kedua kitab tafsir klasik itu menjadi bukti intelektualitas muslim Nusantara, mengingat masih ada karya lain yang masih terpendam. Pada dekade selanjutnya, muncul kitab tafsir yang dikemas dalam bahasa Melayu-Jawi, yaitu Kitab Faraidl Al-Qur’an. Juga tafsir berbahasa Arab, Tafsir Munir li Ma’alim al-Tanzil, karya ulama asal Banten, Muhammad Nawawi al-Bantani.

 

Tradisi intelektual muslim Indonesia tersebut terus terawat hingga abad ke-21 dewasa ini. Di Indonesia dasawarsa 1990-an telah lahir beragam karya tafsir. Buku yang diadaptasi dari tesis Islah Gusmian ini menelaah secara mendalam khazanah tafsir Indonesia yang muncul selama dasawarsa 1990, dimana ada 24 karya tafsir yang dilahirkan. Secara metodologis, kehadiran buku ini mengkritik buku Popular Indonesian Literature of The Qur’an karya Howard M. Federspiel yang selama ini dijadikan referensi tunggal dan komprehensif tentang kajian Al-Qur’an di Indonesia.

Dengan tegas, buku ini tidak semata-mata memperlihatkan dinamika dan keunikan-keunikan yang terjadi pada karya tafsir di Indonesia satu dasawarsa terakhir. Lebih dari itu, buku ini meneguhkan bahwa karya tafsir bukanlah karya suci yang kedap kritik. Pelbagai kepentingan yang telah didedah dalam karya tafsir tersebut menunjukkan bahwa karya tafsir adalah karya ‘manusia biasa’ yang (sering kali) tidak bisa menghindar dari kepentingan ideologis penafsir dengan ruang-ruang sosial dan sejarahnya.

Secara garis besar, ada dua aspek utama yang dikaji buku ini, yaitu aspek teknis penulisan tafsir Al-Quran dan aspek hermeneutiknya. Islah menyimpulkan tiga horizon baru dalam khazanah tafsir Indonesia. Pertama, penyajian tematik tampaknya menjadi mayoritas. Tapi, dalam wilayah metode tafsir, metode interteks juga menjadi kecenderungan umum. Sedangkan dari konteks pendekatan, kita bisa temukan tren pendekatan kontekstual. Dalam Cahaya Al-Quran: Tafsir Ayat-Ayat Sosial Politik karya Syu’bah Asa, misalnya, mendekatinya dengan kritik politik.

Kedua, tema-tema tafsir yang diangkat selama dasawarsa 1990 sangat dikondisikan oleh perkembangan situasi sosio-historis masyarakat Indonesia. Teologi kebebasan manusia, hubungan sosial antar-umat beragama, kesetaraan gender, dan tasawuf termasuk sebagai tema yang ramai diperbincangkan dalam wacana keilmuan di Indonesia selama dasawarsa 1990. Ketiga, ada beragam perhatian penulis tafsir di Indonesia dalam satu dasawarsa ini. Ada yang secara khusus menaruh perhatian terhadap kajian Al-Quran. Ada juga yang hirau terhadap kajian keislaman secara umum. Bahkan ada yang secara akademik disiplin keilmuannya adalah bidang ekonomi, misalnya Dawam Rahardjo dengan Ensiklopedi Al-Qur’an-nya, dan juga bidang ilmu komunikasi, semisal Jalaluddin Rakhmat dengan Tafsir bil Ma’tsur-nya.

Sumbangan berharga dari buku ini terhadap kajian Al-Quran di Tanah Air tidak hanya terletak pada kekayaan informasi yang dihimpunnya. Lebih dari itu, dengan menggunakan analisis wacana kritis, kajian ini secara kritis mampu menunjukkan bahwa karya tafsir dengan pelbagai bentuknya tidak lepas dari bermacam kepentingan serta beraneka ragam cara representasi terhadap kepentingan tersebut. Tak pelak, Nasaruddin Umar menyebut buku ini menggagas pemetaan paradigma tafsir Indonesia kontemporer.

Muhammad Bagus Irawan, mahasiswa Jurusan Tafsir Hadist Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang

Sumber:  http://wasathon.com/resensi-/view/2014/02/18/-resensi-buku-dinamika-tafsir-indonesia

Artikel Terkait