Dra.Hj. Mursyidah Thahir MA

Mengenal sosok yang sukses dalam karir dan rumah tangga merupakan in­spirasi tersendiri untuk kita dalam me-ngarungi bahtera kehidupan, khususnya kaum hawa yang ingin sukses dunia akhi­rat. Dengan menelusuri tokoh-tokoh yang berhasil, terlintas gambaran dan dapat kita tentukan kemana arah untuk melangkah. Ada pepatah mengatakan, “Apabila Anda ingin sukses, temukan inspirasi Anda dan ikuti jejaknya.”

Dr. Hj. Mursyidah Thahir, MA. adalah salah satu Alumni IIQ Jakarta yang suk­ses. Beliau Mantan Purek III Institut Ilmu Al-Qur’an yang pernah menjabat selama tiga periode lamanya (1995-2010). To­koh perempuan asal kecamatan Muncar, Banyuwangi ini lahir pada 5 Mei 1956 yang merupakan putri dari pasangan ayahanda KH Mohammad Thahir dan ibunda Hj. Taz­kiyah.

Sejak kecil, tepatnya pada usia enam tahun sudah nyantri di Pondok Pesantren Cukir Pimpinan KH Adlan Alie. Di pesantren inilah beliau mengenal apa yang dinamakan tirakat.

Berdasarkan petuah dan nasihat para kiai, puasa Senin-Kamis menjadi amalan yang wajib dilakukannya. Sebab, dengan berpuasa, seseorang diberi kemudahan dalam menerima pelajaran, baik hafalan maupun tulisan. Selain itu puasa juga mampu meningkatkan kecerdasan. “Al­hamdulillah, setelah menerapkan kegiatan ini secara rutin, semua pelajaran dapat saya terima dengan baik, ucap Bu Mursy­idah dalam suatu wawancara.

Ketika duduk di bangku Tsanawiyah, beliau sudah mulai mengaji dan meng­kaji kitab kuning. Bahkan, juga diharuskan menghafal beberapa kitab, sepertiJawahi­rul Bukhari, Riyadhush Shalihin, dan fikih-nya menggunakan Kitab Fathul Muin, dan untuk pelajaran tauhid menggunakan Kitab Irsadul Ibad. Kemudian mendalaminya pada seko­lah tingkat Aliyah.

Selepas Aliyah, beliau masuk ke Univer­sitas Hasyim Asy’ari, Tebuireng Jombang, Fakultas Ushuludin sampai tingkat Sarjana Muda (BA). Selanjutnya beliau pindah ke IIQ Jakarta melanjutkan ke Fakultas Tarbiyah. Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat S1 dan S2 di IIQ, beliau menjadi staf penga­jar dan pemandu tamu-tamu dari luar ne-geri, seperti Malaysia dan beberapa negara lainnya, yang berminat terhadap ilmu Al- Qur`an.

Desember 1983, beliau memutuskan untuk menikah dengan Drs. Yaya Muly­adie Sadikin, dan dianugerahi empat orang anak. Dalam mendidik anak-anaknya, beliau menerapkan pola pendidikan ala pesantren untuk menanamkan moral agama. Dalam kesehariannya, pola pendidikan yang beliau terapkan, setiap hari anak-anak harus mem­baca Al-Qur`an satu sampai dua kali, mini­mal satu kali bakda shalat Maghrib. Bahkan, agar anak-anak betah belajar, disediakan tempat shalat dengan ukuran 5x6 meter dengan suasana yang menyegarkan dan nyaman untuk ditempati dalam waktu lama, terutama untuk belajar. Hal terpenting yang selalu beliau lakukan adalah membangkit­kan gairah membaca pada putra-putrinya.

Konsep keluarga sakinah, menurut be­liau terletak pada ibadah kepada Allah, dan wujudnya adalah shalat. Karena melalui shalat ini kita akan punya tanggung jawab agar tetap berdisiplin dalam menjalankan roda kehidupan yang semakin berat tanta-ngannya di kemudian hari, ujar beliau.

Untuk menciptakan keluarga yang saki­nah, mawaddah, wa rahmah, lagi-lagi pen­didikan agama merupakan yang terpenting dan hal utama yang perlu diterapkan dan harus tetap melekat dalam rumah tangga.

Berdasarkan latar belakang pendidikan keagamaan, kiprahnya di masyarakat sangat berpengaruh. Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia ini juga seorang daiyah. Beliau tidak jarang menghadiri undangan untuk memberi pencerahan atau mengisi pengajian, terutama terkait persoalan fikih dan syariah.

Selain aktif berdakwah, beliau juga ber­profesi sebagai seorang dosen di Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta, Fakultas Ushulud­din, Prodi Tafsir Hadis, dengan Matakuliah Tafsir Al-maraghi. Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama Indonesia ini juga aktif menulis di berbagai media, baik media on­line ataupun media cetak. Sudah banyak karya tulis beliau. Di antaranya, artikel yang berjudul, “Status Kenajisan Bulu dan Tulang dari Bangkai”, “Status Anak di Luar Nikah”, “Anak Harus Dibekali Ilmu Agama yang Kuat”, dan sebagainya.

Selain itu, pengalamannya tidak se­dikit. Beliau pernah menjabat sebagai Wakil Sekjen DPP PPP; Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan IIQ Jakarta (1995-2010); Ketua Bidang Hukum & Advokasi PP Mus­limat NU; Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Pusat; Ketua Pusat Majelis Ta’lim Mar’atus Shalihah; Anggota DSN MUI; Ketua Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) PT. American International Assurance (AIA) In­donesia; Anggota DPS PT Asuransi Tri Pak­arta Syari’ah; Anggota DPS PT AIG Indone­sia; calon legislatif untuk DPR pada Pemilu 2004.

Beliau juga aktif di organisasi ISAI (Ika­tan Sarjana Alumni IIQ Jakarta)—yang ber­tujuan untuk pengembangan, peningkatan kapasitas intelektual, dan aktualisasi.

Dalam kesempatan meeting alumni, be­liau menuturkan pentingnya berwirausaha, “Kita harus bersemangat dalam berwirausa­ha. Selain menambah jaringan yang akan menjadi kekuatan besar, akses ekonomi itu sangat dibutuhkan sebagai kekuatan untuk berjuang dan berdakwah.”

Ibu yang bertempat tinggal di Jl. Cema­ra II 01/02 (Depan Madrasah Nurul Hidayah) Pamulang Barat Tangerang ini, menghim­bau kepada mahasiswa IIQ khususnya, se­lain menghafal Al-Qur`an, para mahasiswa juga diminta aktif melakukan berbagai diskusi tentang isu-isu hangat yang saat ini sedang bekembang untuk dicarikan jalan keluarnya, tentunya dengan menghadir­kan narasumber yang berkompeten dalam bidang yang akan didiskusikan ini.

Sumber: Vivin Pratiwi, Kabar IIQ

Artikel Terkait