Dr. KH. Ahmad Munif Suratmaputra, MA

Beliau adalah Direktur PPS IIQ Jakarta. Beliau lahir di Semarang, 19 November 1952. Latar pendidikannya dimulai dari Pondok Pesantren Futuhiyyah Semarang yang dipimpin oleh KH. Muslih bin Abdurrahman (1965-1972). Dan pernah menjadi ketua pondok selama beberapa tahun di pesantren tersebut.

Beliau melanjutkan studi di Fakultas Syari?ah PTIQ dan Fakultas Syari?ah IAIN—yang sekarang menjadi UIN Jakarta, dan lulus dengan sarjana lengkap (Drs.) pada tahun 1982. Kemudian melanjutkan ke jenjang S2 di IAIN Jakarta pada tahun 1992, dan meraih gelar Doktor (S3) di kampus yang sama (1998).

Sejak tahun 1981 beliau mengabdikan diri di IIQ Jakarta baik sebagai tenaga edukatif maupun struktural. Karir beliau dimulai dari asisten dosen Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML., di Fakultas Syari?ah IIQ Jakarta tahun 1982-1990; sekretaris pribadi (Sekpri) bidang ilmiah Rektor IIQ pada tahun yang sama; menjadi kepala bagian pengajaran IIQ (1982-1984); Purek I bidang akademik IIQ (1984-1994); Dekan Fakultas Syari?ah (1985-1990); Dekan Fakultas Ushuluddin IIQ (1997-2001); Ketua Lembaga Pengkajian Ilmiah IIQ selama dua periode pada tahun 1994-1997 dan tahun 2001-2006. Kemudian ketika Prof. KH. Ali Yafie menjadi Rektor IIQ Jakarta pada tahun 2002-2005, beliau kembali menjabat sebagai Sekpri Rektor IIQ Jakarta. Dan sejak 2006 hingga kini, beliau dipercaya kembali sebagai Purek I di IIQ Jakarta.

Pada tahun 1985 sampai sekarang, beliau juga aktif di Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pada tahun 2007-2009 beliau dipercaya sebagai Wakil Koordinator Tenaga Ahli LPPOM MUI Pusat. Beliau juga menjadi Ketua Dewan Pengawas Syari?ah (DPS) PT. Trust Finance Indonesia, DPS Bank Syari?ah Wakalumi, DPS Asuransi Bintang Unit Syari?ah, dan menjabat sebagai ketua DPS Bank Panin Syari?ah.

Salah satu pengalaman beliau pada tahun 1995 adalah pernah mengikuti Daurah ‘Alamiyah (pendidikan kilat tingkat Internasional untuk para dosen dan ulama dari dunia Islam) di Universitas Al-Azhar Mesir.

Sosok Pecinta Ilmu Ushul Fiqih dan Fiqih Perbandingan ini mempunyai ratusan karya yang ditulisnya, di antaranya Ibrahim Hosen dan Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia (1995); Mengibarkan Panji-Panji Al-Qur’an (2002); Tuntunan Shalat di Pesawat (1990); Tuntunan Shalat Jama’ dan Qashar (1992);Meraih Haji Mabrur (1993); Ash-Shalawat ‘ala Khair al-Bariyyah—yang disusun sewaktu mengikuti Daurah ‘Alamiyah di Mesir (1995). Kemudian Filsafat Hukum Islam al-Ghazali (Pustaka Firdaus, 2002); Masalah-Masalah Fiqih Kontemporer (2005); Kerangka Landasan Pembaharuan Hukum Islam (2005); Al-Qur’an, Tilawah, dan Cara Menghafalnya (2005).

Sejak tahun 80-an beliau aktif menulis di beberapa surat kabar dan majalah Ibu Kota. Di perpustakaan pribadi beliau, terkumpul ratusan makalah yang telah ditulis untuk keperluan seminar dan hasil penelitian, terutama terkait dengan hukum Islam dan masalah-masalah kontemporer yang menjadi hobinya.

Selain di IIQ Jakarta, kesibukan sehari-harinya adalah memimpin Pondok Pesantren Nuruzzahroh yang terletak di Kota Depok, pondok pesantren yang telah dirintisnya sejak tahun 1990. Dan kini beliau tengah membangun Pondok Pesantren Modern Bina Ummah bersama beberapa tokoh Jakarta melalui Yayasan Ponpes Bina Ummah di Cianjur, Jawa Barat.

Beliau mengatakan, “Kita harus menjadi pecinta ilmu, di mana pun dan kapan saja kita berada. Kemudian memperdalam ilmu tersebut, mengamalkan dan memperjuangkannya, khususnya ilmu-ilmu agama Islam. Mahasisiwi IIQ harus selalu bisa menjadi “Hamilul Qur’an” sejati. Selain pandai membaca, menghafal Al-Qur’an dengan baik, juga harus pandai memahami isi kandungannya, mengamalkannya serta memperjuangkannya secara istiqomah dan sungguh-sungguh semata-mata hanya karena Allah swt. Kalau ini dilakukan, dijamin akan meraih kejayaan di dunia dan di akhirat,” ungkap beliau saat diwawancara di kediaman beliau, Depok. Jum?at (16/11).

sumber: Vivin Pratiwi, Kabar IIQ

Artikel Terkait

  • KH. Dr. Ahmad Munif Suratmaputra: Man asad al-yam?
  • Dr. KH. Ahmad Fathoni Lc. MA