Dirjen Bimas Islam: IIQ Jakarta Melahirkan Para Mujahidah Pemberantas Buta Aksara Al-Qur’an

( 30-11-2016 Pukul 18:03:27 WIB )

Berita IIQ Online — Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta bekerja sama dengan Kementerian Agama RI menyelenggarakan kegiatan Pengajian Masyarakat Intelektual dengan tema “Peran Perempuan Dalam Gerakan Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur’an” di Aula Utama Kampus IIQ Jakarta, Rabu (30/11/16).


Seminar yang dibuka oleh Direktur Penerangan Agama Islam Bimas Islam Kemenag RI Dr. Muchtar Ali, M.Hum ini, menghadirkan dua nara sumber yaitu Prof. Dr. Abdul Jamil, MA, Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag RI dan Rektor IIQ Jakarta Prof. Dr. Huzaemah T. Yanggo, MA dengan Moderator Dr. Hj. Umi Khusnul Khotimah, MA.


Dalam sambutannya, Muchtar Ali menyampaikan bahwa tempat dan peserta kegiatan seminar ini sangatlah cocok dengan tema yang diusung. Dia berharap dari IIQ Jakarta akan melahirkan para penggerak kegiatan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an. Fakta menunjukkan bahwa 54 % umat Islam di Indonesia belum bisa membaca Al-Qur’an, oleh karena itu perlu dilakukan gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an secara massif. Tentunya ini memerlukan kerja sama seluruh pihak, tak terkecuali lembaga-lembaga Al-Qur’an.


Nara sumber pertama, Prof. Dr. Abdul Jamil, MA., menyampaikan bahwa untuk mendukung gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an, Kemenag RI telah mencanangkan dua program besar yaitu; Gemar Mengaji dan Magrib Mengaji. “Alhamdulillah, program Magrib mengaji disambut baik dan didukung oleh para Gubernur dan pemimpin daerah di seluruh nusantara, baik melalui Perda maupun edaran. Walikota Bandung pernah melaporkan kepada saya bahwa 1.000 masjid di Kota Bandung telah melaksanakan program Maghrib Mengaji” urainya. Lebih lanjut ia juga menegaskan bahwa peran perempuan sangat strategis untuk isu ini, dan dia meyakini bahwa dari rahim IIQ Jakarta akan lahir mujahidah-mujahidah para pemberantas buta aksara Al-Qur’an. “Buktinya, hari ini para mahasiswi sangat antusias mengikuti seminar ini, sampai-sampai aulanya tidak mampu menampung mahasiswi yang hadir, masya Allah” pujinya.

 

Sementara itu, nara sumber kedua Prof. Dr. Hj. Huzaemah T. Yanggo, M.A., memaparkan peran IIQ Jakarta sebagai penyemai bibit-bibit pejuang Al-Qur’an, baik sebagai hafiz, mufassir, sampai guru ngaji. “Mahasiswi yang masuk ke IIQ ini rata-rata kalau keluar (lulus) mendirikan majlis ta’lim, satu mahasiswi minimal mempunyai 100 santri, kalau alumni IIQ sudah ada sekitar 1500 orang saja, maka bisa kita bayangkan, berapa ribu orang yang bisa dibebaskan dari buta aksara Al-Qur’an oleh IIQ” paparnya di akhir presentasinya. (RF)

Berita Terkait