Islam, Perdamaian dan Batas Toleransi
Kembali
Senin | 29 Juni 2009
Allah SWT menciptakan manusia beraneka ragam, ada laki-laki dan perempuan, ada kaya dan miskin, ada hitam dan putih, ada yang cantik dan jelek. Hikmahnya adalah agar satu mahluk dengan yang lainnya memiliki saling ketergantungan, saling membutuhkan sehingga stabilitas dunia tetap utuh.
Islam merupakan adalah ajaran yang memiliki toleransi yang sangat tinggi kepada penganut agama lain. Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah QS. Al-Baqarah: 256, yang artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Mengapa ada paksaan, padahal Allah tidak membutuhkan sesuatu. Mengapa ada paksaan padahal sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan Allah satu ummat. Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah: 46, yang artinya: “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu”,
Namun jika seseorang sudah memilih agama tertentu maka orang tersebut terikat dengan ajaran agamanya. Dan berkewajiban melaksanakan aturan agama yang dianutnya. Orang yang tidak mengikuti ajaran islam yang benar dikernakan terbawa oleh rayuan Thagut ( orang yang melampaui batas) seperti syaitan, seperti orang dzalim
Dan tidak benar bagi sesama Muslim mengatakan: “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Karena pernyataan tersebut konteksnya dengan orang kafir sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Kafirun, Sebab turunnya surah ini antara lain ada beberapa tokoh kaum musyrik di Makkah seperti al-Walid Bin Mughirah, Aswad Bin Abdul Muthalib, Umayyah Bin Khalaf dating kepada Rasul menawarkan kompromi untuk bergantian mengikuti ajaran masing-masing. Satu tahun menyembah Tuhan ummat Islam dan satu tahun menyembah Tuhan orang musyrik. Mendengar usulan tersebut Nabi menjawab aku berlindung kepada Allah agar tidak mengikuti orang-orang yang menyekutukan Allah SWT. Karena tidak mungkin dan tidak logis penyatuan agama yang berbeda, karena ajarannya yang berbeda.
Kita ummat Islam harus fanatik terhadap ajaran Islam, karena ajaran yang benar hanyalah islam. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam QS. Ali Imran: 19, yang artinya: “ Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab (maksudnya kitab-kitab yang diturunkan sebelum al-Qur'an) kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. Dalam QS. Ali Imran: 85, Allah SWT Berfimran: “Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. Wallahu a’lam bi al-Shawab
Penulis: DR. Anshori, calon guru besar (professor) dalam bidang Tafsir di UIN Syahid dan IIQ
Telah dibaca :113 kali.




