No icon

ORASI ILMIAH WISUDA SARJANA KE-19 DIES NATALIS KE 41 AKTUALISASI NILAI-NILAI AL-QURAN PADA ERA

ORASI ILMIAH WISUDA SARJANA KE-19 DIES NATALIS KE 41 AKTUALISASI NILAI-NILAI AL-QURAN PADA ERA INDUSTRI 4.0

Pertama tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadiran Allah S.W.T karena atas perkenanNya jualah kita dapat  berkumpul ditempat yang mulia ini dalam keadaan sehat walafiat. Shalawat dan salam kita haturkan kepada junjunan kita Nabi Muhamad S.A.W Allahumma shalli ala   Sayyidina Muhammad wa alaa aali  Sayyidina Muhammad. Satu kehormatan yang tinggi bagi saya untuk dapat menyampaikan pemikiran pemikiran yang berkaitan dengan Aktualisasi  Nilai-nilai Al-Quran dalam Era Industri 4.0. Thema ini  menggelitik pertanyaan saya Apakah ada yang berbeda  dalam mengimplementasi nilai-nilai Al-Quran dalam setiap terjadi perubahan peradaban manusia seperti halnya di era industry 4.0 yang telah merubah tatanan hidup manusia. Pada abad 21 ini Ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dengan cepat, semua kejadian didunia secara cepat dapat diketahui dan tak berbatas dimana dunia sudah menjadi sebuah desa global (global village). Dunia hari ini sedang menghadapi fenomena  disruption (disrupsi), situasi di mana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linear. Perubahannya sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru.Gelombang teknologi  yang disrupsi menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif dan disruptif. Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat, hingga pendidikan. Era ini akan menuntut kita untuk berubah dan mampu beradaptasi, dimana nilai nilai Alquran menjadi petunjuk yang universal dan sepanjang waktu bagi kehidupan manusia.Hadirin yang berbahagia,Berbagai diskusi baik  tentang Era Disruptif telah mewarnai berbagai diskusi baik pada level pemerintahan, bisnis, pendidikan bahkan masyarakat pada umumnya. Hal ini dibicarakan karena perannya merubah paradigma berpikir dan bertindak masyarakan agar mereka mampu bertahan hidup. Jika tidak, mereka akan punah atau mati. Disruptif (disruption) sering kali dimaknai sesuatu yang mengganggu, dan untuk tetap mampu bertahan hidup, gangguan tersebut harus disikapi secara bijaksana sesuai zamannya, dimana motivasi dan menjaga kualitas saja tidak cukup. Perusahaan Kodak dan Nokia yang selama ini dikenal sangat ketat mengontrol mutu, bangkrut seketika tanpa dibayangkan dan dipahami oleh pemiliknya seraya berkata Apa salah kami. Tanpa disadarinya banyak competitor tersembunyi yang dari sejak awal berusaha mengalahkannya.Asumsi Charles Darwin, yang menyatakan bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat ditentukan dari kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi sebagai dampak dari proses pembelajaran yang dialaminya. Asumsi tersebut barangkali masih dapat digunakan di era disruptif ini.  Dikatakan, Teknologi baru justru menyebabkan banyak perusahaan besar gagal mengembangkan usahanya, dikutip dari Clayton Christensen (1997) dalam bukunya The Innovatorâs Dilemma.Tidak diragukan lagi, disrupsi akan mendorong terjadinya digitalisasi sistem pendidikan. Munculnya inovasi aplikasi teknologi seperti Uber atau Gojek akan menginspirasi lahirnya aplikasi sejenis di bidang pendidikan. Misalnya MOOC, singkatan dari Massive Open Online Course serta AI (Artificial Intelligence). MOOC adalah inovasi pembelajaran daring yang dirancang terbuka, dapat saling berbagi dan saling terhubung atau berjejaring satu sama lain.Prinsip ini menandai dimulainya demokratisasi pengetahuan yang menciptakan kesempatan bagi kita untuk memanfaatkan dunia teknologi dengan produktif.Sedangkan Artificial Intelligence adalah mesin kecerdasan buatan yang dirancang untuk melakukan pekerjaan yang spesifik dalam membantu keseharian manusia. Di bidang pendidikan, AI akan membantu pembelajaran yang bersifat individual. Dimana AI mampu melakukan pencarian informasi yang diinginkan sekaligus menyajikannya dengan cepat, akurat, dan interaktif. Baik MOOC maupun AI akan mengacak-acak metode pendidikan lama. Kegiatan belajar-mengajar akan berubah total. Ruang kelas mengalami evolusi dengan pola pembelajaran digital yang memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih kreatif, partisipatif, beragam, dan menyeluruh.Evolusi pembelajaran yang ditawarkan oleh MOOC dan AI akan memunculkan pertanyaan kritis, Masih relevankah peran pendidik  ke depan?. Chief Executive Officer TheHubEdu, Tiffany Reiss berpendapat, guru memiliki peran penting dalam melakukan kontekstualisasi informasi serta bimbingan terhadap siswa dalam penggunaan praktis diskusi daring.Jack Ma, pendiri Alibaba, perusahaan transaksi daring terbesar di dunia juga mengatakan, fungsi pendidik pada era digital ini berbeda dibandingkan pendidik masa lalu. Kini, pendidik tidak mungkin mampu bersaing dengan mesin dalam hal melaksanakan pekerjaan hapalan, hitungan, hingga pencarian sumber informasi. Mesin jauh lebih cerdas, berpengetahuan, dan efektif dibandingkan kita karena tidak pernah lelah melaksanakan tugasnya.Fungsi pendidik bergeser lebih mengajarkan nilai-nilai etika, budaya, kebijaksanaan, pengalaman hingga empati sosial karena nilai-nilai itulah yang tidak dapat diajarkan oleh mesin. Jika tidak, wajah masa depan pendidikan kita akan suram. Pendidik perlu untuk memulai mengubah cara mereka mengajar, meninggalkan cara-cara lamanya serta fleksibel dalam memahami hal-hal baru dengan lebih cepat. Teknologi digital dapat membantu guru belajar lebih cepat dan lebih efektif untuk berubah dan berkembang. Diperlukan revolusi peran pendidik sebagai sumber belajar atau pemberi pengetahuan menjadi mentor, fasilitator, motivator, bahkan inspirator mengembangkan imajinasi, kreativitas, karakter, serta team work siswa yang dibutuhkan pada masa depan.Pada dunia kesehatan telah ditemukan teknik baru dalam pengobatan yang mengubah wajah dan kepemimpinan rumah sakit. Faktanya, untuk menguji gula darah, kolestrol, asam urat dan banyak penyakit lainnya tidak perlu mengeluarkan setetes darah, cukup jempol anda ditekan di layar handpone, maka layar handpone anda akan menginformasikan kondisi kesehatan anda secara akurat. Suatu hari nanti, pemimpin dan memilik rumah sakit bukan lagi seorang berprofesi dokter, melainkan para ahli Information Technology (IT).Fenomena lain, di dunia usaha sekarang ini tidak mempersyaratkan ijasah ketika menerima (rekrutmen) pegawainya. Perusahaan tersebut hanya membutuhkan kompetensi sehingga uji kompetensi merupakan tahapan penting. Dampaknya, banyak perguruan tinggi dan sekolah yang dikenal prestesius (ternama) di dunia saat ini mulai goyang dan tidak sedikit tutup, dikutip dari Kavin Carey (2015) dalam bukunya The End of College. Yang berkembang pesat saat ini justru lembaga-lembaga pendidikan nonformal seperti lembaga kursus yang secara nyata memberikan kompetensi kepada peserta didiknya. Untuk mampu bertahan hidup di era disruptif ini, setiap orang dan institusi harus merubah paradigma berpikir dan cara berkehidupan. Anak muda generasi millineal harus mampu melakukan adaptasi terhadap perubahan dengan semangat optimis, berlomba lomba meningkatkan ketrampilan dan kompetensi  yang lebih cermat dan cerdas. Rhenald Kasali (2017) dalam bukunya Disruption mengingatkan, tidak ada yang tidak bisa diubah sebelum dihadapi, motivasi (harapan dan keinginan) saja tidak cukup. Di bagian lain, kembali ia mengingatkan, setiap orang harus tahu posisi dirinya dan tahu harus kemana ia melangkah (where we are, and where we are going to).Kompetensi dan ketrampilan (subject matter) yang harus dimilik oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi yang diperlukan di era disruptif. Terkait dengan kompetensi dan ketrampilan di era disruptif tersebut, penulis kutip pendapat Jeffrey H. Dyer, Hal B. Gregersen, and Clyton M. Christensen (2013) dalam bukunya The Innovatorâs DNA yang mengemukakan 5 (lima) Discovery Skill of True Innovator, yakni; associating; questioning, observing, experimenting, and networking.Sekilas kemunculan era ini buah manis hasil kemajuan sains dan teknologi, namun di sisi lain, apabila tidak disikapi dengan cara yang tidak bisnis usual justru menyisakan sederet permasalahan. Yakni tersingkirkannya peran manusia dan digantikan oleh mesin pintar dan internet. Sebuah ironi yang seharusnya tidak terjadi, bahwa era revolusi industri 4.0 harusnya dijadikan peluang dimana harus diyakini setiap terjadi perubahan pada waktu yang sama terbuka peluang yang besar. Apabila peluang tersebut tidak dapat dimanfaatkan maka dunia harus siap-siap menghadapi problem kemanusiaan yang semakin meningkat, seperti kemiskinan global, kriminalitas meningkat, bunuh diri massal dsb. Sejatinya teknologi hadir untuk membantu manusia dalam menjalankan fungsi utamanya menjadi khalifatul fil ardh. Dengan peran ini, manusia bisa menjaga alam dan makhluk yang lainnya dengan pengaturan terbaik dari Sang Pencipta. Namun, bila kemajuan teknologi justru mengancam eksistensi manusia, maka selayaknya menjadi evaluasi bersama. Tak ada yang salah dengan teknologi. Tapi pemanfaatan teknologi ini butuh didukung sumber daya manusia dan manajerial yang bijak agar kehadirannya bermanfaat bagi manusia. Ramadhani dkk dalam bukunya berjudul Al-Quran vs Sains Modern menurut Dr. Zakir Naik menjabarkan bagaimana ayat-ayat Al-Quran menjelaskan berbagai temuan ilmu pengetahuan seperti awal mula penciptaan (teori Big Bang), ilmu fisika, geografi, oceanografi serta ilmu kehidupan lainnya. Dari hal tersebut, Alquran memperlihatkan bukti-bukti keselarasan dengan ilmu pengetahuan dan kehidupan.Di era ini, faktor kecepatan dan penguasaan teknologi internet mampu mengantarkan siapapun menjadi pemenang, baik di bidang ekonomi maupun politik. Banyak muncul perusahaan online yang bahkan tak mempunyai kantor, namun mampu menguasai pasar. Perusahaan transportasi besar dengan ribuan karyawan pun bisa dengan mudah gulung tikar karena kurang bisa bersaing dengan perusahaan transportasi daring. Clayton M. Christensen menyatakan Disruptive technology should be framed as marketing challenge not a technological one.Hadirin yang berbahagiaDisadari, tentu saja banyak hal terkait pendidikan di era disruptif ini yang tidak mungkin dapat dihadapi oleh mereka yang tidak paham fenomena ini.  Oleh karena itu  diperlukan norma, regulasi, kompetensi dan strategi baru yang dapat mengakselerasikan tatanan kehidupan masyarakat yang komplek dengan tetap berpedoman pada nilai nilai yang terkandung dalam Al-Quran. Meski era disrupsi dan revolusi industri 4.0 memberikan sejumlah dampak terhadap kehidupan manusia saat ini tak terkecuali dunia pendidikan, namun peran pendidik tidak pernah tergantikan oleh kecerdasan buatan. Untuk itu, pendidik mesti terus meningkatkan kompetensi dan melihat tantangan sebagai peluang dalam meningkatkan mutu. Kecanggihan teknologi memudahkan siapa pun memperoleh ilmu pengetahuan secara mudah dan cuma-cuma. Namun, peran mendidik hanya bisa dilakukan oleh pendidik yang tidak hanya meningkatkan kompetensi peserta didik, namun juga mengajarkan nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip kemanusiaan.Para dosen, mahasiswa, dan lulusan dituntut dapat beradaptasi dengan perubahan. Namun proses pendidikan harus menyentuh pada taraf kenyataan sosial yang sebenarnya. Di sisi lain, peningkatan kompetensi dosen dan mahasiswa menjadi hal yang mutlak dilakukan, di samping peran untuk membumikan keilmuan. Ilmu bertujuan untuk memajukan harkat dan martabat manusia dan bukan sebaliknya. Pada tataran pemerintah untuk menghadapi era industri 4.0 telah dan akan terus dilakukan penyesuaian regulasi agar terbangun suasana yang kondusif dalam menghadapi perubahan-perubahan yang memiliki ketidakpastian. Khususnya dalam bidang pendidikan, iptek dan inovasi Menristekdikti (2018) menjelaskan ada lima elemen penting yang harus menjadi perhatian dan akan dilaksanakan oleh Kemenristekdikti untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa yaitu ; 1. Persiapan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal data Infromation Technology (IT), Operational Technology (OT), Internet of Things (IoT), dan big Data Analitic, mengintegrasikan objek fisik, digital dan manusia untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek data literacy, technological literacy and human literacy; 2. Rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif terhadap revolusi industri 4.0 dalam mengembangkan transdisiplin ilmu dan program studi yang dibutuhkan. Selain itu mulai diupayakan program Cyber University, seperti sistem perkuliahan distance learning, sehingga mengurangi intensitas pertemuan dosen dan mahasiswa. Cyber University ini diharapkan menjadi solusi bagi anak bangsa di pelosok daerah untuk menjangkau pendidikan tinggi yang berkualitas; 3. Persiapan sumber daya manusia khususnya dosen dan peneliti serta perekayasa yang responsive, adaftif dan handal untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Selain itu, peremajaan sarana dan prasarana dan pembangunan infrastruktur pendidikan, riset dan inovasi juga perlu dilakukan untuk menopang kualitas pendidikan, riset, dan inovasi; 4. Terobosan dalam riset dan pengembangan yang mendukung revolusi industri 4.0 dan ekosistem riset dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset dan pengembangan di Perguruan Tingi, Lembaga Litbang, LPNK, Industri dan Masyarakat; 5. Terobosan inovasi dan perkuatan sistem inovasi untuk meningkatkan produktivitas industri dan meningkatkan perusahaan pemula berbasis teknologi.Oleh karena itu perguruan tinggi dan lembaga litbang  bukan hanya menjadi pendukung melainkan sebagai motor penggerak untuk memfasilitasi perubahan masyarakat. Untuk itu, perguruan tinggi perlu meningkatkan peran bagi perubahan dan inovasi-inovasi sosial dalam era disruptif ini. Semua itu mesti dilandasi dengan semangat mencintai bangsa dan negara, dengan mengikuti perkembangan tanpa meniggalkan peran utama,
Generasi Milenial di Era Industri 4.0Indonesia akan mendapat anugerah bonus demografi selama rentang waktu 2020- 2035, yang mencapai puncaknya pada 2030. Pada saat itu jumlah kelompok usia produktif (umur 15-64 tahun) jauh melebihi kelompok usia tidak produktif (anak-anak usia 14 tahun ke bawah dan orang tua berusia 65 ke atas).  Bonus demografi ini tercermin dari angka rasio ketergantungan (dependency ratio ), yaitu rasio antara kelompok usia yang tidak produktif dan yang produktif. Pada 2030 angka rasio ketergantungan Indonesia akan mencapai angka terendah, yaitu 44%. Artinya, pada tahun tersebut rasio kelompok usia produktif dengan yang tidak produktif mencapai lebih dari dua kali (100/44). Selama terjadi bonus demografi tersebut komposisi penduduk Indonesia akan didominasi oleh kelompok usia produktif yang bakal menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berbeda halnya dengan Negara-negara maju seperti Jepang, Kanada, atau negara-negara Skandinavia tak lagi produktif karena semakin meningkatnya jumlah penduduk lansia.Struktur penduduk yang ditandai dengan populasi usia muda, maka yang paling berperan mengendalikan negeri ini saat puncak bonus demografi terjadi pada 2030-2035 adalah   anak-anak kita yang saat ini berusia belasan tahun (teens) yang lebih dikenal sebagai generasi millenial. Istilah Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini.Mereka yang termasuk dalam angkatan digital olehpara pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 - 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya.Berdasarkan Infografis Pusat data media Republika, menyebutkan ada sekitar 80 juta millennials lahir pada 1976 2001. Dimana para Millennials rata rata mengalihkan perhatiannya pada PC, smartphone, tablet, dan televisi  27 kali setiap jamnya. Angka ini meningkat dari 17 kali per jam di generasi sebelumnya. Pada urusan bekerja, millennial lebih tertarik memiliki pekerjaan yang bermakna ketimbang sekadar bayaran yang besar. Sedangkan dalam urusan konsumsi hiburan, millennial menghabiskan 18 jam perhari untuk menikmati layanan tontonan on demand, bermain game, atau sekadar menonton televisi konvensional.Secara umum generasi millenial memiliki karakter sangat akrab dengan media dan internet. Mereka juga terbuka terhadap ide dan gagasan orang lain. Namun di sisi lain mereka rawan memiliki potensi karakter negatif seperti kurang peka terhadap lingkungan sosial, pola hidup bebas, cenderung bersikap individualistik, kurang realistis, dan kurang bijak dalam menggunakan media. Generasi milennial yang berilmu, berkualitas, berkemajuan, dan memberi manfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, negara, dan agama sangat diharapkan dalam membangun bangsa dimasa yang akan datang.Di era disrupsi, kehadiran generasi millenial memiliki peluang untuk membuktikan ke benaran ajaran Islam yang universal.  Sebab perubahan bagi Islam adalah sebuah keniscayaan, dan daya kreativitas adalah cara untuk menyiasati, mengelola dan mengarahkan perubahan yang eksponensial ke arah yang lebih beradab, berbudaya, dan berkemajuan. Diperlukan pendekatan khusus untuk mendidik mahasiswa era millenial. Karakter generasi millenial muslim berkemajuan dengan menyadari generasi millenials hanya peduli untuk membanggakan pola hidup kebebasan, hedonis yang juga memiliki visi yang tidak realistis dan terlalu idealistis, yang penting bisa bergaya. Oleh karena itu untuk mencetak generasi milenial menjadi manusia-manusia unggul diperlukan kebijakan dan strategi yang betul-betul mampu membawa Indonesia mencapai masa kejayaan. Manusia-manusia hebat semacam: Zuckerberg, Jobs, atau Musk. Di era disrupsi mereka yang unggul yang dapat menjadi pemenang. Jadi, kemampuan kita  mempersiapkan manusia-manusia unggul selama 15 tahun ke depan akan menentukan keberhasilan kita dalam memanfaatkan celah kesempatan (window of opportunity ) dari bonus demografi. Akan tetapi akan berlaku sebaliknya apabila bonus demografi diisi dengan manusia-manusia yang tidak produktif  pasti kita menyia-siakan kesempatan yang hadir sekali dalam sejarah setiap bangsa ini. Untuk dapat berkompetisi di aras global generasi millennial dalam era abad 21paling tidak harus dapat meningkatkan skill dan kompetensi. Tony Wagner (2008) mengidentifikasi ada tujuh skills yang menjadi penentu kesuksesan anak pada abad 21. Tujuh skills tersebut adalah: 1. Criticalthinking & problemsolving 2. Collaboration across networks & leading by influence 3. Agility & adaptability 4. Initiative& entrepreneurialism 5. Effective oral & written communication 6. Accessing& analyzing information 7. Curiosity & imagination. Untuk bisa memanfaatkan peluang bonus demografi, generasi milenial harus menempa dirinya menjadi sosok generasi masa depan yang tidak saja menjadi generasi pengguna lebih dari pada itu harus menjadi generasi pencipta. Generasi Pencipta memiliki empat kualitas personal yang disebut  4-C: curiosity, critical thinking, collaboration, dan creating.  Namun demikian, skill dan kompetensi yang disebutkan di atas tidaklah cukup untuk menghasilkan generasi milenial Qurani. Sebagai khalifah yang diberikan akal budi sudah selayaknya sebagai generasi milenial Qurâani mampu menjadi motor penggerak bagi peradaban masa kini dan masa yang akan datang. Para mahasiswa yang hari ini telah lulus dan mendalami pengetahuan Al-quran yang lebih mumpuni diantara segenerasinya  harus menjadi agent perubahan. Untuk menjadikan era disrupsi  sebagai peluang untuk dapat melakukan literasi kepada teman segenerasi serta masyarakat pada umumnya dengan memanfaatkan berbagai fasilitas digital yang ada misalnya, mengembangkan berbagai aplikasi  Alquran yang menarik sehingga masyarakat tidak saja bisa membaca tetapi lebih dari pada itu bahwa Alquran sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. Telah banyak kita temui berbagai applikasi yang berkaitan dengan pembelajaran tentang islam, masyarakat dengan mudah menentukan arah Qiblat dan lainnya. Dimana semua ini merupakan implementasi dari pengembangan berbagai teknologi informasi saat ini. Dengan demikian, generasi masa datang diharapkan terpacu untuk mempelajari  ayat ayat Alquran sebagai sumber ilmu pengetahuan.Anak Unggul  Indonesia masa depan yang bisa mengeksplorasi dan memanfaatkan bonus demografi menjadi sumber keunggulan bersaing bangsa.  Institusi Pendidikan menjadi pilar pertama yang menentukan apakah generasi milenial dapat berkompetisi di dunia global. Muhammad Khozin (2018) menyatakan pesantren sangat cocok menjadi tempat penggemblengan santripreneur karena sudah memiliki tradisi kuat. Nilai-nilai entrepreneurship sudah diajarkan dan melebur ke dalam nilai nilai pesantren seperti kemandirian, kreativitas, solidaritas dan lainnya. Di era distrupsi ini tidak cukup hanya sebagai santripreneur tetapi harus lebih maju dan berkembang lagi sebagai santritechnopreneur dimana santri yang memiliki ketangguhan dalam mengambil peluang bisnis yang berbasis teknologi. Santri dengan bekal pendidikan keagamaan yang kokoh tentunya akan mampu menghadapi gelombang perubahan disaat ini dan masa yang akan datang. Apabila diaktualisasikan nilai-nilai Alquran maka peran dan solusi yang terkandung dalam Alquran akan menciptakan tatanan nilai kehidupan masyarakat maka meyakini masyarakat Islam yang sebenar benarnya dalam pesan Al Quran (QS. Al-iImran Ayat 110dan QS Al Baqarah ayat 143). Merupakan masyarakat yang di cita citakan peruwujudan dari umat terbaik yang memiliki posisi dan peran umat tengahan, dan pelaku sejarah dalam kehidupan manusia.Oleh karena itu, dalam rangka menjadikan Al-Qurâan sebagai petunjuk dan pedoman  hidup kita menuju peradaban manusia yang Qurâani, Al-Qurâan haruslah di pahami isinya, dipelajari maksudnya dan diamalkan ajarannya. Sehingga dengan cara ini kita mampu hidup bahagia baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun Negara dan bangsa. Manusia dengan segenap potensi yang dimilikinya mampu untuk memanfaatkan lingkungan sekitarnya untuk sarana bantu dalam mewujudkan tugas dan tanggung jawabnya dimuka bumi (Q.S.2:22) . Untuk itu, Allah telah menurunkan AlQuran dalam mengarahkan manusia memanfaatkan alam untuk sebesar besarnya bagi kemaslahatan umat manusia.Untuk dapat menterjemahkan nilai nilai Alquran dalam kehidupan sehari hari pada era globalisasi yang penuh dengan ketidakpastian , maka ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat menjawab segala ketetapan hukum alam yang dibuat oleh Allah. Melalui iptek manusia dapat berkomunikasi dengan Tuhannya dengan memahami terhadap sunah alam semesta (Q.S. 6:165, 10:101). Dengan demikian, nilai nilai Alquran akan selalu dapat menjawab setiap perubahan yang begitu cepat di dunia ini.Komitmen ini menghendaki kesadaran kolektif untuk menjadikan multifungsi Alquran itu menginspirasi kehidupan umat dan bangsa. Sebagai petunjuk, Alquran harus dibaca untuk memandu kehidupan manusia menuju jalan kebenaran, kedamaian, keselamatan, dan kebahagiaan, bukan dibaca sekadar untuk mendapat pahala akhirat.  Sebagai rahmah, multidimensi ajaran kasih sayang Alquran penting diaktualisasikan dalam rangka mewujudkan Islam rahmatan lil âalamin. Alquran harus berkualitas unggul dan berdaya saing tinggi. Islam sejatinya adalah agama yang sejalan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam pun memberikan apresiasi terhadap perkembangan IPTEK. Beberapa ayat Alquran diantaranya;Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (TQS. Az-Zumar: 9).Allah menganugerahkan Al-Hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur`an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. (TQS. Al-Baqarah: 269). Berdasarkan uraian di atas untuk dapat menghadapi dan melakukan adaptasi terhadap gelombang perubahan yang sangat cepat maka diperlukan generasi milenial qurâani yang tangguh dimana berkualitas dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang selaras dengan aktualisasi nilai nilai yang terkandung dalam Alquran. Allah S.W.T telah melimpahkan rahmat ilmu pengetahuan kepada kita semua. Oleh karena itu sudah selayaknya, kita dapat mengamalkan ilmu pengetahuan yang diberikan sebagai bagian dari ibadah dimana telah tertulis dalam Al quran surat Al-Mujaadilah: 11: Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama) beberapa derajat.. Dengan demikian mengaktualisasikan kembali nilai nilai Alquran dalam kehidupan generasi milenial khususnya dalam menimba iptek maka pada saatnya kebangkitan ilmuwan muslim akan terwujud seperti pada zaman kejayaannya. KesimpulanSejatinya teknologi hadir untuk membantu manusia dalam menjalankan fungsi utamanya menjadi khalifatul fil ardh. Dengan peran ini, manusia bisa menjaga alam dan makhluk yang lainnya dengan pengaturan terbaik dari Sang Pencipta. Namun, bila kemajuan teknologi justru mengancam eksistensi manusia, maka selayaknya menjadi evaluasi bersama . Oleh karena itu, peradaban baru di era digital ini haruslah dijadikan peluang untuk dapat memanfatkan ilmu pengetahuan dan teknologi ini untuk sebesar besarnya bagi kemaslahatan umat manusia. Generasi milenial Qurâani harusnya mampu melewati gelombang perubahan saat ini dan dimasa yang akan datang dengan tetap berpedoman pada nilai nilai Alquran. Untuk menghadapinya diperlukan kerjasama serta kerja cerdas dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan  negara Indonesia maju, negeri yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur.
Wabillahi taufik walhidayahWassalamualaikum Wr.Wb.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah bin Abdul Azis As Saâud. 2017. Alquran dan Terjemahannya.Kavin Carey 2015. End of College: Creating the Future of Learning and the University of Everywhere. Amason.com.Christensen, Clayton M., & Eyring, Henry J. 2011. The Innovative University: Changing the DNA of Highher Education, New York. John Wiley & SonsRamadhani dkk, 2017.Al-Quran vs Sains Modern, Sesuai atau tidak sesuai. Sketsa, JakartaKasali Rhenald, 2017. Disruption Taka da yang tak bias diubah sebelum dihadapi , motivasi saja tidak cukup, Gramedia, JakartaKementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, 2018. Sambutan Menristekdikti pada pembukaan Rakernas 2018, Medan, Sumatra Utara.Khozin Muhammad, 2018. Santri Milenial. Bhuana Ilmu Populer, Gramedia Group. Jakarta.Wagner. Tony. 2008. Seven Survival Skills in 21th century. Harvard University.

Comment