Kajian Kuliah Ramadhan (KURMA) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menghadirkan suasana penuh perenungan ketika tema “Makna Asmaul Husna: Meneladani Sifat-Sifat Tuhan dalam Kehidupan Manusia” disampaikan kepada para mahasantri. Dalam tausiyahnya, Dr. KH. Arrazy Hasyim, MA.Hum., membuka pembahasan dengan pertanyaan sederhana namun menggugah: apakah selama ini umat Islam benar-benar memahami apa yang dibaca ketika melafalkan Asmaul Husna.
Sosok yang akrab disapa Abuya Ar-Rozy ini bukanlah nama asing di kalangan mahasiswa. Dakwahnya kerap hadir di berbagai ruang digital dan media sosial. Dalam kajian tersebut ia tidak langsung menguraikan daftar nama-nama Allah. Ia justru mengajak peserta menyadari satu hal mendasar—bahwa kedekatan dengan Allah tidak dimulai dari hafalan, melainkan dari pemahaman yang hidup dalam kesadaran sehari-hari.
Menurutnya, banyak orang terbiasa membaca Asmaul Husna tanpa berhenti merenungi maknanya. “Seberapa banyak nama Allah yang benar-benar kita pahami, sebanyak itu pula kebahagiaan yang kita rasakan,” ungkapnya, merujuk pada pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Al-Maqsad al-Asna fi Syarhil Asmail Husna. Memahami nama Allah, lanjutnya, bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi proses menyerap nilai-nilai Ilahi dalam sikap dan perilaku manusia.
Pembahasan menjadi semakin mendalam ketika ia menjelaskan perbedaan makna nama Allah yang sering dianggap serupa, seperti Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Ar-Rahman menggambarkan kasih sayang Allah yang meliputi seluruh makhluk tanpa batas, sedangkan Ar-Rahim menunjukkan kasih sayang khusus bagi hamba yang mendekat kepada-Nya. Dari pemahaman tersebut, ia menegaskan bahwa semakin seseorang mengenal Allah, semakin luas pula kasih sayangnya kepada sesama.
Abuya juga mengajak mahasiswa merefleksikan cara manusia memandang takdir dan ujian. Ia menceritakan pertemuannya dengan seorang anak muda yang merasa Tuhan tidak adil meski telah rajin beribadah. Menurutnya, persoalan sering kali bukan pada Tuhan, melainkan pada persepsi manusia terhadap Tuhan. Mengutip hadis qudsi, ia mengingatkan bahwa Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya, sehingga manusia perlu membangun prasangka baik sejak awal hari, bukan memulai pagi dengan kecemasan terhadap hal yang belum terjadi.
Dalam penjelasannya, ia turut meluruskan pemahaman populer tentang 99 nama Allah. Angka tersebut bukanlah pembatas jumlah nama Allah, melainkan penunjuk keutamaan. Nama dan sifat Allah tidak terbatas, sebagaimana kebesaran-Nya yang tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh akal manusia. Karena itu, upaya mencari “nama Allah ke-100” justru dinilai kehilangan esensi utama dari ajaran tersebut.
Mengacu pada pemikiran Imam Al-Ghazali, Abuya menjelaskan bahwa hadis man ahsaha dakhalal jannah tidak hanya bermakna menghafal. Kata ahsaha mencakup dua pendekatan utama: takhalluq dan ta’alluq. Takhalluq berarti meneladani sifat-sifat Allah dalam kehidupan, seperti kasih sayang, kemurahan hati, dan kedermawanan. Sementara ta’alluq adalah menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah pada sifat-sifat-Nya yang absolut dan tidak mungkin ditiru manusia. Ia mencontohkan sifat Al-Karim sebagai kedermawanan yang tetap memberi tanpa menuntut balasan.
Pembahasan tasawuf semakin hidup ketika Abuya menyinggung konsep al-fana dan al-baqa, yakni proses meleburkan ego manusia dalam kesadaran akan kebesaran Allah. Menurutnya, kesombongan tidak dapat dilawan dengan kesombongan baru, melainkan dengan kesadaran bahwa kebesaran sejati hanyalah milik Allah.
Selain aspek spiritual, ia juga menyampaikan refleksi sosial-keagamaan. Abuya mengingatkan bahwa romantisme ingin hidup di zaman Nabi Muhammad SAW tidak otomatis menjadikan seseorang berada di jalan kebenaran. Mengutip nasihat sahabat Abu Darda, ia menegaskan bahwa tidak semua orang yang hidup di masa Nabi menjadi pembela kebenaran; sebagian justru menjadi penentang. Karena itu, umat Islam diajak untuk lebih fokus memperbaiki diri pada masa kini daripada sekadar membayangkan masa lalu.
Ia juga menyoroti bahaya perilaku ghibah dan fitnah, khususnya terhadap guru, ulama, dan pembimbing spiritual. Sikap tersebut diibaratkan sebagai Hammalatul Hatab, pembawa “bahan bakar” permusuhan yang tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga membawa konsekuensi spiritual yang berat.
Di hadapan para mahasiswa, Abuya memberikan motivasi agar masa muda dimanfaatkan sebagai fase terbaik untuk menuntut ilmu. Menurutnya, mahasiswa sedang berada dalam proses “dimandikan cahaya ilmu”, ketika kemampuan berpikir dan menghafal masih berada pada masa paling kuat untuk dibentuk.
Pada bagian akhir kajian, ia menyampaikan apresiasi terhadap sistem pendidikan di IIQ Jakarta yang dinilainya serius dalam pengembangan studi Al-Qur’an. Ia menyoroti keunggulan pembelajaran yang tidak hanya menekankan tahfiz, tetapi juga kajian qira’at secara akademik dan sistematis. Abuya bahkan mendorong pengembangan kelas internasional berbahasa Arab agar kualitas akademik IIQ semakin dikenal di tingkat global dan berpeluang menjadi pusat studi Al-Qur’an bertaraf internasional.
Menutup kajian, ia menegaskan bahwa perjalanan seorang santri dalam berinteraksi dengan Asmaul Husna memiliki tahapan: membaca, menghafal, memahami, lalu mengamalkan. Pesan yang tertinggal bukan sekadar ajakan menambah hafalan, melainkan mengubah cara memandang kehidupan. Ketika seseorang benar-benar mengenal Allah melalui nama dan sifat-Nya, hati menjadi lebih lembut, pandangan lebih lapang, dan kebahagiaan tidak lagi bergantung pada keadaan luar. Bagi para mahasiswa, kajian ini menjadi pengingat bahwa perjalanan mengenal Allah dimulai dari memahami nama-Nya dengan sungguh-sungguh. (FP)






