Menyapa LPMQ: 194 Mahasiswa IAT IIQ Jakarta Dalami Pentashihan dan Kajian Mushaf Al-Qur’an Nusantara

Menyapa LPMQ: 194 Mahasiswa IAT IIQ Jakarta Dalami Pentashihan dan Kajian Mushaf Al-Qur’an Nusantara

Sebanyak 194 mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Semester 6 Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta melaksanakan kunjungan akademik ke Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama RI pada Kamis, 21 Mei 2026. Kegiatan bertajuk “Menyapa LPMQ: Menyelami Kajian Mushaf Al-Qur’an dan Tradisi Pentashihannya” ini berlangsung dengan penuh antusias dan menjadi ruang pembelajaran langsung mengenai dunia pentashihan, manuskrip, hingga perkembangan kajian mushaf Al-Qur’an masa kini.

Kegiatan yang berlangsung di LPMQ Kementerian Agama RI tersebut didampingi oleh dosen IIQ Jakarta, Dr. Istiqomah, MA dan Dr. Ahmad Hawasi, MA. Acara dibagi ke dalam dua sesi, yakni penyampaian materi pada pukul 09.00–12.00 WIB dan kunjungan ke Museum Bayt Al-Qur’an pada pukul 13.00–14.30 WIB.

Pada sesi pertama, mahasiswa mendapatkan pemaparan dari dua narasumber yang merupakan praktisi dan peneliti di bidang kajian Al-Qur’an dan pentashihan mushaf.

Pentingnya Pentashihan Mushaf Al-Qur’an

Ketua Ikatan Pentashih Mushaf Al-Qur’an Indonesia, Dr. H. Deni Hudaeny Ahmad Arifin, menyampaikan wawasan mengenai proses pentashihan mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa pentashihan merupakan proses penting untuk memastikan ketepatan penulisan, tanda baca, hingga kesesuaian mushaf dengan standar resmi yang berlaku di Indonesia.

“Setiap mushaf Al-Qur’an yang beredar harus melalui proses pemeriksaan secara teliti agar terhindar dari kesalahan penulisan yang dapat memengaruhi bacaan maupun pemahaman Al-Qur’an,” ujar Dr. Deni di hadapan para mahasiswa.

Ia juga memperkenalkan profil dan fungsi Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) sebagai Unit Pelaksana Teknis di bawah Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Agama RI. Lembaga tersebut memiliki tugas melaksanakan pentashihan mushaf, terjemah, dan tafsir Al-Qur’an, baik dalam bentuk cetak maupun digital, sekaligus melakukan pembinaan dan pengawasan hasil pentashihan.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Deni turut menjelaskan sejarah penetapan Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 25 Tahun 1984. Standar itu lahir dari Musyawarah Kerja Ulama Al-Qur’an yang berlangsung sejak 1974 hingga 1983 dan menjadi pedoman resmi dalam proses pentashihan mushaf di Indonesia.

Mahasiswa juga diperlihatkan berbagai jenis mushaf Al-Qur’an, mulai dari Mushaf Standar Usmani, Mushaf Bahriyah, Al-Qur’an Braille, hingga Mushaf Isyarat yang menggunakan bahasa Arab isyarat. Penjelasan mengenai tanda baca, tanda waqaf, hukum tajwid, penulisan rasm usmani, hingga berbagai kesalahan yang kerap ditemukan dalam mushaf menjadi perhatian besar para peserta.

“Kesalahan kecil seperti kekurangan titik huruf, harakat, maupun kesalahan terjemahan nama surah dapat memengaruhi makna dan kualitas mushaf Al-Qur’an. Karena itu, ketelitian dalam pentashihan menjadi sangat penting,” jelasnya.

Peluang dan Tantangan Kajian Mushaf Masa Kini

Sementara itu, narasumber kedua, Abdul Hakim, MA, Periset Mushaf Al-Qur’an dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, menyampaikan materi bertajuk “Peluang dan Tantangan Kajian Mushaf Masa Kini.” Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa kajian mushaf Al-Qur’an saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik di dunia Islam maupun Barat.

“Kajian Al-Qur’an masa kini tidak hanya terbatas pada tafsir, tetapi juga mencakup konteks historis, transmisi, kodifikasi, manuskrip, hingga inskripsi Al-Qur’an,” ungkap Abdul Hakim.

Ia menjelaskan bahwa terdapat lima proyek besar riset Al-Qur’an di Barat yang menunjukkan tingginya perhatian dunia internasional terhadap studi mushaf dan tafsir Al-Qur’an. Selain itu, struktur Al-Qur’an seperti kosa kata, komposisi, dan keindahan bahasa juga menjadi fokus penting dalam penelitian kontemporer.

Menurut Abdul Hakim, perkembangan kajian terjemahan dan interpretasi Al-Qur’an terus bergerak mengikuti dinamika zaman. Korpus mushaf pun semakin beragam, mulai dari mushaf kuno, mushaf cetak, mushaf digital, hingga mushaf braille dan mushaf isyarat.

“Mushaf kuno bukan sekadar benda pusaka, tetapi sumber ilmiah yang menyimpan sejarah sosial dan intelektual umat Islam,” katanya.

Ia menambahkan bahwa berbagai kandungan ilmu dalam mushaf kuno, seperti ilmu rasm Al-Qur’an, tanda baca, qira’at, waqaf ibtida’, hingga makki-madani menjadi peluang besar untuk terus diteliti dan dikembangkan.

Dalam pemaparannya, Abdul Hakim juga mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan manuskrip mushaf kuno yang tersebar dari Aceh hingga Ternate dan Nusa Tenggara Timur. Ia menyebut terdapat lebih dari seribu mushaf kuno yang menjadi khazanah penting dalam kajian Al-Qur’an Nusantara.

“Perkembangan mushaf cetak modern dan Al-Qur’an digital menghadirkan peluang penelitian baru, baik dari sisi konten, desain perwajahan, maupun aspek ulumul Qur’an lainnya,” tambahnya.

Ia juga menilai kemunculan Quran Braille, Quran Isyarat, dan Quran Digital sebagai bentuk inovasi sekaligus tantangan baru dalam pengembangan studi mushaf masa kini.

Kunjungan Akademik Jadi Inspirasi Riset Mahasiswa

Dosen pendamping IIQ Jakarta, Dr. Ahmad Hawasi, MA, menyampaikan bahwa kegiatan kunjungan akademik ke LPMQ merupakan agenda rutin tahunan bagi mahasiswa IAT Semester 6. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat besar karena mahasiswa tidak hanya memperoleh teori di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dari para praktisi di bidang kajian mushaf dan pentashihan Al-Qur’an.

“Kegiatan ini rutin tiap tahun berjalan untuk mahasiswa IAT Semester 6. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk para mahasiswa. Selama ini mereka hanya belajar secara teoritis, tetapi dengan adanya kunjungan ini mereka mendapatkan penjelasan langsung dari para praktisi,” ujar Dr. Ahmad Hawasi, MA.

Ia juga menambahkan bahwa kunjungan akademik tersebut mampu membuka wawasan dan memunculkan inspirasi penelitian baru bagi mahasiswa, khususnya dalam bidang kajian mushaf Al-Qur’an.

“Mahasiswa juga bisa mendapatkan inspirasi untuk menulis judul-judul riset seputar kajian mushaf. Terbukti ketika penyusunan skripsi, di antara kajian yang banyak diminati mahasiswa adalah kajian seputar mushaf,” tambahnya.

Menelusuri Jejak Mushaf di Museum Bayt Al-Qur’an

Setelah sesi materi selesai, para mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi Museum Bayt Al-Qur’an dan Istiqlal pada pukul 13.00–14.30 WIB. Di lokasi tersebut, mahasiswa berkesempatan melihat secara langsung koleksi mushaf kuno, manuskrip Al-Qur’an, sejarah penulisan mushaf, hingga perkembangan seni kaligrafi Islam.

Kegiatan ini menjadi sarana edukasi yang memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai penjagaan otentisitas Al-Qur’an di Indonesia. Selain memperluas wawasan akademik, kunjungan tersebut juga menumbuhkan apresiasi terhadap peran para ulama, peneliti, dan pentashih dalam menjaga kemurnian mushaf Al-Qur’an dari generasi ke generasi. (FP)

 

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp