Tangerang Selatan — Sebelum ratusan mahasiswanya diterjunkan ke berbagai wilayah, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta memastikan setiap peserta Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Tahun Akademik 2025/2026 tidak berangkat dengan tangan kosong. Dalam kegiatan Pembekalan dan Pelepasan KKL di Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, Rabu (1/7/2026), empat narasumber dari kalangan akademisi dan pemerintahan bergantian naik podium membagikan bekal ilmu — mulai dari strategi inovasi desa, konservasi lingkungan, ekoteologi dan literasi ZISWAF, hingga teknik dasar membaca Al-Qur’an.
- Mengenal Bogor, Menjadi Duta Inovasi Desa
Sesi pertama diisi oleh Ratna Pratini, S.T., M.M., IPM., Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah BAPPERIDA Kabupaten Bogor, lewat paparan bertajuk “Gambaran Umum Kabupaten Bogor, Duta Inovasi Desa, dan Gelar Inovasi Daerah”. Ia membuka sesi dengan memperkenalkan wajah Kabupaten Bogor, wilayah dengan jumlah penduduk pada 2025 mencapai lebih dari 5,7 juta jiwa yang didominasi generasi produktif.
“Komposisi penduduk Kabupaten Bogor didominasi oleh generasi produktif, mulai dari Generasi Milenial, Generasi Z, hingga Generasi Alpha. Ini adalah modal besar bagi pembangunan daerah, dan bonus demografi ini harus benar-benar kita manfaatkan,” ujar Ratna di hadapan ratusan mahasiswa.
Namun di balik potensi besar itu, ia tak menutupi sejumlah tantangan pembangunan yang masih dihadapi Kabupaten Bogor: kemiskinan, pengangguran, ketimpangan pembangunan antarwilayah, hingga Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang menurutnya masih perlu terus didorong. “Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya membutuhkan kebijakan pemerintah, tetapi juga dukungan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi melalui kegiatan pengabdian masyarakat,” tegasnya.
Pada bagian inti paparannya, Ratna memperkenalkan program Duta Inovasi Desa — sebuah program yang mengintegrasikan kegiatan KKL IIQ Jakarta dengan pengembangan inovasi di tingkat desa. “Perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai penggerak inovasi sekaligus pendamping masyarakat dalam merancang solusi atas berbagai persoalan sosial, ekonomi, maupun lingkungan yang dihadapi desa,” jelasnya, seraya menekankan bahwa konsep ini bertumpu pada kolaborasi pentahelix antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, masyarakat, dunia usaha, media, dan komunitas.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa dapat mengikuti program ini mulai dari sosialisasi dan pendaftaran melalui platform Klinik Inovasi, hingga seleksi dan presentasi inovasi di hadapan juri. “Duta Inovasi Desa adalah platform strategis untuk meningkatkan jumlah inovasi daerah dan memastikan implementasi inovasi terbaik secara berkelanjutan,” ujarnya.
2. Konservasi Lingkungan Sebagai Amanah Khalifah
Materi berikutnya disampaikan Roby Ruhyadi, S.KM., M.Sc., Ph.D., Kepala Bidang Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor, lewat paparan “Akselerasi Gerakan Penanaman Pohon di Kabupaten Bogor Melalui Peningkatan Sinergi Antar Pihak”. Ia mengajak mahasiswa memandang konservasi lingkungan bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan bentuk tanggung jawab moral, spiritual, dan sosial.
“Manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi yang memiliki amanah untuk memelihara dan menjaga kelestarian alam, bukan sebagai pemilik mutlak yang bebas mengeksploitasi sumber daya,” ujar Roby.
Ia memaparkan sejumlah tantangan lingkungan yang dihadapi Kabupaten Bogor akibat alih fungsi lahan yang masif, mulai dari banjir musiman di wilayah hilir, longsor di kawasan hulu, hingga persoalan sampah yang kian mendesak. Sebagai respons, pemerintah daerah pun memperkuat kebijakan penanaman pohon dan pengawasan lingkungan di setiap kecamatan.
“Ada tiga pilar konservasi yang harus dijalankan secara berimbang: perlindungan sistem penyangga kehidupan, pemanfaatan sumber daya alam secara lestari, dan pelestarian keanekaragaman hayati,” papar Roby.
Sebagai bekal praktis, ia memperkenalkan sejumlah program yang bisa direplikasi mahasiswa di lokasi KKL, seperti pembuatan lubang biopori dan sumur resapan, gerakan Rainwater Harvesting, penguatan Bank Sampah, hingga penanaman pohon penyerap air. “Keberhasilan program konservasi tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat,” tegas Roby.
“Pohon yang ditanam hari ini bukan hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi warisan bagi anak cucu,” pesan Roby menutup sesinya.
3. Ekoteologi, Buta Aksara Al-Qur’an, dan Literasi ZISWAF
Giliran Dr. Hendra Kholid, S.Ag., M.A., dosen IIQ Jakarta, mengulas konsep pelaksanaan KKL, program prioritas, hingga etika mahasiswa selama pengabdian.
“Tema besar KKL tahun ini tidak boleh hanya menjadi slogan. Tema ini harus diwujudkan melalui tiga program prioritas yang wajib diintegrasikan dalam setiap kegiatan mahasiswa di lapangan, yaitu ekoteologi, pemberantasan buta aksara Al-Qur’an, serta literasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf,” tegas Hendra.
Pada program ekoteologi, ia menjelaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari keimanan dan bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Ia mendorong mahasiswa melaksanakan program nyata seperti gerakan penanaman pohon, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, dan pembentukan bank sampah di lokasi KKL.
Untuk program pemberantasan buta aksara Al-Qur’an, Hendra mengungkap temuan penelitian IIQ Jakarta yang menunjukkan mayoritas responden belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. “Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa 72,25 persen responden ternyata belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Ini adalah pekerjaan rumah besar yang harus kita jawab bersama lewat KKL,” ujarnya, mendorong mahasiswa mengajar mengaji, mendampingi TPA/TPQ, hingga membuka kelas tahsin selama pengabdian.
Pada program literasi ZISWAF, ia memaparkan bahwa potensi zakat nasional masih jauh lebih besar dibanding realisasi penghimpunannya saat ini. “Digitalisasi menjadi salah satu kunci optimalisasi pengelolaan ZISWAF, sehingga penghimpunan dana bisa dilakukan lebih transparan dan efektif,” jelas Hendra, seraya mendorong mahasiswa menyelenggarakan sosialisasi zakat dan pendampingan UMKM berbasis zakat selama KKL.
Di penghujung materinya, Hendra mengingatkan pentingnya menjaga nama baik almamater dan etika selama berada di lokasi KKL. “Program KKL yang baik harus memiliki empat unsur: menarik, bermanfaat, kreatif, dan kolaboratif,” pungkasnya.
4. Teknik Dasar Mengajar Membaca Al-Qur’an
Sesi pembekalan ditutup oleh Dr. Abdul Rosyid, MA yang membawakan Bimbingan Teknis Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur’an, dirancang untuk membekali mahasiswa dengan metode dasar pengajaran membaca Al-Qur’an yang bisa langsung diterapkan di lapangan.
Materi inti masuk ke pembahasan Makharijul Huruf, yaitu tempat keluarnya setiap huruf hijaiyah yang menjadi aspek krusial dalam ilmu tajwid. Menurutnya, makharijul huruf terbagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan organ ucap, mulai dari tenggorokan, lidah, hingga bibir. “Bekal ini menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk menjadi fasilitator pembelajaran Al-Qur’an di tengah masyarakat” tutup Dr. Rosyid
Dengan empat bekal ilmu yang komprehensif, mulai dari inovasi desa, konservasi lingkungan, ekoteologi dan ZISWAF, hingga teknik membaca Al-Qur’an, mahasiswa IIQ Jakarta diharapkan siap terjun ke masyarakat sebagai agen perubahan. (FP)





