Penelitian dan pengabdian ditempatkan sebagai penggerak transformasi: dari penguatan SDM dan tata kelola hingga publikasi, hilirisasi, dan manfaat nyata bagi masyarakat. Riset dan Pengabdian sebagai Mesin Dampak

Di perguruan tinggi, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat tidak seharusnya berhenti sebagai kewajiban administratif. Keduanya adalah mesin yang menghubungkan pengetahuan, ruang kelas, dan kebutuhan nyata masyarakat. Semangat inilah yang tampak dalam Rencana Strategis Lembaga Penelitian dan Pengkajian Ilmiah (LPPI) dan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPKM) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta periode 2020-2024. Dokumen tersebut menempatkan penelitian dan pengabdian sebagai bagian penting dari perjalanan IIQ Jakarta menuju visi jangka panjang: menjadi perguruan tinggi Islam bereputasi global dengan keunggulan berbasis Al-Qur’an pada 2044.

Fondasi itu tumbuh dari karakter khas IIQ Jakarta. Sejak berdiri pada 1977, institusi ini memadukan pendidikan tinggi dan tradisi pesantren, dengan kekuatan pada kajian Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman. Dalam struktur kelembagaan, LPPI mengelola penelitian dosen, mahasiswa, serta kolaborasi keduanya, sedangkan LPKM berfokus pada pengabdian kepada masyarakat. Keduanya berada langsung di bawah koordinasi pimpinan institut sehingga agenda riset dan pengabdian diarahkan untuk mendukung tujuan strategis IIQ secara menyeluruh.

Membaca Titik Awal

Titik awal Renstra menunjukkan modal akademik yang cukup kuat, sekaligus ruang pengembangan yang besar. Pada 2019, IIQ Jakarta memiliki 77 dosen: 29 berkualifikasi doktor, 25 magister, dan 23 sedang menempuh pendidikan doktoral. Dari sisi sertifikasi, 22 dosen tercatat telah memiliki sertifikasi pendidik. Komposisi ini memperlihatkan adanya basis sumber daya manusia yang dapat terus didorong untuk meningkatkan kualitas riset, publikasi, dan kontribusi akademik.

Visual 1. Baseline akademik, publikasi, sitasi, dan sertifikasi dosen.
Sumber data: Renstra LPPI & LPKM IIQ Jakarta 2020–2024.

Perkembangan publikasi juga memberi sinyal positif. Jumlah publikasi dosen meningkat dari 38 pada 2018 menjadi 41 pada 2019. Pada periode yang sama, jumlah sitasi naik dari 291 menjadi 375. Kenaikan sitasi yang lebih cepat daripada jumlah publikasi menjadi indikator bahwa karya ilmiah IIQ mulai memperoleh perhatian yang lebih luas. Namun Renstra juga mencatat tantangan kualitas: publikasi masih banyak terkonsentrasi pada jurnal nonindeks dan jurnal Sinta 4-6, sedangkan publikasi pada jurnal bereputasi tinggi masih terbatas.

Situasi serupa terlihat pada ekosistem jurnal internal. Pada 2019, IIQ Jakarta memiliki 11 rumah jurnal. Sebagian besar masih berstatus non-Sinta, sementara beberapa telah mencapai Sinta 5 dan Sinta 6. Karena itu, peningkatan akreditasi jurnal ditempatkan sebagai salah satu sasaran penting. Renstra bahkan menetapkan target bertahap agar persentase jurnal yang minimal terakreditasi Sinta 5 terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dari Output ke Ekosistem

Agenda 2020-2024 kemudian diarahkan bukan sekadar untuk menambah jumlah kegiatan, tetapi memperkuat keseluruhan ekosistem. Pada bidang penelitian, strategi mencakup penguatan kemampuan dosen memperoleh hibah, peningkatan manajemen riset, perluasan kerja sama, peningkatan publikasi nasional terakreditasi dan internasional, pengembangan budaya meneliti, penguatan kapasitas penulisan ilmiah, penyebarluasan hasil riset, integrasi data penelitian, hingga peningkatan kekayaan intelektual dan hilirisasi hasil penelitian.

Pada bidang pengabdian, orientasinya semakin dekat dengan konsep evidence-based community service. LPKM diarahkan untuk mengembangkan kelompok pengabdian, membangun pusat pelayanan berbasis kearifan lokal, memperbanyak publikasi hasil PKM, memperkuat kerja sama nasional dan internasional, serta meningkatkan kegiatan pengabdian yang bersumber dari hasil penelitian. Dengan pendekatan ini, pengabdian tidak lagi berdiri terpisah dari aktivitas akademik, tetapi menjadi ruang penerapan pengetahuan yang dapat memberikan solusi nyata bagi masyarakat.

Visual 2. Alur strategis dari penguatan kapasitas menuju pengabdian berbasis bukti.
Visualisasi interpretatif berdasarkan arah kebijakan dan strategi Renstra.

Renstra juga menegaskan bahwa kualitas program harus ditopang tata kelola yang sehat. LPPI dan LPKM mengadopsi prinsip good university governance dengan perhatian pada akuntabilitas, transparansi, penjaminan mutu, efektivitas, dan efisiensi. Delapan sasaran strategis dirumuskan, mulai dari tata kelola jurnal, kualitas penelitian, kualitas publikasi, dukungan pendanaan dan sarana, produktivitas riset dan PKM, penguatan kerja sama, sampai pembenahan sistem kelembagaan.

“Reputasi dibangun ketika penelitian memiliki mutu, terhubung dengan jejaring yang lebih luas, diterjemahkan menjadi manfaat, dan dikelola secara konsisten.”

 

Target Terukur, Program Konkret

Visual 3. Delapan sasaran strategis yang menghubungkan riset, publikasi, PKM, kerja sama, dan kelembagaan.
Sumber: Sasaran Renstra LPPI & LPKM IIQ Jakarta 2020–2024.

Visual 4. Target capaian indikator utama pada 2024.
Sumber data: tabel indikator kinerja Renstra LPPI & LPKM IIQ Jakarta 2020–2024.

 

Target kinerja memperlihatkan bagaimana strategi tersebut diterjemahkan menjadi ukuran yang lebih konkret. Untuk 2024, partisipasi dosen dan mahasiswa dalam pengajuan proposal riset atau konferensi ditargetkan mencapai 80 persen. Dukungan alokasi penelitian dan kegiatan coaching clinic penulisan ilmiah juga diarahkan hingga 80 persen, sedangkan indikator publikasi berkualitas dan kerja sama PKM ditargetkan mencapai 68 persen. Penguatan tata kelola jurnal, kolaborasi penelitian-PKM, dan manajemen lembaga masing-masing diarahkan pada kisaran 75 persen. Target bertahap ini penting karena memberi jalur evaluasi yang jelas, bukan sekadar daftar harapan.

Rencana kegiatan juga menunjukkan pendekatan yang praktis: kajian ilmiah berkala, pengembangan roadmap penelitian, studi banding, lokakarya strategi riset, workshop hilirisasi, pembinaan peneliti muda, bantuan pengurusan kekayaan intelektual, hibah penelitian, hingga program desa binaan melalui KKN. Kerja sama PKM dengan pemerintah daerah, lembaga, dan organisasi kemasyarakatan ditempatkan sebagai salah satu kanal untuk memastikan pengetahuan kampus hadir di tengah persoalan sosial. Dengan demikian, penelitian, publikasi, kekayaan intelektual, dan pengabdian dirancang sebagai mata rantai yang saling menguatkan.

Reputasi Global Dimulai dari Tata Kelola yang Konsisten

Pada akhirnya, reputasi global tidak lahir hanya dari banyaknya publikasi atau kegiatan pengabdian. Reputasi dibangun ketika penelitian memiliki mutu, terhubung dengan jejaring yang lebih luas, diterjemahkan menjadi manfaat, dan dikelola secara konsisten. Renstra LPPI dan LPKM IIQ Jakarta 2020-2024 menunjukkan arah itu: membangun budaya akademik yang kuat, Qur’ani, kolaboratif, dan berdampak. Fondasi tersebut menjadi penting agar kekhasan IIQ Jakarta tidak hanya dikenal sebagai identitas, tetapi berkembang menjadi kontribusi ilmiah dan sosial yang relevan bagi Indonesia dan dunia.

Catatan sumber. Artikel dan seluruh visualisasi disusun berdasarkan Rencana Strategis Lembaga Penelitian dan Pengkajian Ilmiah (LPPI) dan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPKM) IIQ Jakarta Tahun 2020–2024. Visual 2 merupakan penyajian interpretatif atas arah kebijakan yang tertulis dalam dokumen.

ARTIKEL WEBSITE  •  RENSTRA LPPI & LPKM IIQ JAKARTA 2020–2024