Dari Tradisi Al-Qur’an ke Transformasi Digital Potret Dinamika Riset Dosen IIQ Jakarta dalam Tiga Siklus Akademik

Sebanyak 98 judul penelitian dalam tiga siklus memperlihatkan bagaimana kekuatan kajian Al-Qur’an dan keislaman bertemu dengan AI, digitalisasi, ekonomi syariah, pendidikan, budaya, dan isu sosial baru.

Riset yang Tumbuh Bersama Perubahan Zaman

Spreadsheet Rekap Penelitian Dosen IIQ Jakarta 2023-2025 memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar daftar judul dan nominal pembiayaan. Di balik baris-baris data itu terlihat arah perkembangan budaya riset: tetap kuat pada kajian Al-Qur’an dan keislaman, tetapi semakin terbuka terhadap isu digital, kecerdasan artifisial, ekonomi syariah, perlindungan konsumen, pendidikan, budaya, hingga problem sosial kontemporer. Dalam tiga siklus akademik yang direkap, terdapat 98 judul penelitian. Nilai pembiayaan yang tercantum mencapai sekitar Rp565,95 juta, belum memasukkan nominal lima penelitian mandiri pada 2024/2025 karena angka pembiayaannya tidak dicantumkan dalam lembar rekap.

CATATAN DATA  Total pembiayaan Rp565,95 juta adalah nominal yang tercantum pada workbook. Lima penelitian mandiri 2024/25 tidak memiliki nominal pembiayaan pada lembar rekap.

 

Tiga Siklus: Turun, Lalu Menguat Kembali

Pada 2023/2024, tercatat 35 judul penelitian dengan total pembiayaan Rp219 juta. Seluruhnya bersumber dari perguruan tinggi. Komposisinya didominasi penelitian individu sebanyak 32 judul, sedangkan tiga lainnya merupakan penelitian kelompok. Tema-temanya memperlihatkan spektrum yang luas: kosmetik halal, perlindungan konsumen dalam transaksi marketplace, akad musyarakah mutanaqisah, pengelolaan zakat, tafsir dan qira’at, moderasi beragama, pendidikan anak usia dini, literasi TIK guru, sampai inovasi pembelajaran menghafal Al-Qur’an berbasis AI. Tahun ini dapat dibaca sebagai fondasi yang mempertemukan kekhasan keilmuan IIQ dengan isu-isu yang semakin aktual.

Siklus 2024/2025 mencatat 27 judul. Dari jumlah tersebut, 22 penelitian menggunakan sumber pembiayaan perguruan tinggi dan lima lainnya dicatat sebagai penelitian mandiri. Total nominal pembiayaan yang tercantum untuk 22 penelitian mencapai Rp143,5 juta. Walaupun jumlah judul menurun dibanding tahun sebelumnya, keragaman isu justru semakin terasa. Penelitian mulai menyentuh persepsi mahasiswa terhadap ChatGPT, peran chatbot AI pada pembelajaran anak usia dini, digitalisasi pembelajaran, komunikasi agama dan budaya, Humanitarian Islam di tengah digitalisasi informasi, kepatuhan sertifikasi halal UMKM, hingga kinerja organisasi pengelola zakat.

Pada 2025/2026, jumlah penelitian kembali meningkat menjadi 36 judul, atau naik sekitar 33 persen dibanding siklus sebelumnya. Nominal pembiayaan yang tercantum mencapai Rp203,45 juta. Tema riset juga menunjukkan perluasan yang menarik: digitalisasi hukum ekonomi syariah, bioetika dan kepatuhan syariah di rumah sakit, e-governance zakat-wakaf, ekoteologi Al-Qur’an, transformasi pengajian melalui TikTok dan Roblox, kematangan digital pendidikan tinggi, perlindungan konsumen dalam jual beli online, resiliensi digital siswa, hingga pendidikan lingkungan berbasis nilai Islam.

Visual 1. Jumlah judul dan nominal pembiayaan yang tercatat per siklus. Sumber: Rekap Penelitian Dosen IIQ Jakarta, diolah.

Portofolio yang Tidak Bertumpu pada Satu Bidang

Jika nama program studi dinormalisasi ke dalam rumpun utama, bidang Pendidikan Agama Islam menjadi penyumbang judul terbanyak selama tiga siklus dengan sekitar 33 penelitian. Berikutnya adalah Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir 19 judul, Hukum Ekonomi Syariah 13 judul, Pendidikan Islam Anak Usia Dini 11 judul, Komunikasi dan Penyiaran Islam 10 judul, serta Manajemen Zakat dan Wakaf tujuh judul. Lima judul mandiri pada 2024/2025 tidak mencantumkan program studi pada kolom data. Komposisi ini menunjukkan bahwa aktivitas penelitian tidak terkonsentrasi pada satu bidang saja, melainkan tersebar pada rumpun keilmuan yang beragam.

Visual 2. Sebaran 98 judul berdasarkan normalisasi rumpun program studi. Sumber: workbook rekap, diolah.

Perubahan juga terlihat ketika tiap rumpun dibaca dari waktu ke waktu. Kajian Hukum Ekonomi Syariah, misalnya, bergerak dari isu akad, halal, dan perlindungan konsumen menuju digitalisasi hukum, tata kelola, pemberdayaan ekonomi umat, dan persoalan bioetika. Di ranah pendidikan, tema kurikulum, karakter, tahfiz, dan pembelajaran berkembang berdampingan dengan AI, teknologi pembelajaran, resiliensi digital, dan ekopedagogi. Sementara kajian Al-Qur’an dan Tafsir tetap kuat pada qira’at, tafsir, manuskrip, serta tradisi Nusantara, tetapi mulai berinteraksi dengan isu lingkungan dan platform digital. Pola ini membuat riset tampak semakin kontekstual tanpa kehilangan basis keilmuannya.

Ketika Tema Digital Masuk ke Banyak Disiplin

Yang menarik adalah cara isu digital masuk ke berbagai disiplin. Teknologi tidak hadir sebagai tema yang berdiri sendiri, tetapi bersinggungan dengan pendidikan, dakwah, tafsir, hukum, filantropi Islam, dan perlindungan konsumen. Pada saat yang sama, tema-tema Al-Qur’an tetap menjadi benang merah yang kuat. Dengan kata lain, data rekap memperlihatkan kecenderungan integratif: tradisi keilmuan tidak ditinggalkan ketika isu baru datang, melainkan digunakan sebagai perspektif untuk membaca perubahan sosial dan teknologi.

Visual 3. Contoh evolusi isu penelitian berdasarkan judul pada masing-masing siklus; bersifat ilustratif, bukan klasifikasi eksklusif.

Dari Rekap Administratif menuju Portofolio Pengetahuan

Dari sisi kelembagaan, angka pembiayaan yang tercatat juga memberikan gambaran adanya dukungan terhadap kesinambungan riset. Setelah Rp219 juta pada 2023/2024, nominal tercatat turun menjadi Rp143,5 juta pada 2024/2025, lalu kembali naik menjadi Rp203,45 juta pada 2025/2026. Perubahan ini perlu dibaca bersama variasi jumlah penelitian dan keberadaan penelitian mandiri, bukan sebagai ukuran kualitas semata. Namun, data tersebut tetap penting sebagai indikator kapasitas program dan bahan untuk merencanakan prioritas pembiayaan berikutnya.

Nilai strategis rekap akan semakin besar apabila data tahunan tidak hanya berfungsi sebagai administrasi, tetapi juga sebagai dasar pengelolaan portofolio penelitian. Tema-tema yang berulang dapat dikembangkan menjadi klaster riset; penelitian lintas program studi dapat diperluas; dan hasil riset dapat ditelusuri lebih lanjut sampai pada publikasi, HKI, buku, policy brief, atau dampak pengabdian kepada masyarakat. Dengan begitu, kesinambungan antara judul, pembiayaan, luaran, dan manfaat dapat terlihat lebih jelas.

Potret tiga tahun ini memperlihatkan satu arah penting: riset IIQ Jakarta bergerak dari kekuatan disiplin menuju percakapan lintas isu. Al-Qur’an, pendidikan, hukum ekonomi syariah, dan dakwah tetap menjadi identitas, sementara digitalisasi, AI, ekonomi halal, lingkungan, kesehatan mental, dan tata kelola menjadi ruang baru untuk memperluas relevansi. Bila kesinambungan tema, kolaborasi, dan luaran dapat terus diperkuat, rekap penelitian bukan hanya menjadi arsip tahunan, melainkan peta tumbuhnya ekosistem pengetahuan yang responsif terhadap zaman.

98 judul • Rp565,95 juta pembiayaan tercatat • 3 siklus akademik • spektrum isu yang terus meluas

Visual 4. Peluang penguatan yang disarikan dari pola rekap penelitian; bersifat interpretatif.

ARTIKEL WEBSITE  |  LPPI IIQ JAKARTA