SAMARKAND, UZBEKISTAN — Komitmen Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta dalam menguatkan kontribusi riset di kancah internasional kembali terwujud. Dua akademisi IIQ Jakarta, Dr. Samsul Ariyadi dan Dr. Ahmad Hawasyi, sukses merampungkan program fellowship riset internasional di Uzbekistan. Capaian ini ditandai dengan diseminasi hasil penelitian mereka di hadapan jajaran pimpinan dan peneliti Imam Bukhari International Scientific Research Center, Uzbekistan, pada Kamis (27/8/2026).
Presentasi ini menjadi puncak agenda akademik sekaligus momentum penting dalam rangkaian program riset fellowship yang dijalani kedua peneliti di kawasan bersejarah Asia Tengah tersebut. Di hadapan jajaran pimpinan, peneliti, dan sivitas akademika Imam Bukhari Center, diseminasi ini membuka ruang dialog interaktif yang mempertemukan tradisi keilmuan Islam Nusantara dengan khazanah keislaman Asia Tengah.
Menelusuri Jejak Ṣaḥīḥ al-Bukhārī hingga Kultur Jawa
Dalam forum ilmiah tersebut, Samsul Ariyadi mempresentasikan hasil studinya mengenai perjalanan panjang salah satu kitab hadis paling otoritatif dalam dunia Islam. Penelitian tersebut mengusung judul “Mā Warāʾ al-Nahr, Genealogi, dan Kontekstualisasi Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dalam Kultur Jawa”.
Studi ini secara komprehensif memetakan garis transmisi intelektual Ṣaḥīḥ al-Bukhārī—mulai dari tempat kelahirannya di kawasan Mā Warāʾ al-Nahr (Transoxiana), melintasi jaringan ulama Haramain melalui figur-figur besar seperti Shaykh Mahfūẓ al-Tarmasī hingga KH. Hasyim Asy’ari, hingga akhirnya berakar kuat dan terkontekstualisasikan dalam tradisi pesantren di Jawa.
Selain membedah metodologi Makna Gandhul dalam tradisi pesantren, riset ini juga menggali sejarah penting terkait kunjungan Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno, ke makam Imam Bukhari di Samarkand pada tahun 1956 sebagai bagian dari sejarah diplomasi kebudayaan dan keislaman. Sementara itu, Ahmad Hawasyi menegaskan pentingnya kajian Ṣaḥīḥ al-Bukhārī sebagai jembatan ilmiah yang menghubungkan tradisi keilmuan ulama Indonesia dan Uzbekistan.
Kesan Peneliti: Suasana Ilmiah yang Sangat Kondusif
Dalam kesempatan tersebut, Samsul Ariyadi mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas dukungan akademik yang diterima selama menjalani riset di Uzbekistan.
“Puji syukur yang tak terhingga kepada Allah, saat ini saya sedang menjalankan penelitian di Pusat Penelitian Internasional Imam Bukhari. Dalam proses ini, saya mempelajari warisan ilmiah para ulama Ma Waran-nahr (Transoxiana), khususnya peran Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dalam kebudayaan Jawa, serta informasi sejarah terkait kunjungan Presiden Soekarno ke makam Imam Bukhari. Alhamdulillah, penelitian ilmiah di sini berjalan dengan sangat baik. Suasana ilmiah yang luar biasa di Pusat ini sangat mendukung pelaksanaan penelitian,” ujar Samsul Ariyadi.
Senada dengan hal tersebut, Ahmad Hawasyi menyampaikan bahwa riset ini semakin mempertegas pertukaran keilmuan antarnegara. Kedua peneliti menyampaikan ucapan terima kasih secara khusus kepada Direktur Imam Bukhari International Scientific Research Center, Prof. Dr. Shovosil Ziyodov, Wakil Direktur Assoc. Prof. Dr. Otabek Muhammadiyev, serta seluruh keluarga besar Imam Bukhari Center. Apresiasi juga disampaikan kepada Ibu Rofi Zardaida yang telah berperan aktif mendampingi para peneliti selama berada di Uzbekistan.
Rektor IIQ Jakarta, Assoc. Prof. Dr. Hj. Nadjematul Faizah, S.H., M.Hum., turut menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak Uzbekistan, khususnya kepada pimpinan dan sivitas akademika Imam Bukhari International Scientific Research Center (IBISRC). Rektor menegaskan bahwa penyediaan fasilitas akademik, akses literatur naskah yang kaya, serta iklim riset yang sangat kondusif di Uzbekistan menjadi kunci suksesnya pelaksanaan program fellowship dan diseminasi karya ilmiah para dosen IIQ Jakarta di kancah global.
Momentum presentasi hasil penelitian ini terasa kian istimewa karena berdekatan dengan hari kemerdekaan dua negara sahabat. Kegiatan akademik ini terselenggara tak lama setelah bangsa Indonesia memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026, serta menjelang Hari Kemerdekaan Republik Uzbekistan pada 1 September 2026. (FP)


