Wisuda Tahfiz IIQ Jakarta, Pesan Menjaga Al-Qur’an Mengiringi Pelepasan Wisudawati

Wisuda Tahfiz IIQ Jakarta, Pesan Menjaga Al-Qur’an Mengiringi Pelepasan Wisudawati

Tangerang Selatan — Suasana haru dan penuh khidmat mewarnai Wisuda Tahfiz dan Pelepasan Wisudawati Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta di Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, Jumat (25/9/2026) malam. Setelah melalui proses panjang menghafal dan menjaga hafalan Al-Qur’an di tengah perjalanan akademik, para wisudawati dilepas dengan pesan untuk terus istiqamah bersama Al-Qur’an dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan.

Wisuda tersebut menjadi ruang refleksi atas perjalanan para mahasiswi dalam menyelesaikan tahfiz Al-Qur’an sekaligus pendidikan tinggi di IIQ Jakarta. Dalam kesempatan itu, para wisudawati mendapatkan pesan dari pimpinan dan pengasuh agar hafalan yang telah diperoleh tidak berhenti pada capaian wisuda, tetapi terus dijaga dan dihidupkan dalam keseharian.

Pada wisuda tahfiz kali ini, para wisudawati berasal dari empat kategori capaian hafalan, yakni 30 juz sebanyak 39 orang, 20 juz sebanyak 12 orang, 10 juz sebanyak 72 orang, dan 5 juz sebanyak 234 orang.

Prosesi pengukuhan dilakukan sesuai dengan capaian hafalan masing-masing. Wisudawati program 5 juz dikukuhkan oleh Rifdah Farnida, M.Ag., sementara wisudawati program 10 juz dikukuhkan oleh Dr. Hj. Istiqomah, MA. Wisudawati program 20 juz dikukuhkan oleh Dr. Hj. Mutmainnah, MA., sedangkan wisudawati program 30 juz dikukuhkan oleh Associate Prof. Dr. Hj. Romlah Widayati, MA.

Prosesi pengukuhan menjadi salah satu rangkaian penting dalam acara tersebut sekaligus bentuk penghargaan atas capaian hafalan Al-Qur’an yang telah ditempuh para wisudawati.

Dalam pengukuhan wisudawati program 30 juz, Dr. Hj. Romlah Widayati menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan buah dari proses panjang yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, kesungguhan, dan keistikamahan.

“Bismillahirrahmanirrahim. Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala. Kami mengukuhkan bahwa saudari-saudari telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sebanyak 30 juz bil gaib. Capaian ini merupakan buah dari ketekunan, kesabaran, kesungguhan, dan keistikamahan dalam menapaki ayat demi ayat hingga seluruh Al-Qur’an tersimpan dalam hafalan.”

Dr. Romlah melanjutkan, capaian tersebut sekaligus membawa amanah bagi para hafizah untuk terus menjaga hafalan yang telah diselesaikan.

“Semoga Allah Subhanahu wa taala menerima setiap ikhtiar yang telah ditempuh dan menjadikan hafalan ini sebagai amanah yang senantiasa dijaga. Khatamannya hafalan bukanlah akhir perjalanan bersama Al-Qur’an, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga, mengulang, memahami, dan mengamalkannya.”

Ia juga mendoakan agar hafalan yang telah diselesaikan dapat tetap kokoh di dalam hati dan tercermin dalam kehidupan para wisudawati.

“Semoga hafalan yang telah sempurna senantiasa kokoh di dalam hati dan tercermin dalam akhlak serta kehidupan. Semoga Allah Subhanahu wa taala meneguhkan hafalan, menjaga hati bersama Al-Qur’an, memberikan keistikamahan dalam murajaah dan mengamalan, serta menjadikan saudari-saudari Ahlul Qur’an yang senantiasa hidup bersama Al-Qur’an hingga akhir hayat. Amin ya rabbal alamin.”

Menjaga Hafalan Lebih Berat daripada Menghafalnya

Pesan serupa disampaikan Ketua Dewan Pengasuh Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, Dr. KH. Ahmad Fathoni, Lc., MA., dalam mauidzotul hasanah. Ia mengingatkan bahwa capaian hafalan yang diraih para wisudawati harus dilanjutkan dengan tanggung jawab untuk menjaganya.

Menurutnya, menghafal Al-Qur’an merupakan proses yang membutuhkan kesungguhan, tetapi mempertahankan hafalan agar tetap melekat dalam ingatan dan kehidupan membutuhkan istiqamah yang tidak kalah besar.

“Penghafal Al-Qur’an itu yang mudah adalah menghafalnya. Yang sulit menjaganya,” pesan KH. Ahmad Fathoni.

Ia mengibaratkan hafalan Al-Qur’an seperti unta yang harus terus dijaga dan dipelihara. Jika tidak dirawat, hafalan dapat hilang sebagaimana unta yang terlepas dari ikatannya. Karena itu, para wisudawati diingatkan untuk terus melakukan murajaah dan menjaga interaksi dengan Al-Qur’an.

KH. Ahmad Fathoni juga berpesan agar para wisudawati tidak menjadikan kelulusan maupun capaian akademik sebagai alasan untuk mengurangi interaksi dengan Al-Qur’an. Apa pun profesi dan jalan kehidupan yang nantinya dipilih, Al-Qur’an harus tetap menjadi bagian dari keseharian.

“Jangan dihiraukan nanti mau jadi apa. Pokoknya istiqamah, pegang Al-Qur’an, hafalan dan terus baca.”

Menurutnya, menjadi penghafal Al-Qur’an bukan hanya tentang menyelesaikan jumlah juz, tetapi juga menjaga kualitas bacaan, memahami, dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an. Ia mengingatkan para wisudawati untuk terus membaca Al-Qur’an dengan tartil dan kualitas bacaan yang baik.

Lebih lanjut, KH. Ahmad Fathoni menyampaikan pesan tentang bagaimana para penghafal Al-Qur’an dapat menjadikan amal membaca Al-Qur’an sebagai wasilah dalam memanjatkan doa kepada Allah. Ia menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an merupakan amal saleh yang memiliki keutamaan besar. Berdasarkan hadis yang disampaikannya, setiap huruf Al-Qur’an bernilai sepuluh kebaikan.

“Setelah baca Al-Qur’an selesai, silakan Anda minta apa, barter sama Allah,” ujarnya.

Istilah “barter” yang disampaikan KH. Ahmad Fathoni merupakan gambaran agar seorang hamba tidak berhenti pada membaca atau menghafal Al-Qur’an, tetapi melanjutkannya dengan memohon kepada Allah atas berbagai kebaikan yang diharapkan. Amal saleh, menurutnya, dapat menjadi wasilah dalam berdoa.

“Ya Allah, saya telah membaca Al-Qur’an. Setiap huruf Al-Qur’an sekian, sekian, sekian. Mohon apa yang dimohonkan,” tuturnya.

Ia kemudian mengajak para wisudawati untuk memanfaatkan kesempatan setelah membaca Al-Qur’an untuk berdoa bagi kebaikan diri, orang tua, keluarga, serta kehidupan dunia dan akhirat. Ia mencontohkan permohonan agar orang tua diberikan kesehatan lahir dan batin serta agar senantiasa dianugerahi husnulkhatimah.

Menurutnya, Allah menyukai hamba yang senantiasa memohon dan berdoa kepada-Nya. Karena itu, para penghafal Al-Qur’an hendaknya tidak hanya menjaga hafalan, tetapi juga membangun kedekatan dengan Allah melalui doa dan amal saleh.

KH. Ahmad Fathoni juga mengingatkan bahwa capaian hafalan 5, 10, 20, hingga 30 juz bukanlah garis akhir. Setelah menyelesaikan hafalan, masih ada tanggung jawab yang lebih panjang, yakni menjaga Al-Qur’an, membacanya dengan tartil, memahami, mengamalkan, dan menjadikannya bagian yang terus hidup dalam perjalanan.

Ia berharap para wisudawati tetap menjadi bagian dari Ahlul Qur’an, yakni orang-orang yang senantiasa dekat dengan Al-Qur’an melalui bacaan, pemahaman, dan pengamalannya.

“Sekali lagi, kita di dalam akhir hayat kita selalu menjadi Ahlul Qur’an. Karena Ahlul Qur’an itu diistimewakan oleh Allah di dunia maupun di akhirat,” pungkasnya.

Rektor: Jadikan Al-Qur’an sebagai Bekal Kehidupan

Pesan untuk menjaga hafalan juga disampaikan Rektor IIQ Jakarta Associate Prof. Dr. Hj. Nadjmatul Faizah, SH, M.Hum. Dalam sambutannya, Rektor mengingatkan para wisudawati agar apa yang telah dipelajari dan dihafalkan selama berada di IIQ Jakarta terus dijaga dan diamalkan.

“Saya harap apa yang telah disampaikan tadi membuat ananda semua tidak lupa. Apalagi ananda semua adalah hamalatul Qur’an, sehingga apa yang telah kita peroleh kita jaga dan juga kita amalkan,” tutur Rektor.

Ia juga berharap keberhasilan para wisudawati menjadi motivasi bagi mahasiswa yang masih menjalani proses tahfiz untuk terus istiqamah menyelesaikan hafalannya.

Menurut Rektor, perjalanan pendidikan di IIQ Jakarta tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar untuk membangun kedekatan dengan Al-Qur’an. Karena itu, ia mengajak para wisudawati untuk senantiasa mendoakan para instruktur, guru, dan dosen yang telah mendampingi perjalanan mereka.

“Tolong doakan para instruktur, para guru, para dosen agar kita masuk IIQ ini adalah mencari tiket ke surga, agar kita nanti bersama-sama berkumpul, tidak berpisah. Di dunia kita bersama dan di akhirat kita juga akan berjumpa, karena semua melalui Al-Qur’an ini.”

Di hadapan para wisudawati dan wali, Rektor juga menyampaikan rasa harunya melepas para mahasiswi yang telah menyelesaikan pendidikan dan sebagian akan kembali ke daerah masing-masing.

Ia berharap nilai-nilai Al-Qur’an yang diperoleh selama belajar di IIQ Jakarta dapat dibawa ke lingkungan masing-masing dan memberi manfaat bagi masyarakat.

“Dengan saya harus melepaskan ananda. Ananda sudah selesai, tentu kita mengucapkan alhamdulillah. Saya melepaskan ananda dengan bismillah,” ujar Rektor.

Wisuda Bukan Akhir Perjalanan

Sementara itu, perwakilan wisudawati, Ima Siti Masfuah, menyampaikan bahwa prosesi wisuda bukanlah akhir dari perjalanan para penghafal Al-Qur’an. Sebaliknya, wisuda menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga hafalan yang telah diperoleh.

“Hari ini bukanlah akhir, melainkan awal. Hari ini bukanlah garis finish, tapi pintu gerbang untuk mengemban amanah yang lebih berat.”

Ima menggambarkan perjalanan menghafal Al-Qur’an sebagai proses yang penuh perjuangan. Ada air mata, rasa kantuk ketika menjalani murajaah, hingga kerinduan kepada rumah yang harus ditahan selama menjalani pendidikan. Namun, berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang akhirnya mengantarkan para wisudawati pada malam penuh kebahagiaan tersebut.

Mewakili seluruh wisudawati, Ima menyampaikan terima kasih kepada para ustazah dan pembimbing tahfiz yang telah sabar mendampingi proses setoran hafalan, memberikan arahan, serta menegur ketika terdapat kesalahan.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada kedua orang tua yang tidak pernah berhenti memberikan doa dan dukungan selama proses pendidikan.

“Hafalan ini adalah mahkota yang ingin kami berikan kepada kalian di dunia dan di akhirat kelak.”

Kepada almamater, Ima menyampaikan apresiasi karena IIQ Jakarta telah menjadi rumah kedua bagi para wisudawati. Menurutnya, selama berada di IIQ Jakarta, mereka tidak hanya belajar menghafal Al-Qur’an, tetapi juga belajar mencintai dan hidup bersama Al-Qur’an.

Ia kemudian mengajak seluruh teman seperjuangan untuk tidak berhenti menjaga hafalan setelah prosesi wisuda berakhir.

“Jangan biarkan mahkota ini lepas setelah wisuda. Tugas kita setelah ini lebih berat, yaitu menjaga hafalan.”

Rangkaian Wisuda Tahfiz menjadi bagian dari perjalanan para wisudawati untuk melanjutkan kehidupan bersama Al-Qur’an. (FP)

7edad769 228b 44b9 8670 28041e8e96dc

4ac1d9c5 7aad 40df a913 765db456d55c

7baa797d 5a91 4892 9437 657c8e38189c 14338d26 bded 43a0 a814 32465e4ffd0d

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Berita Terbaru Lainnya