Dari Kelas ke Publikasi Global: IIQ Jakarta Dorong Kebangkitan Riset Ekonomi Islam yang Berdampak

Dari Kelas ke Publikasi Global: IIQ Jakarta Dorong Kebangkitan Riset Ekonomi Islam yang Berdampak

Tangerang Selatan — Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta melalui Lembaga Penelitian dan Pengkajian Ilmiah (LPPI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Riset dan Publikasi Bidang Ekonomi Islam pada Rabu (18/2). Kegiatan yang berlangsung di Aula IIQ Jakarta ini menjadi ruang pertemuan akademik bagi para dosen untuk mendiskusikan arah pengembangan riset ekonomi Islam yang lebih relevan dengan kebutuhan Masyarakat.

FGD yang menghadirkan Prof. Ir. H. Muhamad Nadratuzzaman, MS., M.Sc., Ph.D. ini mengangkat tema besar tentang upaya “menemukan kembali” riset ekonomi Islam melalui integrasi maqashid syariah, kepatuhan industri, serta tujuan pembangunan berkelanjutan. Tema tersebut bukan tanpa alasan. Dalam paparannya, Prof Nadra menyinggung bahwa banyak penelitian ekonomi Islam masih berhenti pada tataran konsep, sementara dunia industri dan masyarakat bergerak jauh lebih cepat dengan tantangan yang membutuhkan solusi yang aplikatif.

Diskusi berkembang dari pertanyaan mendasar: mengapa riset sering kali sulit memberi dampak nyata? Dari sana, pembahasan mengalir pada pentingnya merumuskan masalah penelitian secara tajam sejak awal.

“Kualitas penelitian tidak ditentukan oleh banyaknya data atau kompleksitas metode, melainkan oleh kekuatan research question yang mampu menjawab persoalan riil. Penelitian harus lahir dari rasa ingin tahu yang kritis terhadap fenomena sosial, ekonomi, dan budaya” Tutur Prof Nadra.

Para peserta tampak serius ketika pembahasan memasuki bagian yang sering dianggap teknis, namun justru krusial: alur berpikir penelitian. Mulai dari identifikasi masalah, penentuan batasan, hingga metode analisis, semuanya harus tersusun logis agar penelitian tidak kehilangan arah. Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa latar belakang penelitian bukan sekadar pengantar tulisan, melainkan ruang argumentasi yang menjelaskan mengapa sebuah riset layak dilakukan dan apa kontribusinya bagi masyarakat luas.

Menariknya, diskusi tidak berhenti pada teori metodologi. Pembicaraan kemudian bergeser pada tantangan publikasi ilmiah internasional. Banyak peneliti, khususnya di bidang ekonomi syariah, dinilai masih terjebak pada pola deskriptif, padahal publikasi bereputasi menuntut analisis kritis, kebaruan gagasan, serta relevansi global. Karena itu, peserta didorong untuk mulai membaca literatur mutakhir, memetakan research gap, dan berani menghadirkan perspektif baru yang mampu memperkaya diskursus ekonomi Islam di tingkat internasional.

“Di tengah perkembangan ekonomi digital dan transformasi industri halal, riset ekonomi Islam memiliki peluang besar untuk berkembang. Isu seperti fintech syariah, keuangan sosial Islam, hingga integrasi prinsip keberlanjutan menjadi ruang penelitian yang terbuka luas. Namun peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan jika akademisi mampu menjembatani teori dengan praktik, menjadikan riset sebagai alat perubahan” Lanjut narasumber.

FGD ini pada akhirnya bukan hanya forum ilmiah, melainkan ruang refleksi bersama. Ada kesadaran yang perlahan menguat bahwa masa depan ekonomi Islam tidak cukup ditopang oleh semangat normatif saja, tetapi membutuhkan riset yang tajam, metodologi yang kuat, dan keberanian intelektual untuk menjawab persoalan nyata masyarakat. Dari ruang diskusi sederhana di IIQ Jakarta itu, optimisme tentang lahirnya penelitian yang lebih kontekstual dan berdampak terasa mulai tumbuh—pelan, namun pasti.

Kegiatan ini juga memperlihatkan upaya IIQ Jakarta memperluas kontribusinya dalam pengembangan keilmuan ekonomi Islam yang lebih kontekstual. Melalui dialog terbuka antara akademisi dan praktisi, kampus mencoba membangun jembatan antara nilai Al-Qur’an, kebutuhan industri, dan agenda pembangunan berkelanjutan yang kini menjadi perhatian global. (FP)

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp