TANGERANG SELATAN — Kajian Kuliah Ramadan (Kurma) Season II yang diselenggarakan oleh Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta kembali menghadirkan diskusi keislaman yang relevan dengan realitas sosial masyarakat. Bertempat di Masjid Raudhatul Qur’an, Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, kajian kali ini mengangkat tema “Ibadah vs Israf: Menemukan Titik Keseimbangan Konsumsi Saat Ramadan.”
Kegiatan yang dipandu oleh Dr. Syafaat Muhari tersebut menghadirkan Dr. Hendra Kholid sebagai narasumber. Kajian diikuti oleh jamaah secara langsung di masjid maupun melalui siaran daring di kanal YouTube IIQ Jakarta.
Dalam pengantarnya, Dr. Syafaat menyoroti fenomena sosial yang hampir selalu muncul menjelang Ramadan, mulai dari maraknya promosi produk, meningkatnya aktivitas perdagangan, hingga ramainya pusat perbelanjaan. Kondisi ini dinilai menjadi paradoks, karena di saat yang sama Ramadan sejatinya mengajarkan pengendalian diri, termasuk dalam pola konsumsi.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Hendra Kholid menjelaskan bahwa Ramadan merupakan bulan ibadah yang sarat nilai rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Namun dalam praktiknya, bulan suci ini kerap berubah menjadi musim konsumsi berlebihan.
“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan pengendalian diri. Konsumsi memang diperlukan agar ibadah tetap kuat, tetapi ketika berlebihan itulah yang disebut israf,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Islam tidak melarang makan dan minum, melainkan memberikan panduan agar manusia hidup seimbang. Prinsip konsumsi dalam Islam, menurutnya, meliputi makan sesuai kebutuhan, memastikan kehalalan, menghindari pemborosan, serta tidak berutang hanya demi memenuhi keinginan.
Lebih lanjut, Dr. Hendra menjelaskan bahwa ibadah Ramadan tidak hanya terbatas pada puasa di siang hari (siyam Ramadan), tetapi juga diiringi ibadah malam (qiyam Ramadan) seperti salat tarawih, tahajud, dan membaca Al-Qur’an. Seluruh rangkaian ibadah tersebut bertujuan membentuk ketakwaan sebagaimana pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 183.
Dari perspektif ekonomi, ia menilai meningkatnya konsumsi selama Ramadan tidak sepenuhnya berdampak negatif karena turut menggerakkan roda perekonomian. Namun, keseimbangan tetap menjadi kunci. Konsumsi dapat bernilai ibadah apabila dilakukan secara bijak, membantu pedagang kecil, serta diiringi kepedulian sosial melalui zakat dan sedekah.
“Rezeki yang kita makan akan habis, yang kita pakai akan usang, tetapi yang disedekahkan akan menjadi bekal akhirat,” tuturnya.
Ia menegaskan, Ramadan seharusnya menjadi bulan berbagi, bukan sekadar mengumpulkan. Kebahagiaan sejati, lanjutnya, tidak terletak pada banyaknya harta yang dimiliki, melainkan pada kemampuan berbagi dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Sebagai penutup, Dr. Hendra mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum membangun pola hidup moderat—menikmati rezeki secukupnya, menghindari mubazir, serta memperkuat solidaritas sosial melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
Melalui kajian Kurma Season II ini, IIQ Jakarta berharap Ramadan tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah personal, tetapi juga menumbuhkan kesadaran sosial dan spiritual yang berdampak luas bagi masyarakat. (FP)





