Halal Bihalal dan Harlah ke-49 IIQ Jakarta: Syukur, Refleksi, dan Akselerasi Inovasi Qur’ani

Halal Bihalal dan Harlah ke-49 IIQ Jakarta: Syukur, Refleksi, dan Akselerasi Inovasi Qur’ani

Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menyelenggarakan Halal Bihalal dan Tasyakuran Harlah ke-49 untuk memperkuat persaudaraan sekaligus meneguhkan pengabdian di bidang pendidikan Al-Qur’an. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kampus IIQ Jakarta pada Kamis, 9 April 2026 ini mengusung tema “Meneguhkan Persaudaraan, Memperkokoh Pengabdian, Memajukan Pendidikan,” yang mencerminkan arah gerak institusi dalam menjawab tantangan zaman secara adaptif dan berkelanjutan.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat oleh Rifdah Farnidah, M.A., yang menghadirkan suasana khidmat. Pada kesempatan tersebut, tausiyah disampaikan oleh KH. Muhammad Haris Hakam.

Rektor IIQ Jakarta, Dr Nadjmatul Faizah, dalam sambutannya menyampaikan ucapan halal bihalal kepada seluruh civitas akademika IIQ Jakarta. Rektor mengajak seluruh elemen kampus untuk saling memaafkan dan memperkuat kebersamaan sebagai fondasi dalam membangun institusi. Dalam pernyataannya, Rektor menegaskan bahwa Harlah ke-49 ini menjadi titik evaluasi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. Ia juga menjelaskan kronologi berdirinya IIQ Jakarta sebagai bagian dari penguatan nilai historis dan identitas kelembagaan yang perlu terus dijaga dan dikembangkan.

Dalam sambutannya sebagai perwakilan yayasan, KH Lukman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna sebagai wujud syukur dan refleksi kehidupan. “Acara yang diselenggarakan ini merupakan tasyakuran yang pada hakikatnya juga sejalan dengan makna halal bihalal, yaitu saling memaafkan. Dalam kehidupan, terdapat dua hal yang senantiasa menyertai manusia, yaitu kebahagiaan dan kesedihan. Karena itu, kita diajarkan untuk bersyukur atas hal-hal positif dan bersabar dalam menghadapi ujian,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa rasa syukur harus diwujudkan melalui upaya menjaga dan mengembangkan warisan nilai-nilai baik yang telah dirintis para pendahulu. “Dalam konteks IIQ, terdapat dua kekhasan utama, yaitu fokus pada Al-Qur’an dan perhatian terhadap perempuan. Kedua hal ini harus terus dirawat dan dikembangkan agar tetap relevan di tengah dinamika zaman,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia mendorong IIQ Jakarta untuk terus menghadirkan kajian-kajian kontekstual yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern. “Ke depan, IIQ diharapkan dapat menjadi pusat kajian berbagai persoalan aktual, termasuk bagaimana Al-Qur’an berbicara tentang perempuan dalam perspektif kekinian, hingga isu-isu modern seperti kecerdasan buatan yang dikaitkan dengan nilai-nilai Qur’ani,” ungkapnya. Ia juga menyoroti pentingnya menjawab pertanyaan generasi masa kini, seperti relevansi menghafal Al-Qur’an di era teknologi, serta kemungkinan peran kecerdasan buatan dalam mendukung kajian keislaman.

Dengan demikian, IIQ tidak hanya menjalankan fungsi akademik, tetapi juga menjadi pusat diseminasi pemikiran berbasis Al-Qur’an ke ruang public. Ia juga mendorong pengembangan program short course Al-Qur’an yang terbuka bagi masyarakat umum sebagai bagian dari perluasan manfaat institusi.

Sebagai puncak acara, dilakukan pemotongan tumpeng Milad ke-49 IIQ Jakarta sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan panjang IIQ Jakarta. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa oleh Prof. Wahab, diikuti ramah tamah yang mempererat silaturahmi antar sivitas akademika, alumni, dan tamu undangan. (FP)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp