Moment Ramadan, Ketua PSGA IIQ Jakarta Dr. Hj. Muzayyanah, MA menyampaikan pesan kepada masyarakat melalui sebuah tayangan dakwah yang mengajak umat Islam memaknai puasa tidak sekadar sebagai rutinitas tahunan, melainkan sebagai momentum pembentukan karakter dan peningkatan kualitas keimanan. Dalam tausiyahnya, ia menekankan bahwa Ramadan merupakan bulan perintah langsung dari Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, yang tujuan utamanya adalah membentuk manusia menjadi pribadi yang bertakwa.
Menurutnya, takwa bukan hanya konsep spiritual yang abstrak, tetapi diwujudkan melalui sikap nyata, yakni menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Puasa, lanjutnya, menjadi sarana pendidikan jiwa yang melatih kepedulian sosial. Rasa lapar yang dirasakan selama berpuasa diharapkan mampu menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan dan kekurangan.
Dalam pemaparannya, Bu Muzay juga mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulan penuh tuntunan. Ia mengutip ajaran Rasulullah SAW yang menekankan tiga fondasi utama agar ibadah puasa memiliki nilai dan membawa perubahan nyata. Pertama adalah qiyam, yang dimaknai sebagai kesungguhan beribadah, termasuk menghidupkan malam dengan salat. Ramadan, katanya, menjadi momentum kebangkitan dari kelalaian selama sebelas bulan sebelumnya menuju kesungguhan spiritual.
Fondasi kedua adalah iman, yakni menjalankan puasa atas dasar keyakinan penuh kepada Allah, bukan sekadar mengikuti tradisi sosial. Ia menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan tanpa kesadaran iman berpotensi kehilangan makna. Sementara fondasi ketiga adalah keikhlasan, yaitu menjalankan ibadah semata-mata mengharap ridha Allah, bukan karena dorongan lingkungan ataupun penilaian manusia.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa puasa memiliki dimensi spiritual yang unik karena bersifat rahasia antara hamba dan Tuhannya. Berbeda dengan ibadah lain yang dapat terlihat oleh orang lain, kejujuran dalam berpuasa sepenuhnya bergantung pada kekuatan iman pribadi.
Bu Muzay juga mencontohkan keteladanan Rasulullah SAW yang tetap bersungguh-sungguh beribadah meskipun telah dijamin masuk surga. Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah meningkatkan ibadahnya dan membangunkan keluarga untuk turut menghidupkan malam-malam tersebut. Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya ruang perbaikan individu, tetapi juga momentum membangun kesalehan keluarga dan masyarakat.
Menutup tausiyahnya, ia mengajak umat Islam menyambut Ramadan dengan kesungguhan dan kesadaran seolah-olah itu adalah Ramadan terakhir dalam kehidupan. Ia berharap bulan suci ini menjadi kesempatan memperbaiki diri, memohon ampunan, serta meraih keberkahan dan keselamatan dari Allah SWT.
“Jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa perubahan dalam diri kita,” pesannya, seraya menutup dengan doa agar Ramadan tahun ini menjadi titik awal kehidupan yang lebih baik bagi seluruh umat.




