Pondok Adz-Dzikra Berkunjung ke IIQ Jakarta: Kagumi Keunikan Kampus IIQ

Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta kembali menjadi tujuan silaturahmi lembaga pendidikan pesantren dari berbagai daerah. Pada Selasa, 9 Desember 2025, rombongan Pondok Pesantren Adz-Dzikra DDI Kersik Putih, Batulicin, Kalimantan Selatan—yang berjumlah 24 orang—melakukan kunjungan resmi untuk mengenal lebih dekat IIQ sebagai perguruan tinggi unik bercorak pesantren yang menggabungkan tradisi akademik modern dan kekhasan pendidikan Qur’an.

Rombongan disambut langsung oleh Rektor IIQ Jakarta, Dr. Nadjematul Faizah, SH, M.Hum., didampingi Wakil Rektor I Dr. Hj. Romlah Widyati, MA., Wakil Rektor III Dr. Hj. Muthmainnah, MA., para pimpinan lembaga, Ketua LTTQ, dosen, serta unsur akademik IIQ. Sambutan berlangsung hangat dan penuh penghargaan atas kedatangan rombongan dari daerah yang disebut sebagai “ujung Kalimantan”.

Dalam sambutannya, Rektor IIQ menyampaikan ucapan selamat datang dengan penuh keakraban. “Ahlan wa sahlan di IIQ Jakarta. Suatu kehormatan bagi kami didatangi oleh pimpinan Pondok Adz-Dzikra DDI beserta rombongan dari jauh. Terima kasih telah memilih IIQ sebagai tempat bersilaturahmi dan berdiskusi,” ujarnya. Rektor juga memperkenalkan jajaran pimpinan kampus, mulai dari para wakil rektor, Ibu Maria Ulfa—Qariah Internasional dan dosen IIQ—serta Ketua Lembaga Tahfizh, Kabiro Akademik, Kabag AUK, dan unsur akademik lainnya.

Rektor kemudian memaparkan bahwa IIQ Jakarta telah berdiri sejak 1 April 1977, yang berarti telah memasuki usia 48 tahun sebagai pelopor perguruan tinggi berbasis Qur’an di Indonesia. Rektor menegaskan bahwa model pendidikan IIQ yang menggabungkan kuliah akademik, pembinaan tahfizh, dan kultur asrama merupakan warisan tradisi yang terus dipertahankan hingga kini. IIQ menjadi rumah bagi banyak mahasiswa dengan beragam latar belakang. Tidak hanya lulusan pesantren, tetapi juga SMA/SMK yang baru mulai memperdalam Al-Qur’an.

Sebelumnya, perwakilan rombongan, Ahmad Syahrul, M.Pd., menyampaikan rasa terima kasih atas penerimaan IIQ. Ia memperkenalkan Ponpes Adz-Dzikra yang baru berusia sembilan tahun dan berada di bawah naungan Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI) pimpinan Gurutta KH. Ali Yafie. Dengan jumlah santri mencapai 620 orang tingkat MTs dan MA, pondok tersebut menerapkan perpaduan sistem salafiyah-modern, mengajarkan kitab kuning sekaligus tahfizh Al-Qur’an. Ia juga menyampaikan kegembiraan bahwa beberapa alumni pondoknya kini menempuh studi di IIQ. “Kami merasa tidak salah pilih ketika anak kami masuk IIQ. Kampus ini unik, seperti pesantren, tetapi berstatus perguruan tinggi. Ini luar biasa,” tegasnya.

Warek III IIQ, Dr. Hj. Muthmainnah, MA., turut memaparkan profil kelembagaan IIQ, termasuk sejarah, fakultas, program unggulan, dan sistem akademik. Ia menjelaskan bahwa IIQ membuka berbagai jenjang pendidikan, mulai dari S1 hingga Pascasarjana, termasuk program tahfizh yang menjadi ciri khas kampus. Warek III juga menambahkan informasi mengenai mekanisme perkuliahan dan pembinaan akademik mahasiswa.

Selama dialog, rombongan Adz-Dzikra mengajukan sejumlah pertanyaan terkait peluang studi dan kerja sama pendidikan. Beberapa di antaranya meliputi:

  1. Apakah IIQ menyediakan beasiswa, khususnya bagi calon mahasiswa dari pesantren?
  2. Apakah tersedia program S2 dan S3, dan apakah lulusan yang bidang S1-nya tidak relevan tetap dapat melanjutkan studi?
  3. Apakah mahasiswa S1 dapat mengikuti perkuliahan secara daring melalui Zoom?
  4. Apakah memungkinkan santri atau alumni mengabdi di pondok sambil tetap melanjutkan kuliah di IIQ?
  5. Bagaimana IIQ menangani mahasiswa dari SMA negeri yang pembelajaran Al-Qur’annya sangat sedikit?
  6. Apakah IIQ menerima mahasiswa yang belum lancar membaca Al-Qur’an?
  7. Bagaimana proses bagi calon mahasiswa S2 yang latar belakang pendidikannya bukan dari bidang agama?

Dalam dialog tersebut, pimpinan IIQ menjelaskan bahwa kampus menyediakan berbagai skema beasiswa, membuka jalur perkuliahan S2 dan S3, serta memiliki program pembinaan intensif bagi mahasiswa yang masih perlu memperbaiki bacaan Al-Qur’an. Rektor menegaskan bahwa IIQ terbuka bagi semua calon mahasiswa yang memiliki komitmen kuat belajar Al-Qur’an, apa pun latar belakang pendidikannya. (FP)