Prof. Sayyid Agil: Intelektual Muslim Harus Satukan Pikir dan Zikir, Bukan Sekadar Pandai Berteori

Prof. Sayyid Agil: Intelektual Muslim Harus Satukan Pikir dan Zikir, Bukan Sekadar Pandai Berteori

Jakarta — Dosen IIQ Jakarta, Prof. Dr. Sayyid Agil Husen Al-Munawwar, menuturkan bahwa intelektual Muslim sejati tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan berpikir, tetapi harus mampu menyatukan antara pikir dan zikir dengan menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan utama keilmuan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sesi pamungkas Kurma ke-10 (12/03) yang dipandu oleh Mabda Dzikara, Lc., MA.

Dalam paparannya, Prof. Sayyid Agil menjelaskan bahwa intelektual Muslim dalam tradisi Islam identik dengan ulama sebagai warasatul anbiya (pewaris para nabi), yang seluruh bangunan ilmunya bersumber dari wahyu.

“Seorang intelektual Muslim ketika berpikir harus selalu merujuk pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ketika ia menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan, maka pada saat yang sama ia juga sedang berzikir kepada Allah,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa membaca Al-Qur’an tidak cukup sebatas tilawah, melainkan harus disertai pemahaman mendalam dan pengamalan dalam kehidupan. Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada memahami teks, tetapi pada mengimplementasikan nilai-nilainya secara konsisten.

Lebih lanjut, Prof. Sayyid Agil mengingatkan pentingnya sikap tawadhu dalam keilmuan. Ia mengutip prinsip bahwa ilmu manusia pada hakikatnya sangat terbatas.

“Sehebat apa pun seseorang, ilmu yang diberikan Allah itu sangat sedikit. Karena itu para ulama selalu menutup penjelasannya dengan ‘wallahu a‘lam’ sebagai bentuk kerendahan hati,” katanya.

Ia juga menyoroti fenomena kecenderungan sebagian kalangan yang menafsirkan Al-Qur’an tanpa metodologi yang tepat. Menurutnya, jika pemahaman terhadap Al-Qur’an keliru, maka yang perlu dikoreksi adalah cara berpikir manusia, bukan teks wahyu itu sendiri.

Dalam konteks kekinian, Prof. Sayyid Agil menekankan bahwa Al-Qur’an tetap relevan sepanjang zaman, termasuk dalam menjawab persoalan kontemporer (nawazil). Namun, hal itu hanya dapat dicapai melalui pendekatan ilmiah yang komprehensif, seperti pendekatan historis, sosiologis, dan antropologis.

Ia mencontohkan pemahaman hadis yang tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial saat itu, sehingga diperlukan kedalaman ilmu agar tidak terjebak pada pemaknaan tekstual semata.

Kritik Ilmu Tanpa Arah Spiritual

Menanggapi realitas modern yang sering memisahkan ilmu dari nilai spiritual, Prof. Sayyid Agil mengingatkan bahwa ilmu yang tidak berlandaskan zikir berpotensi disalahgunakan.

“Kita hidup di masa puncak intelektualitas, tetapi ilmu juga digunakan untuk konflik dan kehancuran. Di sinilah pentingnya zikir sebagai pengendali pikir,” tegasnya.

Ia juga mengajak kalangan akademisi untuk tidak terjebak pada dikotomi ilmu. Menurutnya, intelektual Muslim harus mampu menguasai berbagai disiplin ilmu dan memberikan jawaban yang argumentatif, bukan sekadar “pokoknya”.

Dalam menghadapi arus teori Barat dan Timur, ia menekankan pentingnya sikap objektif. “Teori itu dipelajari. Yang baik diambil, yang tidak sesuai ditinggalkan. Tidak boleh ditolak mentah-mentah hanya karena berasal dari luar,” ujarnya.

Peran Intelektual sebagai Pengayom Umat

Dalam praktik kehidupan beragama, Prof. Sayyid Agil juga menyoroti pentingnya peran intelektual sebagai pengayom umat. Ia mencontohkan perbedaan praktik salat tarawih yang seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan.

“Bukan soal delapan atau dua puluh rakaat, tetapi bagaimana kita mengajak yang belum salat menjadi mau salat,” katanya.

Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin, termasuk imam salat, harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi jamaah, sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW agar meringankan ibadah bagi makmum yang beragam.

Selain itu, ia menekankan pentingnya komunikasi yang tepat sesuai tingkat pemahaman audiens. “Berbicaralah sesuai dengan kemampuan akal mereka. Jangan menggunakan bahasa tinggi kepada masyarakat awam,” pesannya.

Sanad Keilmuan dan Adab kepada Guru

Dalam sesi tersebut, Prof. Sayyid Agil juga membagikan kisah inspiratif tentang gurunya, Syekh Yasin Al-Fadani, yang dikenal sebagai musnid dunia. Ia menekankan pentingnya sanad keilmuan sebagai jaminan otoritas dan keberkahan ilmu.

Menurutnya, tradisi keilmuan Islam tidak hanya bertumpu pada bacaan, tetapi juga pada riyadah, mujahadah, dan kedekatan spiritual kepada Allah.

Ia juga mengingatkan pentingnya adab terhadap guru sebagai kunci keberkahan ilmu. “Ilmu bisa diajarkan siapa saja, tetapi adab diperoleh dari tirakat,” ujarnya.

Kegiatan ini ditutup dengan pesan agar para peserta mampu menyeimbangkan antara kekuatan intelektual dan kedalaman spiritual.

“Jika zikir kuat, maka pikir akan terjaga. Inilah karakter intelektual Muslim yang sejati,” pungkas Prof. Sayyid Agil. (FP)

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp