Santri Al-Muhajirin 3 Purwakarta Ditempa Jadi Generasi Emas, PKM Dosen dan Mahasiswa Prodi PAI IIQ Jakarta Turunkan Program Transformasi Nilai Al-Qur’an ke Praktik Fikih Nyata

Santri Al-Muhajirin 3 Purwakarta Ditempa Jadi Generasi Emas, PKM Dosen dan Mahasiswa Prodi PAI IIQ Jakarta Turunkan Program Transformasi Nilai Al-Qur’an ke Praktik Fikih Nyata

Purwakarta — Pagi itu, Selasa (3/2/2026), Masjid Pondok Pesantren Al-Muhajirin 3 Purwakarta dipenuhi atmosfer yang tidak biasa. Para santri tingkat SMA tampak berkumpul dengan sorot mata antusias, menyimak setiap rangkaian acara yang disiapkan. Mereka hadir untuk mendengarkan tausiyah dan diajak menelusuri pertanyaan sejauh mana ajaran Al-Qur’an telah mereka hadirkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Kegiatan tersebut merupakan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tingkat nasional yang digelar oleh Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta (IIQ Jakarta). Mengusung tema “Generasi Emas: Transformasi Nilai Al-Qur’an menjadi Praktik Fikih Kehidupan”, program ini dirancang sebagai ruang pembinaan akhlak remaja yang terintegrasi dengan praktik fikih sehari-hari.

Kegiatan dipimpin oleh dosen tetap Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah IIQ Jakarta, Dr. Hj. Siti Shopiyah, MA., bersama mahasiswa PAI yang turut menjadi pendamping. Sekitar 45 santri, didampingi dewan guru, mengikuti rangkaian acara secara tatap muka. Sejak awal, suasana terasa cair—jauh dari kesan formal yang kaku.

Dalam pengantarnya, panitia menyatakan bahwa masa remaja adalah fase yang menentukan. Di satu sisi, remaja memiliki energi dan potensi besar. Namun di sisi lain, mereka juga rentan terhadap pengaruh lingkungan. “Ketika ajaran agama hanya dipahami sebagai hafalan atau pengetahuan kognitif, jarak antara “tahu” dan “laku” menjadi semakin lebar. Di titik inilah program ini mengambil peran” tuturnya.

Dosen IIQ Jakarta, Dr Siti Shopiyah dalam pemaparannya mengurai secara runtut bagaimana Al-Qur’an menghadirkan nilai-nilai dasar keimanan dan akhlak, sementara fikih memberikan panduan operasional dalam bertindak. “Kalau nilai dan praktik berjalan sendiri-sendiri, yang terjadi adalah kesenjangan,” kira-kira begitu benang merah yang ia tekankan. Ia mengajak para santri melihat bahwa ibadah, etika pergaulan, hingga tanggung jawab sosial adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Materi tidak hanya disampaikan dalam bentuk ceramah. Kisah-kisah keteladanan para nabi dan sahabat—baik laki-laki maupun perempuan—dihadirkan sebagai cermin. Diskusi pun mengalir pada persoalan yang dekat dengan kehidupan santri: disiplin shalat, adab pergaulan, penggunaan media sosial, hingga peran remaja dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar pesantren. Beberapa santri terlihat aktif mengangkat tangan, menyampaikan keresahan sekaligus pengalaman mereka.

Sesi berikutnya menjadi salah satu momen yang paling menyita perhatian. Zalfa, mahasiswi pendamping PKM, menampilkan praktik tilawah menggunakan qira’at sab’ah—tujuh ragam bacaan Al-Qur’an. Bagi sebagian santri, ini merupakan pengalaman pertama menyaksikan keragaman riwayat bacaan secara langsung. Tidak berhenti di situ, diperagakan pula Al-Qur’an Isyarat, metode penyampaian ayat dengan bahasa isyarat untuk membantu penyandang tunarungu memahami firman Allah. Demonstrasi ini mengundang decak kagum sekaligus membuka wawasan tentang pentingnya pendekatan inklusif dalam dakwah dan pendidikan Al-Qur’an.

Ustadz Ade, perwakilan dewan guru, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim IIQ Jakarta. Ia berharap kegiatan semacam ini tidak hanya menjadi agenda sesaat, tetapi mampu memberi bekas dalam pembentukan karakter santri.

Sepanjang kegiatan, interaksi terasa hidup. Tidak ada jarak yang terlalu lebar antara pemateri dan peserta. Dialog berlangsung dua arah, bahkan sesekali diselingi tawa ketika contoh-contoh kasus remaja diangkat secara kontekstual. Namun di balik suasana yang cair itu, pesan yang dibangun tetap tegas: remaja adalah generasi penentu arah masyarakat ke depan.

Melalui pendekatan edukasi dan pendampingan yang terstruktur, PKM ini berupaya menjembatani pemahaman keagamaan dengan praktik dalam kehidupan sehari-hari. Nilai Al-Qur’an tidak lagi berhenti pada hafalan ayat, tetapi ditarik ke ranah sikap—bagaimana bersikap jujur, disiplin, santun, dan bertanggung jawab.

Di akhir kegiatan, satu kesan yang terasa kuat adalah optimisme. Bahwa pembinaan yang dirancang dengan serius dan menyentuh realitas keseharian remaja mampu menjadi pijakan lahirnya generasi berakhlak, disiplin, dan peka terhadap lingkungan sosialnya. Bagi Fakultas Tarbiyah IIQ Jakarta, langkah kecil di Purwakarta ini adalah bagian dari tridarma perguruan tinggi—menghadirkan ilmu yang diimplementasikan. (Rs)

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp