Memasuki bulan suci Ramadan, umat Islam diajak untuk tidak sekadar menjalankan ibadah puasa secara ritual, tetapi juga menjadikannya sebagai momentum memperbaiki kualitas diri. Hal tersebut disampaikan Bunda Tuty dalam tausiyah Ramadan yang mengangkat tema tentang bagaimana meraih kemuliaan di bulan penuh berkah.
Dalam penyampaiannya, Bunda Tuty menegaskan bahwa puasa harus diawali dengan niat yang kuat serta dilandasi iman dan semangat beribadah. Menurutnya, menahan lapar dan haus hanyalah bagian lahiriah dari puasa, sementara esensi utamanya adalah menjaga diri dari perbuatan yang dapat mengurangi pahala serta memperbanyak amal kebaikan.
Ia mengajak masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung peningkatan ibadah, seperti mengikuti kegiatan tadarus Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, serta memanfaatkan berbagai media dakwah yang dapat menumbuhkan semangat spiritual selama Ramadan. Selain itu, Ramadan disebut sebagai waktu terbaik untuk berburu pahala melalui sedekah dan berbagi kepada sesama, termasuk memberikan makanan berbuka puasa bagi yang membutuhkan.
Bunda Tuty juga mengingatkan pentingnya menyempurnakan ibadah puasa dengan salat tarawih serta menjaga diri dari perilaku maksiat. Menurutnya, puasa sejatinya melatih kemampuan mengendalikan hawa nafsu, termasuk menahan emosi dan menjaga lisan serta pandangan.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa puasa melahirkan berbagai bentuk kecerdasan dalam diri manusia. Pertama, kecerdasan emosional, yakni kemampuan mengendalikan amarah dan bersikap lebih sabar. Kedua, kecerdasan intelektual, yang tumbuh melalui proses belajar dan memahami ilmu fikih serta tuntunan ibadah agar puasa dijalankan secara benar dan bermakna. Ketiga, kecerdasan spiritual, yaitu kesadaran untuk menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas sehingga setiap waktu diisi dengan kebaikan.
Menurutnya, pengalaman merasakan lapar juga menumbuhkan kepekaan sosial, mendorong umat untuk lebih peduli terhadap kaum dhuafa. Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengajak masyarakat untuk memperkuat budaya berbagi melalui sedekah, infak, zakat, dan wakaf, khususnya dalam mendukung para mahasiswi penghafal Al-Qur’an di lingkungan Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta.
Di akhir tausiyahnya, Bunda Tuty menekankan bahwa puasa merupakan ibadah yang bersifat rahasia antara hamba dan Allah. Kesadaran bahwa Allah selalu melihat setiap amal, menurutnya, akan melahirkan kecerdasan transendental yang menjadikan seseorang lebih ikhlas dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Melalui pesan tersebut, ia berharap Ramadan menjadi momentum perubahan, bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi perjalanan spiritual yang mampu membentuk pribadi yang lebih bertakwa dan berakhlak mulia. (FP)




