Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam kembali diingatkan bahwa ibadah puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa merupakan latihan spiritual yang menyentuh cara manusia berpikir, bersikap, dan terutama berbicara. Pesan tersebut disampaikan dalam sebuah tausyiah oleh Muhammad Hizbullah, MA, dosen Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta sekaligus Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IIQ Jakarta.
Dalam penyampaiannya, ia mengajak masyarakat merefleksikan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa Allah tidak membutuhkan puasa seseorang yang masih melakukan dusta dan perbuatan buruk. Hadis tersebut, menurutnya, menjadi pengingat tajam di tengah suasana media sosial yang kerap dipenuhi perdebatan, ujaran emosional, hingga kata-kata yang melukai.
“Puasa bukan hanya soal menahan makan dan minum, tetapi juga bagaimana kita menjaga lisan,” ujarnya. Ia menjelaskan, para ulama, termasuk Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, membagi tingkatan orang berpuasa. Pada tingkat dasar, seseorang hanya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan secara fisik. Namun pada tingkat yang lebih tinggi, seseorang mampu menjaga pendengaran, penglihatan, dan lisannya dari hal-hal yang merusak nilai ibadah.
Menurutnya, kualitas puasa sangat berkaitan dengan kualitas komunikasi seseorang. Di era digital, satu komentar dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih tajam dibandingkan tindakan fisik. Karena itu, sering kali yang mengurangi nilai puasa bukanlah makanan, melainkan narasi yang tidak terjaga dan amarah yang tidak terkendali.
Ia juga mengutip pesan Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Riyadhus Shalihin, bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau memilih diam. Sikap tersebut, lanjutnya, bukan bentuk kelemahan, melainkan tanda kedewasaan iman.
Dalam tausyiah itu, puasa digambarkan sebagai “madrasah komunikasi” yang melatih umat Islam untuk bersikap lebih bijak. Setidaknya ada tiga pelajaran utama yang perlu dihidupkan selama Ramadan: tidak reaktif tetapi reflektif, tidak menyakiti tetapi saling menasihati, serta tidak memperkeruh suasana melainkan menjernihkan keadaan.
Ramadan, pada akhirnya, hadir bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi pembentukan karakter. Di tengah derasnya arus komentar dan perdebatan di ruang digital, bulan suci ini mengajukan pertanyaan mendasar bagi setiap Muslim: apakah puasa benar-benar menjaga lisan, atau hanya sebatas menahan lapar dan dahaga?
Melalui refleksi tersebut, diharapkan ibadah puasa mampu melahirkan pribadi yang lebih tenang dalam sikap, bijak dalam berkata, dan semakin dekat kepada nilai takwa sebagaimana pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. (FP)




