Mahasiswi PAI IIQ Jakarta Lulus 3,5 Tahun, Bukti Sistem Kurikulum Terarah Dorong Percepatan Studi

Mahasiswi PAI IIQ Jakarta Lulus 3,5 Tahun, Bukti Sistem Kurikulum Terarah Dorong Percepatan Studi

TANGERANG SELATAN — Kabar membanggakan datang dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Atsmanih Nurilahi berhasil menuntaskan pendidikan sarjananya hanya dalam waktu 3,5 tahun, sekaligus melaksanakan sidang skripsi pada tahun akademik 2025/2026. Capaian ini menunjukkan bahwa percepatan masa studi dapat diwujudkan melalui kedisiplinan mahasiswa yang didukung sistem akademik yang terstruktur dan terarah.

Mahasiswa kelahiran Karawang, 12 Juli 2003 tersebut tercatat sebagai calon sarjana ke-1781 di IIQ Jakarta. Ia juga memiliki capaian hafalan Al-Qur’an sebanyak 10 juz sebagai bagian dari pembinaan akademik dan spiritual selama menempuh pendidikan.

Dalam sidang skripsi yang berlangsung Jumat (27/2/2026) pukul 08.30 WIB, Atsmanih mempresentasikan penelitian berjudul “Peran Guru Agama dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan Keterbatasan Sarana Prasarana (Studi Kasus SD Negeri Batujaya III Karawang)”. Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh keterbatasan fasilitas pembelajaran yang masih dihadapi sejumlah sekolah, namun tetap memungkinkan proses pendidikan berjalan efektif melalui peran aktif seluruh unsur pendidikan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah, komite sekolah, dan guru agama mampu menjalankan perannya secara optimal dalam mendukung pembelajaran PAI meskipun sarana prasarana terbatas. Kolaborasi seluruh pihak menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas pembelajaran sekaligus pembentukan karakter peserta didik.

Sidang skripsi dilaksanakan dengan Assoc. Prof. Dr. Nadjematul Faizah, S.H., M.Hum., sebagai dosen pembimbing. Adapun tim penguji terdiri dari Dr. Reksiana, MA.Pd selaku Penguji I dan Siti Istiqomah, M.Pd sebagai Penguji II.

Atsmanih menyampaikan rasa syukur sekaligus terima kasih mendalam kepada pembimbingnya, Assoc. Prof. Dr. Hj. Nadjematul Faizah, SH., M.Hum., Rektor IIQ Jakarta sekaligus Dosen Pembimbing Tugas Akhir. Ia mengaku sangat mengagumi sosok guru besarnya tersebut dan merasa terhormat memperoleh bimbingan langsung.

Menurutnya, di tengah padatnya amanah dan kesibukan, pembimbing tetap hadir dengan sepenuh hati memberikan arahan, masukan, serta motivasi ketika dirinya mengalami kebingungan dalam proses penulisan. Kesabaran dan ketelitian pembimbing menjadi kekuatan yang mendorongnya mampu menyelesaikan skripsi hingga tuntas.

Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada Dekan Fakultas Tarbiyah Dr. Syahidah Rena, M.Ed., serta Ketua Prodi PAI Dr. Reksiana, M.Ed., yang dinilai memberikan arahan serta kebijakan akademik yang memudahkan mahasiswa menyelesaikan pendidikan hingga tahap akhir. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dan mendoakan perjalanan studinya.

Dalam sidang tersebut, dosen pembimbing Assoc. Prof. Dr. Nadjematul Faizah, S.H., M.Hum., memberikan pesan khusus agar Atsmanih terus berkarya setelah lulus. Keberhasilan menyelesaikan skripsi dalam waktu 3,5 tahun dinilai sebagai bukti kebiasaan menulis yang harus terus diasah sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Selain itu, pembimbing juga berpesan agar ia tetap menjaga dan melanjutkan hafalan Al-Qur’an di mana pun berada. Ia didorong untuk terus menambah hafalan tanpa harus menunggu target formal tertentu.

Atsmanih mengungkapkan bahwa keinginannya menyelesaikan kuliah lebih cepat didorong oleh rasa tanggung jawab kepada orang tua asuh yang membiayai pendidikannya. Ia ingin memberikan kebahagiaan dan meringankan beban biaya sebagai bentuk rasa terima kasih, meskipun mereka tidak pernah menuntut apa pun.

“Kalau belum bisa memberikan sesuatu yang besar, setidaknya saya ingin membantu meringankan beban akademik dan membuat mereka bahagia,” ungkapnya.

Ia juga membagikan tips agar mahasiswa dapat lulus tepat waktu, yakni konsisten mengerjakan skripsi setiap hari, meskipun hanya menulis sedikit. Inspirasi yang muncul sebaiknya langsung dituliskan agar tidak hilang. Selain itu, mahasiswa tidak perlu takut bertemu dosen pembimbing.

“Kalau bingung dengan skripsi, justru harus bimbingan. Jawabannya biasanya ditemukan saat bertemu dosen pembimbing,” ujarnya.

Ketua Program Studi PAI, Dr. Reksiana, M.Ed., menjelaskan bahwa keberhasilan mahasiswa lulus dalam waktu 3,5 tahun bukanlah kebetulan, melainkan hasil pengaturan kurikulum yang dirancang secara sistematis.

Menurutnya, pengaturan dimulai dari struktur kurikulum berbasis hirarki pembelajaran. Mahasiswa sejak semester 4 sudah mendapatkan mata kuliah metodologi penelitian. Selanjutnya pada semester 6 diberikan mata kuliah seminar proposal (sempro), sehingga proposal penelitian telah diuji lebih awal.

“Ketika masuk semester 7, mahasiswa sudah mendapatkan dosen pembimbing dan langsung menjalani proses bimbingan. Artinya, penulisan skripsi sudah berjalan sejak semester 7,” jelasnya.

Pada akhir semester 7, mahasiswa juga didorong menyelesaikan berbagai ujian komprehensif, termasuk kompre tahfidz, kompre fakultas, dan kompre mata kuliah kekhususan. Fakultas Tarbiyah bahkan menerbitkan surat edaran agar mahasiswa menyelesaikan kompre lebih awal sehingga semester 8 dapat difokuskan sepenuhnya pada penyelesaian skripsi dan pengajuan sidang.

Ia menegaskan bahwa pola ini telah berjalan sekitar tiga tahun terakhir di Prodi PAI Fakultas Tarbiyah dan terbukti menghasilkan lulusan yang mampu menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun.

Keberhasilan Atsmanih diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk mengelola studi secara lebih terencana. Dengan mengikuti alur kurikulum, menyelesaikan seluruh persyaratan akademik tepat waktu, serta aktif melakukan bimbingan, mahasiswa berpeluang lulus lebih cepat.

Selain menjadi kebanggaan pribadi dan keluarga, kelulusan 3,5 tahun juga memberikan manfaat nyata karena mahasiswa tidak perlu membayar biaya kuliah pada semester berikutnya.

Melalui capaian ini, IIQ Jakarta mengajak generasi muda untuk bergabung dan merasakan sistem pendidikan yang suportif. Kuliah di IIQ Jakarta membuka peluang lulus dalam waktu 3,5 tahun, sehingga mahasiswa dapat lebih cepat mengabdi di masyarakat sekaligus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (FP)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp