Jelajahi Praktik Wakaf Turki, Mahasiswa FSEI IIQ Jakarta Belajar Langsung di Pusat Kebudayaan Yunus Emre

Jelajahi Praktik Wakaf Turki, Mahasiswa FSEI IIQ Jakarta Belajar Langsung di Pusat Kebudayaan Yunus Emre

JAKARTA SELATAN — Bukan sekadar belajar dari buku teks, belasan mahasiswa Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta turun langsung ke lapangan untuk menggali praktik zakat dan wakaf dari salah satu negara dengan tradisi wakaf tertua dan terkuat di dunia yaitu Turki.

Sebanyak 13 mahasiswa Program Studi Manajemen Zakat dan Wakaf semester 6 mengunjungi Yunus Emre Enstitüsü (Institut Yunus Emre) Pusat Kebudayaan Turki di Indonesia, yang berlokasi di Jl. Bintaro Taman Timur No. 11, Jakarta Selatan, pada Kamis, 11 Juni 2026, pukul 11.30 hingga 13.00 WIB.

Kunjungan ini merupakan bagian dari perkuliahan mata kuliah Sejarah Perkembangan ZISWAF di Dunia Islam yang diampu oleh Dr. Hendra Kholid, dan dirancang sebagai pengalaman belajar berbasis lapangan (field learning) agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga menyentuh realitas praktik filantropi Islam di tingkat internasional.

Turki Bicara: Wakaf Bukan Sekadar Warisan, Ia Hidup

Momen paling berkesan datang ketika Dr. Cemal Şahin, Direktur Pusat Kebudayaan Turki di Indonesia sekaligus representasi resmi Pemerintah Turki dalam bidang diplomasi budaya dan bahasa, memberikan sambutan dan pemaparan tentang bagaimana zakat dan wakaf dipraktikkan di negara yang pernah menjadi pusat Kekhalifahan Utsmaniyah itu.

“Turki memiliki sejarah panjang dalam pengelolaan wakaf. Sejak era Ottoman, wakaf tidak hanya menjadi instrumen sosial tetapi menjadi tulang punggung peradaban, membiayai rumah sakit, sekolah, hingga dapur umum untuk masyarakat,” papar Dr. Cemal Şahin di hadapan para mahasiswa yang antusias menyimak.

Pemaparan tersebut membuka wawasan para mahasiswa IIQ Jakarta bahwa sistem waqf (wakaf) di Turki telah berevolusi melampaui sekadar tanah atau bangunan berkembang menjadi wakaf produktif yang dikelola secara modern oleh lembaga negara bernama Vakıflar Genel Müdürlüğü (Direktorat Jenderal Yayasan).

Kunjungan berlangsung hangat dan penuh nuansa diplomasi budaya. Selain sesi tanya-jawab yang interaktif, para mahasiswa dan dosen juga disambut dengan hidangan khas Turki kue tradisional dan teh Turki yang menjadi icebreaker tersendiri dalam suasana yang akrab.

Dr. Hendra Kholid, dosen pengampu yang turut mendampingi rombongan, mengungkapkan kebanggaannya menyaksikan semangat belajar para mahasiswanya.

“Mahasiswa sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka tidak hanya mendapatkan ilmu tentang sejarah dan praktik ZISWAF di Turki, tetapi juga membuka peluang beasiswa untuk melanjutkan studi ke Turki. Ini pengalaman yang tidak bisa didapat hanya dari dalam kelas,” ujar Dr. Hendra Kholid.

Diplomasi Keilmuan yang Mempererat Hubungan

Kunjungan ini sejatinya bukan hanya soal tugas akademik. Ia menjadi jembatan kecil antara Indonesia dan Turki yang mana ini adalah dua negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dalam berbagi praktik terbaik pengelolaan instrumen keuangan sosial Islam.

FSEI IIQ Jakarta melalui kunjungan membekali lulusan dengan kemampuan teoritis, serta literasi global tentang bagaimana ekonomi syariah bekerja di berbagai belahan dunia Islam.

Sebelum pamit, rombongan mengucapkan terima kasih kepada Dr. Cemal Şahin atas keramahan dan keterbukaan berbagi pengetahuan.

“Terima kasih kepada Dr. Cemal Şahin dan seluruh keluarga besar Yunus Emre Enstitüsü atas ilmu dan kesempatan yang luar biasa ini. Semoga silaturrahim ini terus berlanjut dan membawa manfaat bagi kedua pihak,” ungkap Dr. Hendra Kholid mengakhiri kunjungan.

Salam zakat wakaf. Salam ekonomi syariah. Salam Turki. (FP)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp