Perkuat Langkah Menuju Kampus Unggul, IIQ Jakarta Hadiri Review Penjaminan Mutu PTKIS Kemenag di Surabaya

Perkuat Langkah Menuju Kampus Unggul, IIQ Jakarta Hadiri Review Penjaminan Mutu PTKIS Kemenag di Surabaya

SURABAYA — Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta kembali memperkuat mutu dan kelembagaan perguruan tinggi. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya Rektor IIQ Jakarta, Associate Prof. Dr. Hj. Nadjmatul Faizah, S.H., M.Hum., bersama Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IIQ Jakarta, Dr. Isman Iskandar, M.Sos., dalam kegiatan nasional Koordinasi dan Review Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS).

Kegiatan strategis yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI ini berlangsung selama tiga hari, Rabu hingga Jumat, 26–28 Agustus 2026, bertempat di Grand Swiss-Belhotel Darmo, Surabaya, Jawa Timur.

Acara yang dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam ini menjadi forum penting bagi PTKIS terpilih se-Indonesia untuk menyelaraskan langkah menuju tata kelola kampus yang bereputasi unggul. Fokus utama kegiatan mencakup penguatan budaya mutu, diferensiasi misi, akuntabilitas kelembagaan, penyusunan Laporan Evaluasi Diri/LKPT, hingga teknis integrasi sistem pengawasan melalui SAPTO 2.0.

Dalam forum tersebut, Prof. Dr. H. Amin Suyitno, M.Ag., Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, menekankan pentingnya setiap perguruan tinggi membangun ekosistem budaya mutu yang hidup dan berkembang sesuai dengan karakter masing-masing kampus.

Menurutnya, budaya mutu tidak boleh berhenti pada pemenuhan dokumen administratif. Perguruan tinggi perlu membangun kekuatan dan distingsi yang benar-benar menjadi identitas serta keunggulan institusinya.

“Membangun budaya mutu di masing-masing kampus dengan segala distingsinya. Kelebihannya kita tonjolkan,” ujar Prof. Amin Suyitno.

Ia menegaskan, keunggulan perguruan tinggi dapat dibangun melalui berbagai bidang, baik riset, pengabdian kepada masyarakat (PKM), maupun kekuatan akademik lainnya. Setiap kampus perlu menemukan bidang yang menjadi kekuatan utamanya dan kemudian mengembangkannya secara konsisten.

“Menonjol di risetnya, menonjol PKM-nya, dan lain-lain,” lanjutnya.

Prof. Amin juga mengingatkan bahwa membangun budaya mutu membutuhkan proses yang berkelanjutan. Karena itu, kualitas perguruan tinggi tidak semestinya hanya diukur dari kelengkapan dokumen atau pencapaian administratif.

“Bicara kualitas bukan bicara dokumen. Bicara kualitas adalah pengakuan, alumni, outcome,” tegas Prof. Amin Suyitno.

Menurutnya, pengakuan publik terhadap perguruan tinggi tidak selalu berjalan paralel dengan dokumen dan capaian administratif yang dimiliki. Kondisi ketika dokumen perguruan tinggi terlihat sangat kuat, tetapi belum memperoleh kepercayaan publik, justru perlu menjadi perhatian serius.

“Pengakuan publik tidak paralel dengan dokumen yang kita miliki. Kalau sampai ada pengakuan dokumen menjulang, tetapi pengakuan publiknya tidak ada, itu bahaya,” ujarnya.

Ia mengingatkan perguruan tinggi agar tidak hanya mengejar nama dan status, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat. Menurutnya, kondisi ideal adalah ketika reputasi akademik dan administratif berjalan beriringan dengan pengakuan serta kepercayaan publik.

“Jangan sampai terbebani nama, tapi kepercayaan publik kurang. Yang paling bagus paralel. Reputasi kuat dan mendapat kepercayaan publik juga,” kata Prof. Amin Suyitno.

Lebih lanjut, budaya mutu harus dipandang sebagai salah satu kekuatan yang dapat dikapitalisasi oleh perguruan tinggi. Karena itu, pembangunan budaya mutu perlu dilakukan secara menyeluruh melalui sebuah ekosistem yang mendorong munculnya kekuatan khas setiap institusi.

Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi juga didorong untuk memperkuat bahasa dan narasi keunggulannya. Paradigma dalam mengelola program studi perlu terus diperbarui agar tidak hanya berorientasi pada pemenuhan standar, tetapi juga mampu menunjukkan keunikan dan kekuatan yang membedakannya dari perguruan tinggi lain.

Sementara itu, Prof. Dr. Fajri Ismail, M.Pd.I., dalam forum tersebut turut menyoroti urgensi akreditasi bagi perguruan tinggi dan program studi. Menurutnya, akreditasi memiliki dimensi psikologis, sosiologis, sekaligus pragmatis bagi masyarakat.

Dari sisi pragmatis, status akreditasi menjadi salah satu pertanyaan penting bagi para pencari kerja maupun calon mahasiswa ketika menilai sebuah program studi.

“Jobseeker apa akreditasi prodimu. Orang mau kuliah yang dikejar itu akreditasi,” jelas Prof. Fajri.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa predikat akreditasi unggul sekalipun tidak otomatis menjamin kualitas sebuah program studi apabila tidak dibarengi dengan keunggulan nyata yang dapat dirasakan dan diakui masyarakat.

Sebaliknya, ketika sebuah program studi belum memperoleh predikat unggul, perguruan tinggi harus memiliki kekuatan lain yang dapat ditawarkan. Salah satunya melalui produktivitas dan reputasi akademik.

Karena itu, ia mendorong perguruan tinggi untuk mulai memperkuat sosialisasi mengenai keunggulan dan capaian program studi kepada publik. Keunggulan yang telah dibangun perlu dikomunikasikan secara konsisten agar semakin dikenal dan memperoleh pengakuan masyarakat.

Kehadiran langsung pimpinan tertinggi IIQ Jakarta, Rektor Associate Prof. Dr. Hj. Nadjmatul Faizah, S.H., M.Hum., bersama Ketua LPM Dr. Isman Iskandar, M.Sos., menegaskan keberadaan IIQ Jakarta di barisan terdepan transformasi mutu PTKIS. Sebagai perguruan tinggi berbasis keilmuan Al-Qur’an, IIQ Jakarta terus berbenah dan beradaptasi dengan standar akreditasi nasional terbaru guna mencetak lulusan yang tidak hanya berakhlak mulia, tetapi juga berdaya saing global.

“Penguatan sistem penjaminan mutu merupakan kunci utama bagi perguruan tinggi untuk memastikan keberlanjutan kualitas pendidikan,” ungkap penyelenggara dalam arahannya.

Rangkaian kegiatan juga diisi oleh jajaran narasumber dan tim ahli Kemenag RI, di antaranya Prof. Dr. Fajri Ismail, M.Pd.I., dan Yusuf Nalim, M.Si., serta pengarahan khusus dari Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI. Forum ini ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan menjadi pijakan implementasi penjaminan mutu di masing-masing kampus.

Melalui keikutsertaan aktif ini, IIQ Jakarta semakin optimistis melangkah menuju pencapaian akreditasi unggul dan memperkokoh posisinya sebagai pusat keunggulan studi Al-Qur’an di Indonesia. (FP)

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp