Al-Qur’an dan Pemberdayaan Perempuan: Dr. Siti Tuti Rahmawati Tegaskan Kesetaraan Peran

Al-Qur’an dan Pemberdayaan Perempuan: Dr. Siti Tuti Rahmawati Tegaskan Kesetaraan Peran

TANGERANG SELATAN — Dr. Siti Tuti Rahmawati menegaskan bahwa Al-Qur’an memberikan ruang yang setara bagi laki-laki dan perempuan untuk melakukan amal kebajikan serta meraih kemuliaan di hadapan Allah. Hal tersebut disampaikannya dalam Kajian Kuliah Ramadhan (KURMA) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta yang mengangkat tema “Relevansi Studi Al-Qur’an dalam Pemberdayaan Perempuan.”

Dalam pemaparannya, ia merujuk pada Surah An-Nahl ayat 97 yang menegaskan bahwa siapa pun yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan beriman kepada Allah, akan memperoleh kehidupan yang baik serta balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

“Al-Qur’an menegaskan bahwa peluang untuk berbuat kebaikan dan meraih kemuliaan di sisi Allah terbuka bagi siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan. Yang menjadi ukuran adalah iman dan amal saleh, bukan jenis kelamin,” ujarnya.

Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak membedakan peluang kebaikan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya ditempatkan dalam posisi yang saling melengkapi sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing dalam kehidupan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sejarah Islam telah menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW mengangkat derajat perempuan yang pada masa jahiliah dipandang rendah. Melalui ajaran Islam, perempuan mendapatkan pengakuan atas martabat dan haknya, termasuk dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial.

“Islam datang untuk memuliakan perempuan. Jika pada masa jahiliah perempuan sering dipandang rendah, maka Islam justru mengangkat martabatnya dan memberikan hak yang jelas dalam berbagai aspek kehidupan,” jelasnya.

Dr. Siti Tuti Rahmawati juga menekankan pentingnya pendidikan sebagai kunci utama pemberdayaan perempuan. Menurutnya, perempuan yang berilmu akan mampu membangun kepercayaan diri, mengambil keputusan dengan bijaksana, serta memberikan kontribusi nyata bagi keluarga dan masyarakat.

“Perempuan yang berilmu tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan lingkungannya. Dari tangan perempuan yang terdidik akan lahir generasi yang kuat secara moral, intelektual, dan spiritual,” katanya.

Ia menilai bahwa anggapan yang menyatakan perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi karena akhirnya akan kembali pada peran domestik merupakan pandangan yang perlu diluruskan. Justru perempuan yang terdidik akan mampu melahirkan dan mendidik generasi yang berkualitas serta berdaya saing.

Dalam konteks kehidupan modern, ia juga menyebutkan bahwa perempuan memiliki kesempatan luas untuk berkiprah di berbagai bidang, termasuk pendidikan, ekonomi, dan kepemimpinan. Namun demikian, keterlibatan perempuan di ruang publik tetap perlu berjalan selaras dengan nilai-nilai keluarga dan kodratnya sebagai perempuan.

“Perempuan memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi di berbagai bidang. Namun pada saat yang sama, peran keluarga tetap menjadi fondasi penting yang tidak boleh diabaikan,” tambahnya.

Sementara itu, host kajian, Dr. Khusna Farida, menegaskan bahwa kajian ini sejalan dengan visi IIQ Jakarta sebagai perguruan tinggi yang berkomitmen mencetak perempuan-perempuan berilmu yang mampu berkontribusi dalam masyarakat. Menurutnya, studi Al-Qur’an tidak hanya berhenti pada kajian akademik, tetapi juga harus melahirkan pemahaman yang relevan dengan kebutuhan sosial, termasuk dalam upaya pemberdayaan perempuan.

Kegiatan yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi IIQ Jakarta ini membahas bagaimana Al-Qur’an memandang peran dan kontribusi perempuan dalam kehidupan sosial, pendidikan, serta pembangunan masyarakat.

Dengan pendidikan yang kuat dan pemahaman keagamaan yang mendalam, perempuan diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya berperan dalam keluarga, tetapi juga dalam pembangunan masyarakat dan peradaban. (FP)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp