TANGERANG SELATAN — Dr. Hj. Romlah Widayati, MA menyatakan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an tidak hanya mengingatkan umat pada peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi pengingat penting untuk memperkuat kembali tekad umat Islam dalam menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Hal tersebut disampaikannya dalam peringatan Nuzulul Qur’an yang dirangkaikan dengan penutupan rangkaian kegiatan Ramadhan 1447 H pada Jumat (6/3/2026) di Masjid Raudhatul Qur’an IIQ Jakarta.
“Al-Qur’an yang dahulu turun dari langit kini harus benar-benar membumi dalam kehidupan kita. Mudah-mudahan dari langit turun ke bumi dan dari bumi kembali melangit melalui amal dan ilmu yang kita amalkan,” ujarnya.
Warek I IIQ Jakarta ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun melalui Malaikat Jibril. Metode penurunan yang bertahap tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari pendidikan ilahi agar ajaran Al-Qur’an mudah dipahami, dihayati, dan diamalkan oleh umat manusia.
Dr Romlah juga mengingatkan bahwa meskipun wahyu telah berhenti setelah wafatnya Rasulullah SAW, Al-Qur’an tetap terjaga melalui hafalan dan tulisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi menjaga Al-Qur’an inilah yang terus dilanjutkan oleh para penghafal Al-Qur’an hingga hari ini.
“Para penghafal Al-Qur’an adalah keluarga Allah yang memiliki kedudukan istimewa. Tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak mereka akan memperoleh kemuliaan dan bahkan dapat memberikan syafaat kepada keluarganya,” jelasnya.
Dalam tausiyahnya, Dr. Romlah juga menekankan bahwa bulan Ramadhan merupakan waktu yang sangat berharga untuk membentuk tiga jenis kecerdasan sekaligus, yakni kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan intelektual.
Menurutnya, ibadah puasa melatih manusia untuk mengendalikan emosi, menumbuhkan kesabaran, serta memperkuat empati terhadap sesama. Karena itu Ramadhan sering disebut sebagai syahrus shabr atau bulan kesabaran.
“Kesabaran adalah kunci keberhasilan, termasuk dalam menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an. Tanpa kesabaran, seseorang akan mudah menyerah,” katanya.
Selain itu, Ramadhan juga menjadi sarana untuk memperkuat kecerdasan spiritual melalui peningkatan ibadah, membaca Al-Qur’an, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia mengajak para mahasantri untuk memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan memperbanyak ibadah dalam rangka meraih malam Lailatul Qadar.
“Al-Qur’an harus menjadi teman setia kita. Semakin sering dibaca dan dikaji, semakin banyak mutiara ilmu yang kita temukan di dalamnya,” ungkapnya.
Dr Romlah juga menegaskan bahwa kecerdasan intelektual akan tumbuh apabila seseorang memiliki kedalaman spiritual dan kematangan emosional. Ia mendorong para mahasantri untuk terus belajar, menulis, dan mengembangkan keilmuan Al-Qur’an sebagaimana yang dicontohkan para ulama.
Ia juga mengingatkan bahwa ilmu yang dibagikan kepada orang lain tidak akan berkurang, melainkan justru bertambah dan memberikan keberkahan bagi pemiliknya.
Pada akhir tausiyahnya, Romlah mengajak seluruh mahasantri IIQ Jakarta untuk terus melanjutkan estafet perjuangan para ulama dalam menjaga dan mengembangkan ilmu Al-Qur’an. Ia menegaskan bahwa IIQ Jakarta memiliki peran penting sebagai lembaga yang berkomitmen mencetak generasi penjaga Al-Qur’an.
“Jangan merasa minder. IIQ adalah salah satu barometer dalam keilmuan Al-Qur’an. Kita harus bangga dan terus menjaga khittah perjuangan ini,” pesannya. (FP)





