Rektor IIQ: “Di Dunia Maya Kita Tak Terlihat Manusia, Tapi Tetap Terlihat oleh Allah”

Rektor IIQ: “Di Dunia Maya Kita Tak Terlihat Manusia, Tapi Tetap Terlihat oleh Allah”

Jakarta — Himpunan Mahasiswa Universitas Indonesia menggelar webinar nasional bertajuk “Menjaga Martabat di Era Digital: Perspektif Nilai Keagamaan dalam Pergaulan di Dunia Nyata dan Maya” pada Kamis (23/4). Kegiatan ini menghadirkan Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Prof. Dr. Hj. Nadjmatul Faizah, S.H., M.Hum., sebagai narasumber utama.

Webinar yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom ini merupakan kolaborasi sejumlah komisariat dari Universitas Indonesia dan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), serta diikuti oleh mahasiswa dan peserta dari berbagai kalangan.

Dalam pemaparannya, Dr Nadjmatul Faizah menyoroti tantangan menjaga martabat di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Ia menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, kehidupan manusia tidak hanya mencakup hubungan dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga dengan sesama manusia (hablum minannas), termasuk dalam interaksi di ruang digital.

“Kita hidup di era ketika batas antara dunia nyata dan dunia maya semakin kabur. Di balik layar, seseorang bisa tampil berbeda dari jati dirinya. Di sinilah martabat diuji,” ujarnya.

Ia menjelaskan, nilai-nilai akademik seperti kebenaran, kejujuran, dan keadilan harus menjadi kompas moral dalam bermedia sosial. Prinsip tersebut, menurutnya, relevan untuk mencegah penyebaran hoaks, manipulasi informasi, hingga praktik perundungan digital.

Lebih jauh, ia mengaitkan etika digital dengan nilai-nilai Al-Qur’an, khususnya dalam QS. Luqman ayat 12–19 yang mengajarkan sikap syukur, menjaga tauhid, berbakti kepada orang tua, serta menjaga lisan dan perilaku.

Dalam konteks media sosial, ia menekankan pentingnya tabayyun atau klarifikasi informasi sebelum menyebarkan, serta menjauhi ghibah, fitnah, dan ujaran kebencian. Hal ini juga diperkuat dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 24 Tahun 2017 yang mengatur etika bermedia sosial dalam perspektif hukum Islam.

Sebagai refleksi, ia mencontohkan keteladanan Imam Bukhari yang melakukan verifikasi ketat terhadap ratusan ribu hadis sebelum menetapkan hadis sahih. Menurutnya, prinsip kehati-hatian tersebut sangat relevan di era digital saat ini.

“Jika ulama dahulu begitu teliti, mengapa hari ini kita begitu mudah menyebarkan informasi tanpa verifikasi?” katanya.

Ia juga menawarkan langkah praktis dalam menjaga martabat digital, seperti berhenti sejenak sebelum memposting, memverifikasi informasi sebelum membagikan, serta mengedepankan empati dalam berkomentar.

Menutup pemaparannya, ia mengingatkan bahwa setiap aktivitas di dunia digital akan dipertanggungjawabkan.

“Di dunia maya kita mungkin tidak terlihat manusia, tetapi tetap terlihat oleh Allah,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, panitia berharap peserta dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta menjadikan ruang digital sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai kebaikan. (FP)

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp