Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta kembali menggelar Kuliah Ramadan (Kurma) pada hari ke-12 Ramadan 1447 Hijriah dengan mengangkat tema “Relasi Manusia sebagai Khalifah dan Alam.” Kajian yang berlangsung di lingkungan IIQ Jakarta ini dihadiri oleh para mahasantri dan civitas akademika IIQ Jakarta.
Tema yang diangkat dinilai sangat relevan dengan kondisi global saat ini. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena perubahan iklim semakin terasa nyata. Cuaca yang tidak menentu, musim yang sulit diprediksi, hingga meningkatnya intensitas bencana alam menjadi tanda bahwa bumi sedang menghadapi tekanan serius. Isu ekologi bahkan menjadi perhatian berbagai institusi, termasuk Kementerian Agama, yang mulai mengarusutamakan kesadaran lingkungan dalam perspektif keagamaan.
Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Associate Prof. Dr. H. Muhammad Ulin Nuha Husnan, M.A., yang hadir sebagai narasumber, menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah menegaskan posisi manusia sebagai khalifah fil ardh sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 30. “Secara kebahasaan, kata khalifah berarti pengganti atau wakil. Dalam khazanah tafsir, ada beberapa arus pemahaman, tetapi yang paling relevan hari ini adalah manusia sebagai wakil Allah dalam menjalankan amanah-Nya di bumi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa relasi manusia dan alam dalam perspektif Al-Qur’an bukanlah relasi dominasi dan eksploitasi. “Hubungan manusia dengan alam bukan hubungan penguasa dan yang dikuasai, melainkan hubungan simbiosis mutualisme—saling membutuhkan dan saling melengkapi,” tegasnya. Menurutnya, manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa absolut, melainkan sebagai penjaga keseimbangan. Ketika manusia melampaui batas, kerusakan pun menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.
Dalam Surah Hud disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dari tanah dan memerintahkannya untuk memakmurkan bumi (istikmar). Perintah ini dimaknai sebagai thalabul imarah, yakni tuntutan aktif untuk membangun dan menjaga keberlangsungan alam. “Jika bumi ingin tetap lestari, maka manusialah yang harus mengambil peran menjaga dan merawatnya. Ketika kerusakan terjadi, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan penyesalan, tetapi juga perbaikan nyata,” paparnya.
Menurutnya, dosa dan pelanggaran terhadap manhaj Allah berimplikasi pada ketidakseimbangan semesta. Karena itu, dibutuhkan apa yang ia sebut sebagai “pertobatan ekologis.” “Pertobatan ekologis bukan sekadar istigfar di lisan, tetapi kesadaran mendalam yang diwujudkan dalam tindakan konkret—seperti reboisasi, pengelolaan sampah berbasis 3R, dan komitmen untuk tidak melakukan perusakan sekecil apa pun,” ujarnya.
Dalam dialog malaikat pada Surah Al-Baqarah ayat 30, disebutkan dua potensi destruktif manusia: melakukan kerusakan dan menumpahkan darah. Dua hal ini menjadi penghalang utama terwujudnya imaratul ardh (kemakmuran bumi). Karena itu, sebelum memakmurkan bumi, manusia harus melakukan imaratun nafsi—memperbaiki dan menyucikan diri melalui tazkiyatun nafsi. “Tanpa jiwa yang bersih dan kesadaran moral yang kuat, mustahil bumi dapat dikelola secara adil dan berkelanjutan,” jelasnya.
Kepada para mahasantri penghafal Al-Qur’an, ia menyampaikan pesan khusus agar hafalan tidak berhenti pada teks, tetapi menjelma menjadi aksi nyata. “Menghafal ayat tentang larangan merusak bumi tanpa mengamalkannya adalah bentuk kelalaian yang serius,” tegasnya. Ia mendorong agar nilai-nilai Qur’ani diwujudkan melalui tindakan sederhana seperti menanam pohon, menjaga kebersihan, dan mengelola sampah dengan bijak.
Melalui Kurma hari ke-12 ini, IIQ Jakarta menghadirkan kajian Islam yang responsif terhadap isu-isu kontemporer. Ramadan menjadi momentum refleksi sekaligus panggilan aksi ekologis. Manusia diciptakan bukan untuk mengeksploitasi bumi tanpa batas, melainkan untuk merawat dan mempertanggungjawabkannya kepada generasi mendatang.
Kajian ditutup dengan ajakan untuk memulai perubahan dari diri sendiri. “Pertobatan ekologis dimulai dari kesadaran, dilanjutkan dengan tindakan nyata, dan diperkuat dengan komitmen kolektif,” pungkasnya. Sebab pada akhirnya, bumi yang rusak bukanlah takdir, melainkan cerminan dari kelalaian manusia yang belum sepenuhnya kembali pada amanahnya sebagai khalifah.




