Haul Abah KH. Ibrahim Hosen ke-25 di Pesantren IIQ Jakarta, Merawat Cinta dan Amanah Al-Qur’an

Peringatan Haul ke-25 almaghfurlah Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML dan Haul ke-9 almarhumah Hj. Zatiah Kadir digelar khidmat di Pesantren Takhasus Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Minggu (1/2/2026). Acara yang dirangkai dengan doa bersama menyambut bulan suci Ramadhan ini menjadi ruang perjumpaan orang-orang yang disatukan oleh kecintaan pada Al-Qur’an serta komitmen menjaga warisan keilmuan para pendiri IIQ.

Sejak pagi, suasana pesantren dipenuhi lantunan ayat suci melalui khataman Al-Qur’an 30 juz yang dibaca oleh mahasiswa IIQ Jakarta. Rangkaian ibadah dilanjutkan dengan doa khotmil Qur’an oleh Dr. KH. Ahmad Fathoni, Lc, MA, pembacaan Ratibul Haddad oleh Dr. Istiqomah, MA, dan shalawat bersama. Tradisi ini mencerminkan bahwa haul di lingkungan IIQ bukan sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga ruh Al-Qur’an dalam kehidupan.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Ir. H.M. Nadratuzzaman Hosen menyampaikan rasa syukur karena seluruh hadirin dapat berkumpul di tengah orang-orang yang mencintai Al-Qur’an. Menjelang Ramadhan, ia mengenang kebiasaan almarhum Abah KH. Ibrahim Hosen yang kerap mengundang keluarga besar untuk berdoa bersama. Ia juga menuturkan bahwa Abah hampir selalu berusaha menghadiri acara haul. “Bagi Abah, haul itu ekspresi cinta seorang anak kepada orang tuanya. Cinta itu tidak berhenti meski orang tua telah wafat,” ujarnya.

Ia menambahkan, Ratibul Haddad yang dibaca dalam rangkaian haul merupakan wirid yang biasa diamalkan Abah semasa hidup. Karena itu, pembacaan wirid tersebut bukan sekadar ritual, melainkan bentuk kesinambungan amalan dan nilai-nilai yang diwariskan.

Pak Nadratuzzaman juga mengingatkan bahwa pesan Abah kepada IIQ sangat jelas, yakni menjaga Ulumul Qur’an dan Ulumul Hadis sebagai pokok kajian. Karena itu, para alumni sengaja diundang agar nilai-nilai tersebut tetap dipahami dan dijaga. “Jangan sampai ciri khas Al-Qur’an dalam diri alumni IIQ hilang,” tegasnya. Ia kembali menekankan keyakinan Abah bahwa kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan perempuan, yang menjadi ruh pendirian IIQ Jakarta.

Refleksi tersebut diperdalam melalui tausiyah Prof. Dr. Nadirsyah Hosen. Ia mengingatkan bahwa IIQ adalah milik umat dan merupakan amanah bersama yang visinya harus terus dijaga. Menurutnya, mahasiswa IIQ patut berbangga sekaligus menyadari amanah besar yang diemban, mahasiswa IIQ adalah mereka yang telah memahami pilihan hidupnya karena tidak semua orang dapat menempuh jalan sebagai penghafal dan penjaga Al-Qur’an. “Kalau visinya tidak dijaga, IIQ tidak akan berbeda dengan lembaga lain,” ujarnya.

Menjelang bulan suci Ramadhan, Gus Nadirsyah juga menyoroti tantangan ibadah di era media sosial. Ia menilai bahwa ibadah kerap bergeser menjadi ajang pencitraan, padahal puasa sejatinya adalah ibadah yang sunyi dan bersifat personal. “Puasa itu ibadah yang penuh rahasia antara hamba dan Tuhannya. Semoga Ramadhan kita dijalani tanpa dorongan pencitraan, karena puasa adalah ibadah khusus untuk Allah” tuturnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa perjuangan membangun IIQ merupakan investasi jangka panjang. Proses mencetak generasi perempuan Qurani membutuhkan waktu, kesabaran, dan istiqamah. “Ada hal-hal yang memang tidak perlu kita lihat hasilnya sekarang,” katanya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa salah satu visi utama pendirian IIQ adalah melahirkan perempuan-perempuan hebat. Pendidikan untuk mencetak generasi emas, menurutnya, bahkan dimulai jauh sebelum bangku kuliah, yakni sejak memilih pasangan hidup. Pernikahan adalah ibadah, namun perlu direnungkan maknanya jika dijalani tanpa cinta. Ia meneladani hubungan kedua orang tuanya sebagai pasangan ideal yang saling mendukung dan menghadirkan romantisme penuh keberkahan. “Carilah pasangan yang mampu menutupi kekurangan kita sekaligus mendorong kita menjadi versi terbaik dari diri sendiri,” pesannya.

Dalam konteks keilmuan, Gus Nadirsyah menekankan pentingnya menjaga kekhususan IIQ sebagai perguruan tinggi Al-Qur’an yang terbuka dan inklusif. Alumni IIQ diharapkan siap belajar dari siapa pun dan dari mazhab mana pun. Mengutip kaidah Imam Sya’roni dalam Mîzân al-Kubrâ, ia menjelaskan bahwa orang awam pada dasarnya tidak bermazhab secara metodologis, sehingga diperbolehkan mengikuti pendapat yang dianggap paling memudahkan. Pesan Abah, katanya, jelas agar umat tidak terikat secara kaku pada satu mazhab, melainkan menyikapi perbedaan pendapat dengan ilmu dan kedewasaan.

Ia menutup tausiyahnya dengan refleksi bahwa IIQ Jakarta adalah investasi masa depan yang tidak dibangun dengan pencitraan dan tidak menghasilkan dampak instan. Donasi kepada IIQ pun, menurutnya, bukan untuk mencari pengakuan, karena hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Mencetak generasi perempuan yang cerdas membutuhkan waktu panjang dan kesabaran. “Ada hal-hal yang memang tidak perlu kita lihat hasilnya sekarang” pungkasnya.

Pada kesempatan haul ini, keluarga mendoakan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan IIQ Jakarta, sekaligus menyampaikan ucapan selamat kepada para mahasiswa yang memasuki semester genap Tahun Akademik 2026, termasuk sejumlah kelas yang mulai melaksanakan perkuliahan di Gedung Hj. Zatiah Kadir.

Acara haul yang di pandu oleh Dr. Ahmad Syukron, MA (Kaprodi Program Doktor IAT IIQ Jakarta) ini ditutup dengan doa bersama yang di pimpin oleh Dr. KH. Abdul Wahab Abd Muhaimin, Lc, MA dan ramah tamah. Melalui peringatan ini, IIQ Jakarta menghadirkan kesadaran bahwa warisan Abah dan Ibu bukan sekadar untuk dikenang, melainkan amanah yang harus terus dijaga—merawat cinta pada Al-Qur’an dan menghidupkan visi pendidikan perempuan. (FP)