Ihsan sebagai Fondasi Integritas Akademik, Dr. Samsul Ariyadi Tekankan Kesadaran Pengawasan Tuhan

Ihsan sebagai Fondasi Integritas Akademik, Dr. Samsul Ariyadi Tekankan Kesadaran Pengawasan Tuhan

Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta kembali menggelar Kajian Kuliah Ramadhan (KURMA) dengan menghadirkan diskusi keislaman yang relevan dengan dunia akademik. Pada sesi kali ini, tema yang diangkat adalah “Aktualisasi Nilai Ihsan: Membangun Integritas Akademik Melalui Kesadaran Pengawasan Tuhan.” Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Samsul Ariyadi, M.Ag., selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Pascasarjana IIQ Jakarta sebagai narasumber, dengan H. Indra Marzuki, M.A. bertindak sebagai host.

Dalam pemaparannya, Dr. Samsul Ariyadi menjelaskan bahwa konsep ihsan tidak hanya dimaknai sebagai perbuatan baik kepada sesama, tetapi memiliki makna yang jauh lebih luas dan mendalam. Menurutnya, ihsan merupakan sikap melakukan kebaikan secara optimal yang melahirkan dampak positif bagi orang lain dan lingkungan. Ia menekankan bahwa dalam perspektif keilmuan Islam, ihsan dapat dipahami sebagai perilaku yang tidak sekadar memenuhi kewajiban, tetapi juga memberikan kontribusi yang melampaui batas minimal yang seharusnya dilakukan.

Ia mengutip pandangan ulama klasik Al-Asfahani yang menjelaskan bahwa ihsan memiliki dua makna utama, yaitu memberikan nikmat atau manfaat kepada orang lain serta melakukan perbuatan yang dinilai baik. Dari dua pengertian tersebut, ihsan dipahami sebagai nilai universal yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan dan akademik.

Lebih lanjut, Dr. Samsul Ariyadi menegaskan bahwa Al-Qur’an secara eksplisit memerintahkan umat manusia untuk menegakkan nilai keadilan dan ihsan. Ia merujuk pada Surah An-Nahl ayat 90 yang menyebutkan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berlaku adil dan berbuat ihsan. Menurutnya, dalam hierarki nilai, ihsan bahkan memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan sekadar berlaku adil. Jika adil berarti menunaikan kewajiban dan mengambil hak secara seimbang, maka ihsan adalah ketika seseorang memberikan lebih dari yang seharusnya ia lakukan sebagai bentuk kebajikan.

Dalam konteks akademik, nilai ihsan menurutnya dapat diwujudkan melalui dedikasi, integritas, dan kontribusi yang maksimal dalam menjalankan tugas-tugas akademik. Seorang akademisi tidak hanya bekerja sekadar memenuhi tanggung jawab formal, tetapi juga menghadirkan kualitas terbaik dalam pengabdian ilmiah, penelitian, maupun proses pembelajaran.

Ia juga mengaitkan konsep ihsan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika tidak mampu melihat-Nya maka seseorang harus menyadari bahwa Allah senantiasa melihat dirinya. Kesadaran spiritual inilah yang, menurutnya, dapat menjadi landasan kuat dalam membangun integritas akademik yang bersih dari penyimpangan.

“Ketika seseorang bekerja dengan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi, maka setiap aktivitas akan dilakukan dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan keikhlasan,” ujarnya.

Dr. Samsul Ariyadi juga menyinggung gagasan pemikir Muslim Kuntowijoyo tentang pentingnya “merohanikan aktivitas,” yaitu menjadikan setiap aktivitas kehidupan, termasuk kegiatan akademik, sebagai bagian dari penghambaan kepada Allah. Dengan demikian, pekerjaan ilmiah tidak hanya bernilai profesional, tetapi juga memiliki dimensi spiritual.

Ia menambahkan bahwa nilai ihsan akan melahirkan kontribusi yang bermakna dan dikenang oleh masyarakat. Menurutnya, seseorang akan dikenang bukan karena kedudukannya semata, tetapi karena kebaikan dan kontribusi yang pernah ia berikan. (FP)

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp