TANGERANG SELATAN — Sebanyak 19 mahasiswi Program Studi Ilmu Qur’an dan Tafsir (IQTI) Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor bersama 3 dosen pembimbing menggelar Academic Tour dan silaturahim ke Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Selasa (13/10/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian Studi Pengayaan Lapangan (SPL) selama tujuh hari di wilayah Jakarta dan sekitarnya guna memperluas wawasan akademis serta perspektif metodologi pengkajian Al-Qur’an.
Kegiatan yang mengusung tema “Memperluas Perspektif Ilmu Qira’at dan Rasm Utsmani dalam Pengembangan Kajian Al-Qur’an” ini bertujuan mendalami dinamika studi Al-Qur’an yang terus hidup dan berkembang di kawasan metropolitan. Perwakilan dosen pembimbing UNIDA Gontor mengungkapkan bahwa para mahasiswi yang mengikuti kegiatan ini merupakan mahasiswi kategori guru yang membagi waktunya antara mengajar di pagi hari dan menuntut ilmu di sore hari.
“SPL kami di Jakarta ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana Al-Qur’an tetap hidup di wilayah metropolitan dengan berbagai ragam institusinya. Harapannya, kegiatan ini memicu semangat baru bahwa belajar Al-Qur’an di mana pun tetap relevan dan dari berbagai guru, sehingga mereka memperoleh wawasan baru khususnya di bidang qira’at,” ujar perwakilan pembimbing UNIDA Gontor dalam sambutannya.
“Selain menambah pengalaman, tujuan utama dari kegiatan ini adalah mendorong mahasiswa menemukan ide dan judul riset baru untuk tugas akhir agar mereka dapat menyelesaikan perkuliahan tepat waktu. Kami berharap sepulang dari kegiatan ini, mayoritas mahasiswi yang berasal dari Sumatra ini dapat mengembangkan dan menyebarkan ilmu Al-Qur’an di daerah asal masing-masing,” tambah perwakilan pembimbing UNIDA Gontor.
Kehangatan Sambutan IIQ Jakarta dan Dorongan Kolaborasi Akademis
Kunjungan rombongan UNIDA Gontor ini disambut hangat oleh pimpinan IIQ Jakarta, yang diwakili oleh Direktur Pascasarjana IIQ Jakarta, Dr. Muhammad Azizan Fitriana, M.A. Dalam sambutannya, Dr. Azizan menyampaikan apresiasi mendalam atas jalinan silaturahim dan kolaborasi antarlembaga pendidikan Al-Qur’an ini.
“Selamat datang di Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta. Ini merupakan pertemuan yang luar biasa dan seingat saya ini adalah yang kedua atau bahkan ketiga kalinya. Semoga ini menjadi bagian dari perintah Allah untuk selalu berkolaborasi serta ikhtiar melanggengkan warisan Rasulullah saw,” ungkap Dr. Azizan Fitriana.
Dr. Azizan menjelaskan bahwa IIQ Jakarta memiliki keunggulan takhassus di bidang ilmu Qira’at dan Rasm Utsmani, serta terus mendukung pengembangan karya ilmiah mahasiswa yang relevan dengan kebutuhan zaman. Beliau juga memaparkan struktur akademik IIQ Jakarta yang terdiri dari 10 program studi pada tingkat sarjana hingga doktoral.
“Sebagai mahasiswa ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, output utama adalah karya tulis. Kami berharap melalui pemaparan dari para pakar qira’at kami hari ini, adik-adik semua bisa mendapatkan pencerahan dan membawa ‘sangu’ berupa draf judul skripsi maupun proposal tugas akhir yang matang saat pulang nanti,” imbau Dr. Azizan.
Beliau juga menyampaikan salam hangat dari Rektor IIQ Jakarta Associate Prof. Dr. Hj. Nadjmatul Faizah serta Dekan Fakultas Ushuluddin Dr. Muhammad Ulinnuha yang berhalangan hadir, sembari membagikan referensi karya ilmiah dan buku digital terbitan dosen IIQ Jakarta terkait integrasi Al-Qur’an dan sains untuk dipelajari oleh para mahasiswi.
Pemaparan Kepakaran Qira’at dan Bedah Mushaf Nusantara hingga Dunia
Melengkapi sambutan jajaran pimpinan, Ketua Lembaga Tahfizh dan Qiroat Al-Quran (LTQQ) IIQ Jakarta, Dr. Istiqomah, M.A., turut memberikan pemaparan komprehensif mengenai kekhasan kurikulum keilmuan di IIQ Jakarta. Beliau menegaskan bahwa kajian keilmuan Al-Qur’an di IIQ dirancang secara berjenjang dari tingkat sarjana hingga doktoral, mencakup Ilmu Qira’at, Rasm Utsmani, Ilmu Dhabith, hingga Kajian Mushaf.
“IIQ Jakarta memiliki kekhususan tersendiri sesuai namanya. Mata kuliah yang wajib ada di sini adalah Ilmu Qira’at dan Rasm Utsmani, serta tahfizh. Di tingkat S1 dipelajari kaidah dan praktiknya hingga 6 semester, kemudian dikembangkan pendalamannya di jenjang S2 dan S3 hingga menjadi riset disertasi, seperti kajian Taujihul Qira’at,” jelas Dr. Istiqomah.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Istiqomah juga memperkenalkan metode tahsin tartil Al-Qur’an khas IIQ Jakarta bernama metode Maisuro, yang terinspirasi dari ayat Al-Qur’an dan dirumuskan oleh ulama IIQ, Bapak Dr. KH. Ahmad Fatoni, Lc., M.A.
Suasana perkuliahan interaktif semakin terasa ketika Dr. Istiqomah mengajak para mahasiswi UNIDA Gontor membedah berbagai variasi mushaf Al-Qur’an cetakan internasional. Beliau memperlihatkan perbedaan penomoran ayat Al-Fatihah pada mushaf riwayat Qalun terbitan Mesir yang populer di Libya dan Sudan, karakter mushaf riwayat Warasy, riwayat Ad-Duri, hingga perbedaan bacaan lafaz antar-rawi seperti lafaz “kufuwan” pada riwayat Hafs ‘an Ashim dan “kufu’an” pada riwayat Syu’bah ‘an Ashim.
“Uji pemahaman dan pembedahan mushaf secara langsung ini diharapkan membuka cara pandang baru bagi para mahasiswi, sehingga perbedaan bacaan maupun penulisan mushaf dapat digali menjadi objek kajian akademis dan ide riset yang sangat kaya untuk tugas akhir mereka,” tambah Dr. Istiqomah.
Nostalgia Sejarah Keilmuan dan Demonstrasi Praktik Jamak Qira’at
Suasana keakraban semakin hangat saat pakar dan Dosen Qira’at IIQ Jakarta, Dr. Ahmad Hawasyi, M.A., memberikan penyampaian dan sambutan nostalgia. Dr. Hawasyi menyapa jajaran pimpinan serta delegasi dosen UNIDA Gontor, yakni Dr. Elit Hidayatullah, M.S. dan Dr. Rizki Kaulan Maisura, M.Ag. Beliau mengibaratkan kunjungan ini sebagai bentuk rajutan kekeluargaan keilmuan yang erat, sembari mengenang pengalamannya mendampingi gurunya, KH. Ahsin Sakho Muhammad, saat berkesempatan hadir di kampus UNIDA Gontor beberapa tahun silam.
“Ahlan wa sahlan kepada Bapak Dr. Elit Hidayatullah, Ibu Dr. Rizki Kaulan Maisura, dan teman-teman mahasiswa dari UNIDA Gontor. Hubungan keilmuan kita ini sangat dekat. Saya teringat dulu pernah mendampingi guru kami, Kiai Ahsin Sakho Muhammad, di aula besar UNIDA Gontor untuk menyampaikan kajian qira’at,” kenang Dr. Ahmad Hawasyi penuh kehangatan.
Dr. Hawasyi juga menekankan pentingnya praktik langsung dalam menguasai disiplin ilmu qira’at. Beliau menjelaskan bahwa kurikulum S1 di IIQ Jakarta membekali mahasiswa dengan pembelajaran qira’at selama enam semester, yang mana pada tahap puncaknya (Qira’at 6) mahasiswa diajarkan metode Jamak Qira’at—yakni teknik menggabungkan berbagai riwayat bacaan dalam satu kali pembacaan Al-Qur’an berdasarkan kitab rujukan karya KH. Ahsin Sakho Muhammad dan Ibu Hj. Romlah.
“Kalau kita bicara qira’at, kalau tidak ada praktiknya tentu tidak mantap. Di pembelajaran qira’at kami pada semester enam, terdapat metode Jamak Qira’at yang merujuk pada kitab karya guru kami, Kiai Ahsin dan Ibu Romlah. Semua proses dan kelulusan mahasiswa diuji serta ditandatangani langsung oleh Ketua LTQQ,” tutur Dr. Hawasyi sebelum mendemonstrasikan praktik pembacaan Jamak Qira’at surah Al-Fatihah di hadapan seluruh peserta.
Melalui agenda silaturahim ke IIQ Jakarta ini, para mahasiswi diharapkan tidak hanya memperoleh insight akademis dari para pakar dan dosen IIQ, tetapi juga membawa bekal pengalaman berharga yang siap diabdikan bagi masyarakat luas. (FP)


