658x460_241

Wisuda Sarjana XV dan Wisuda Pascasarjana VIII IIQ Jakarta

DEPOK Rabu 25/06/14, Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakartamenyelenggarakan Wisuda Sarjana XV dan Pascasarjana VIII di Gedung Balai DiklatDiknas, Sawangan Depok. Jumlah sarjana yang diwisuda dalam kesempatan ini adalah sebanyak 214 mahasiswa dengan rincian; Fak. Usuluddin  26 mahasiswa, Fak. Syariah 34mahasiswa, Fak. Tarbiyah 77 mahasiswa dan Program Pascasarjana sebanyak 77mahasiswa.

Hadir dalam acara ini, Mustasyar PBNU KH. Maruf Amin selaku pengisiOrasi Ilmiah dan Menteri PDT Helmi Faishal Zaini memberi sambutan. Sambutanlainnya juga disampaikan rektor IIQ Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, ketua umumYayasan IIQ Hj. Harwini Joesoef, dan perwakilan wisudawan.Selain itu, Dr. Hj. Ummi Khusnul Khotimah, Purek III IIQ dan selaku ketua panitia acara ini mengumumkan nama-nama para wisudawan terbaik dan wisudawan teladan.

Dihadapan enam ratus hadirin, para wisudawan dan para anggota senatIIQ, KH. Maruf Amin yang juga menjabat sebagai anggota Dewan PertimbanganPresiden RI ini, menyampaikan orasinya seputar pentingnya menjaga harmoni dan keutuhanbangsa.

Dalam orasinya, ketua Majelis Fatwa MUI Pusat ini mengingatkan, bahwa tekstualismeagama telah berdampak buruk bagi upaya membangun harmoni di tengah masyarakat.Pemahaman terhadap teks ajaran agama yang terlalu kaku menyebabkan sikap tidaktoleran terhadap pemahaman ajaran agama yang berbeda.

Di hadapan 214 sarjana dan master agama al-Quran yang baru diwisuda, CucuSyeikh Nawawi al-Bantani ini  juga mengingatkan,bahwa tektualisme dalam pemahaman agama itu dipicu oleh cara pemahaman terhadapnash agama yang secara tekstual dan mengabaikan pemahaman nash secara lebihsubstansial. Secara apriori model pemahaman ini menolak penafsiran danpentakwilan nash yang berbeda dari pengertian tekstualnya.

œPenafsiran dan pentakwilan nash yang tidak didukung secara jelas olehnash lain dianggap sebagai mengada-ada atau bidah dhalalah. Denganpemahaman seperti itu kelompok ini (red: kelompok tekstualis) banyakberseberangan dengan pemahaman umat Islam lainnya yang memahami nash secarakontekstual, kata Kiai Maruf Amin.

Lebih lanjut beliau menyatakan, bahwa model pemahaman teks agama secaratektual dan penolakan terhadap berbagai penafsiran dan pentakwilan ituberdampak buruk pada citra umat Islam yang dipersepsikan ekslusif, kaku dantertutup tidak bisa menerima hal-hal baru.

œKelompok ini juga cenderung secara frontal menyalahkan kelompok lainyang tidak sefaham dengan kelompoknya, sehingga sering menimbulkan benturan dantidak jarang juga melakukan kekerasan dan menimbulkan konflik di antara umatIslam, tambahnya.

Kiai Maruf mengingatkan, akibat ulah segelintir orang Islam yangmelakukan aktifitas kekerasan dengan mempergunakan simbol Islam pada kenyataannyamenimbulkan kerugian bagi umat Islam pada umumnya.

œDampaknya, umat Islam terstigma negative akibat ulah segelintir orangtersebut. Praktek-praktek kekerasan yang dilakukan segelintir orang telahdimanfaatkan oleh pihak-pihak lain untuk memojokkan umat Islam secara umum.Padahal hakekatnya, agama Islam sama sekali tidak ada kaitannya dengan gerakan radikalapalagi terorisme, tegas Kiai Maruf Amin.
Sejalan dengan Kiai Mariuf, Menteri PDT Helmi Faishal Zaini, dalam sambutannyamenyampaikan bahwa Pancasila, NKRI dan semboyan Bhineka Tunggal Eka tidaklahberseberangan dengan ajaran Islam. Karena menurutnya, nilai-nilai yang etrdapatdalam Pancasila justru sejalan dengan ajaran-ajaran Islam yang menjunjung tauhid,persaudaraan sesama, persatuan dan kesatuan, permusyaratan dan keadilan.

œSila pertama, ketuhanan yang Maha Esa jelas sekali sejalan denganajaran tauhid dalam Islam. Sila kedua, kamusiaan yang adil dan beradab, inijuga sejalan dengan nafas Islam yang menjunjung derajat manusia yang didasaripada keadilan dan keadaban (akhlak). Sila ketiga, persatuan Indonesia, inisejalan dengan Islam. Karena memang dalam Islam dikenal dengan adanya tigaranah ukhuwwah (persaudaraan); Ukhuwwah Islamiyah, persaudaraan sesamaumat Islam, ukhuwwah wathaniyah, persaudaraan sesama anak bangsa dan ukhuwwahbasyaraiyah, persaudaraan sesama manusia. Sila keempat, sejalan denganajaran Islam yang menjunjung musyawarah dalam penyelesaian masalah-masalah yangmenyangkut orang banyak. Sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyatIndonesia, jelas sekali ini sejalan dengan Islam, karena memang keadilan banyaksekali disebut dan dianjurkan dalam al-Quran, jelas Pa Menteri penuhsemangat. Di akhir sambutannya, ia mengatakan: œNegara-negara di dunia,khususnya negara-negara Islam di Timur Tengah yang sekarang ini terus-menerusdilanda konflik, silahkan belajar tentang menjaga harmoni ke Indonesia,khususnya di IIQ Jakarta ini.

Rektor IIQ sendiri, Dr. KH. Ahsin menyampaikan sambutan dan laporannyakepada Rapat Senat Terbuka IIQ, di hadapan ratusan hadirin dan wisudawan wisudawati.Dalam sambutannya ini Rektor IIQ Jakarta DR. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA.mengatakan, IIQ adalah satu-satunya lembaga pendidikan tinggi Islam swasta diIndonesia yang secara khusus mendidik kaum perempuan dan berkonsentrasi dalambidang ilmu-ilmu Al-Quran.

œDengan segala keterbatasan dana dan sarana yangdimiliki, IIQ telah, sedang dan akan terus memberikan sumbangsih riil terhadapbangsa dan negara, terutama dalam melahirkan sarjana-sarjana perempuan yanghafal Al-Quran. Terhitung sejak berdirinya pada tahun 1977 hingga saat ini,IIQ telah banyak mengukir prestasi, antara lain: Pertama, keberhasilanIIQ dalam menghasilkan alumni-alumni berkualitas dan mampu berkiprah di tengahmasyarakat. Kedua, keberhasilan IIQ menjadikan dirinya sebagai salahsatu lembaga di barisan terdepan dalam melestarikan ilmu-ilmu Al-Quran ditanah air, baik melalui kiikutsertaan dosen dan mahasiswa IIQ dalam MusabaqahTilawatil Quran (MTQ), baik tingkat nasional maupun internasional. Ketiga,keberhasilan IIQ dalam mengembangkan program pendidikan, dengan membuka programpascasarjana (S2), dan program-program unggulan (center of excellence), sertamembangun networking, baik dalam maupun luar negeri, baik melaluikunjungan-kunjungan ilmiah dan juga kerjasama-kerjasama antar perguruan tinggi.Keempat: keberhasilan IIQ Jakarta mengeluarkan beberapa produk unggulan:Al-Quran Digital Pen yang meraih penghargaan MURI pada tahun 2010 dan MushafMaqamt yang meraih penghargaan MURI pada tahun 2013, papar Ahsin.

Sementaraitu, Hj. Harwini Joesoef, selaku ketua umum Yayasan IIQ, dalam sambutannyamenyampaikan beberapa hal: Pertama, rasa syukurnya, karena dari laproanrektor, diketahui bahwa jumlah mahasiswa yang diwisuda kali ini cukup besarjumlahnya, Kedua, bahwa sebagai perguruan tinggi swasta, IIQ terusberbenah, melengkapi sarana dan prasarana, menata sistem administrasi,memperluas jaringan, melakukan peningkatan SDM, terus mengikuti perkembanganteknologi dan informasi, dengan tetap mempertahankan kekhasannya, yaitu kajiankealquranan. Ketiga, dengan terus naiknya jumlah yang masuk ke IIQsetiap tahunnya, artinya apa yang ditawarkan IIQ, ternyata direspon baik olehmasyarakat. Karena itu Yayasan IIQ mengajak semua pihak, baik pemerintah maupunswasta untuk berpartisipasi menjaga eksistensi dan mengembangkan IIQ. Keempat,mari jadikan al-Quran sebagai kitab suci yang bisa berkontribusi untukmenjaga keragaman dan keharmonisan bangsa ini. Kelima, Yayasan IIQmengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati, dan keluarganya. (Ali Mursyid)