Dari Nusantara untuk Dunia: IIQ Jakarta Kupas Diplomasi Budaya dan Sanad Al-Qur’an

Dari Nusantara untuk Dunia: IIQ Jakarta Kupas Diplomasi Budaya dan Sanad Al-Qur’an

Ramadan di lingkungan Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta (IIQ Jakarta) kembali diisi dengan ruang diskusi yang menggugah kesadaran intelektual. Melalui program Kajian Kuliah Ramadan (KURMA) episode 4, kampus ini mengangkat tema “Al-Qur’an di Telinga Dunia: Diplomasi Budaya dan Sanad Nusantara” pada Selasa, 3 Maret 2026, pukul 12.00 WIB di Masjid Raudhatul Qur’an, Pesantren Takhassus IIQ Jakarta.

Kajian menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Hj. Romlah Widayati, M.Ag., sebagai narasumber utama dan dipandu oleh Hana Natasya, M.Ag. Sejak awal, forum ini diposisikan bukan sekadar pengajian rutin Ramadan, tetapi sebagai ruang refleksi atas perjalanan panjang Al-Qur’an—diturunkan di tanah Arab, diajarkan dengan disiplin sanad yang ketat, hingga berakar kuat di Nusantara.

Dalam pemaparannya, Dr. Romlah mengajak peserta melihat Al-Qur’an sebagai mata rantai peradaban. Ia mengurai kembali makna wahyu pertama, Iqra’, yang menurutnya bukan hanya perintah membaca teks, tetapi ajakan membangun budaya ilmu.

“Iqra’ adalah fondasi peradaban. Ia bukan sekadar membaca huruf, tetapi membaca realitas, membangun tradisi literasi, dan melahirkan generasi yang mencintai ilmu,” ujarnya.

Dari perintah itulah, lanjutnya, lahir tradisi membaca, menulis, dan mengajarkan ilmu melalui metode talaqqi dan musyafahah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pembahasan kemudian mengalir pada perjalanan sanad hingga sampai ke Nusantara. Para ulama Indonesia yang menuntut ilmu di Hijaz membawa pulang bukan hanya pengetahuan, tetapi juga mata rantai keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW. Mereka mendirikan pesantren, membina murid, serta menjaga keaslian bacaan Al-Qur’an sesuai riwayat yang otoritatif.

“Sanad bukan sekadar daftar nama. Ia adalah tanggung jawab ilmiah. Di situlah otentisitas bacaan Al-Qur’an dijaga,” tegas Dr. Romlah.

Menurutnya, tradisi Al-Qur’an di Indonesia bukan tradisi pinggiran, melainkan bagian dari jejaring besar keilmuan dunia Islam. Tema “Al-Qur’an di Telinga Dunia” pun tidak berhenti pada romantisme sejarah, tetapi berkembang menjadi pembahasan tentang diplomasi budaya Islam di tingkat global.

Keberagaman lokal—terlihat dalam iluminasi mushaf Nusantara maupun latar belakang santri dari berbagai daerah—tidak mengurangi kemurnian bacaan. Justru, dari pertemuan budaya dan disiplin sanad itulah lahir wajah Islam Indonesia yang moderat, terdidik, dan berakar kuat pada ilmu.

Dr. Romlah juga menyinggung tantangan era digital. Pembelajaran Al-Qur’an kini menjangkau ruang-ruang virtual dan melintasi batas negara. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah sarana.

“Digitalisasi membuka akses yang luas, tetapi talaqqi dengan guru tetap menjadi ruh utama. Tanpa itu, transmisi ilmu kehilangan kedalaman dan keberkahannya,” katanya.

Melalui kajian ini, IIQ Jakarta menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi penjaga tradisi sanad dan pusat pengembangan kajian Al-Qur’an perempuan di Indonesia.

Bahwa Al-Qur’an yang dibaca hari ini di jantung kampus IIQ Jakarta adalah bagian dari perjalanan panjang yang melintasi abad dan benua—dari Hijaz ke Nusantara, lalu kembali bergema ke dunia melalui sanad yang terjaga dan budaya ilmu yang terus dirawat. (FP)

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp