Bangun Ketahanan Keluarga dari Rumah: Kemenko PMK Ajak Mahasiswi IIQ Jakarta Siapkan Masa Depan Keluarga Berkualitas

Bangun Ketahanan Keluarga dari Rumah: Kemenko PMK Ajak Mahasiswi IIQ Jakarta Siapkan Masa Depan Keluarga Berkualitas

TANGERANG SELATAN — Keluarga menjadi fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Pesan ini disampaikan oleh Asisten Deputi Ketahanan Keluarga dan Pembangunan Kependudukan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Mustikorini Indrijatiningrum, dalam kultum Ramadan yang digelar di Pesantren IIQ Jakarta, Kamis (5/3).

Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari program Kajian Ramadan di lingkungan kampus tersebut, Mustikorini menegaskan bahwa pembangunan manusia tidak dapat dilepaskan dari kualitas keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan ruang pertama pembentukan karakter, nilai, dan ketahanan moral generasi muda.

“Pembangunan sumber daya manusia dimulai dari keluarga. Dari keluarga yang sehat secara fisik dan mental, berkualitas dalam karakter dan literasi, serta adaptif terhadap perubahan zaman, akan lahir generasi yang berdaya saing,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah melalui Kemenko PMK mengoordinasikan berbagai program pembangunan manusia yang melibatkan sembilan kementerian dan sejumlah lembaga. Program-program tersebut antara lain penguatan pendidikan, layanan kesehatan, hingga digitalisasi pembelajaran yang semuanya bertujuan memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam pembangunan.

Namun di balik berbagai program tersebut, Mustikorini mengingatkan bahwa ketahanan keluarga di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Data menunjukkan dinamika sosial yang cukup signifikan, mulai dari tren penurunan angka pernikahan hingga berbagai persoalan dalam relasi keluarga.

Selain itu, berbagai persoalan sosial seperti konflik rumah tangga, kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta ketimpangan peran gender masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Menurutnya, salah satu kunci memperkuat ketahanan keluarga adalah membangun kemitraan yang seimbang antara ayah dan ibu dalam pengasuhan anak. Pengasuhan yang dilakukan secara bersama diyakini dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan anak, baik dalam aspek pendidikan maupun perilaku sosial.

“Pengasuhan anak akan memberikan hasil yang lebih baik jika ayah dan ibu menjalankannya bersama. Keluarga akan berfungsi optimal ketika ada keseimbangan peran dan tanggung jawab antara suami dan istri,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mustikorini juga menyoroti pentingnya kesiapan generasi muda, khususnya mahasiswi, dalam mempersiapkan kehidupan berkeluarga sejak dini. Menurutnya, pernikahan bukan sekadar persoalan cinta, tetapi juga menyangkut visi pengasuhan, kesiapan mental, serta kemampuan mengelola kehidupan bersama.

Ia menekankan bahwa calon pasangan perlu memiliki pemahaman tentang hak dan kewajiban dalam keluarga, kemampuan komunikasi, serta kesiapan menghadapi dinamika kehidupan rumah tangga.

“Mahasiswi memiliki peran strategis sebagai calon ibu, pendidik generasi masa depan, sekaligus penggerak masyarakat. Karena itu, kesiapan membangun keluarga berkualitas perlu dipersiapkan sejak sekarang,” ujarnya.

Di akhir pemaparannya, Mustikorini mengajak seluruh peserta untuk membangun keluarga yang saling menguatkan dan menjadikan anak sebagai amanah bersama.

“Keluarga yang berkualitas akan melahirkan generasi yang berakhlak, berilmu, dan berdaya saing. Dari keluarga seperti inilah masa depan bangsa yang maju dan bermartabat dapat terwujud,” tutupnya. (FP)

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp