Gen Z Terjebak Overthinking, IIQ Jakarta Tawarkan Solusi Integratif Psikologi dan Al-Qur’an

Gen Z Terjebak Overthinking, IIQ Jakarta Tawarkan Solusi Integratif Psikologi dan Al-Qur’an

Jakarta — Fenomena overthinking yang kian marak di kalangan generasi muda menjadi sorotan dalam Seminar Nasional Mental Health yang digelar Layanan Bimbingan Konseling Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta bekerja sama dengan UKM Likora, Selasa (21/4). Mengusung tema “Gen Z & Mental Health: Bertahan di Era Overthinking dalam Perspektif Al-Qur’an dan Psikologi”, kegiatan ini menghadirkan perspektif integratif antara ilmu psikologi dan nilai-nilai spiritual Islam.

Ketua UKM Likora sekaligus ketua panitia, Humaira Yasmina, mengungkapkan tingginya antusiasme peserta sebagai indikator meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.

Seminar dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni IIQ Jakarta, Dr. Hj. Muthmainnah, M.A., yang menyatakan pentingnya pendekatan holistik dalam menjaga kesehatan mental generasi Z. Menurutnya, derasnya arus informasi dan kompleksitas kehidupan modern memicu meningkatnya kecemasan, tekanan mental, hingga overthinking.

“Kesehatan mental tidak hanya dapat didekati dari aspek ilmiah psikologi, tetapi juga melalui pendekatan spiritual. Keduanya saling melengkapi,” ujarnya.

Overthinking dan Tekanan Digital pada Generasi Z

Dalam sesi pemaparan, psikolog klinis Anisa Indah Lestari, M.Psi., sebagai narasumber mengungkap bahwa overthinking bukan sekadar kebiasaan berpikir berlebihan, melainkan sebuah siklus psikologis yang kompleks. Berdasarkan praktik klinisnya sejak 2017, fenomena ini semakin banyak ditemukan, terutama pada generasi Z yang lekat dengan media sosial.

“Overthinking adalah pikiran yang berputar tanpa henti dan membebani. Ini bisa berdampak pada emosi, tubuh, hingga perilaku,” jelasnya.

Ia memaparkan dua bentuk utama overthinking dalam psikologi, yakni rumination (pikiran berulang tentang masa lalu) dan worry cycle (kecemasan terhadap masa depan). Keduanya membuat individu kehilangan fokus pada masa kini, padahal keseimbangan hidup justru berada di “hari ini”.

Paparan media sosial, lanjutnya, memperparah kondisi tersebut melalui fenomena fear of missing out (FOMO) dan social comparison. Individu cenderung membandingkan diri dengan orang lain, sehingga memicu rasa tidak cukup, kehilangan kepercayaan diri, hingga kecemasan berlebih.

Ia juga menyoroti meningkatnya gangguan mental emosional di Indonesia, yang mencapai sekitar 19 juta kasus menurut data Kementerian Kesehatan dan WHO. Overthinking kerap menjadi pintu masuk menuju kondisi yang lebih serius seperti depresi, insomnia, hingga burnout.

Memutus Siklus Pikiran Negatif

Dalam penjelasannya, Anisa menekankan keterkaitan erat antara pikiran dan tubuh (mind-body connection). Trauma yang tersimpan, meskipun tidak disadari, dapat memunculkan respons fisik.

Ia menjelaskan bahwa overthinking bekerja dalam sebuah siklus: pikiran negatif memicu emosi cemas, memengaruhi reaksi tubuh, lalu berdampak pada perilaku seperti menarik diri. Perilaku ini kemudian memperkuat kembali pikiran negatif awal.

“Karena itu, kita harus memutus siklus tersebut dengan mengelola pikiran. Kita harus menjadi ‘bos’ atas pikiran kita sendiri,” tegasnya.

Dalam konteks kehidupan digital, ia juga menekankan pentingnya personal boundary sebagai “pagar psikologis” agar individu tidak terjebak dalam overstimulasi informasi.

Perspektif Al-Qur’an: Dari Suudzon ke Tawakal

Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Iffaty Zamimah, S.Ag., M.Ag., memperkaya pembahasan dengan perspektif Al-Qur’an yang menekankan pentingnya pengelolaan hati dan sikap tawakal.

Ia menegaskan bahwa overthinking perlu dibedakan dari berpikir kritis. “Berpikir kritis menghasilkan solusi, sedangkan overthinking cenderung berulang tanpa arah dan tidak memberi manfaat,” ujarnya.

Dalam perspektif keislaman, overthinking berkaitan dengan kondisi batin seperti rasa takut, cemas, gelisah, hingga prasangka buruk (suudzon). Ia mengingatkan pentingnya membangun sikap optimis dan berprasangka baik kepada Allah.

“Overthinking yang tidak terkendali bisa memicu prasangka buruk kepada Allah. Ini yang harus diwaspadai,” tegasnya.

Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya mengenali diri, menjaga keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal, serta memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an.

Keseimbangan Ilmu dan Iman sebagai Kunci

Menutup sesi, kedua narasumber sepakat bahwa overthinking tidak harus dihilangkan, tetapi dikelola. Penguatan mental tidak cukup hanya dengan pendekatan psikologis, tetapi juga membutuhkan fondasi spiritual yang kuat.

Melalui seminar ini, IIQ Jakarta menegaskan bahwa perpaduan antara ilmu dan iman menjadi kunci penting bagi generasi muda untuk bertahan dan bertumbuh di tengah tekanan kehidupan modern. (FP)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp