Bahas Enam Perusak Hati dan Enam Perusak Amal, Dosen IIQ Jakarta Bunda Tuty: “Yang Kita Lakukan, Rida Allah Tidak?”

Bahas Enam Perusak Hati dan Enam Perusak Amal, Dosen IIQ Jakarta Bunda Tuty: “Yang Kita Lakukan, Rida Allah Tidak?”

Dosen IIQ Jakarta mengisi kajian yang dihadiri puluhan jamaah ibu-ibu dengan suasana penuh keakraban dan kehangatan. Bertindak sebagai narasumber, Ustadzah Dr. Sri Tuti Rahmawati, MA., yang akrab disapa Bunda Tuty, mengupas tema besar bertajuk “Perusak Hati” di hadapan para jamaah.

Mengawali ceramahnya, Bunda Tuty mengingatkan jamaah bahwa setiap manusia, apa pun kondisinya, pada akhirnya akan menemui ajal. Ia menyebut istilah “camat” atau calon mati sebagai pengingat bahwa kematian adalah keniscayaan yang tidak mengenal status sosial, usia, maupun kondisi kesehatan seseorang. Karena itu, kata dia, setiap orang perlu mempersiapkan diri menuju kematian yang husnul khatimah, yakni wafat dalam keadaan tenang dan penuh rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ia menekankan bahwa proses menuju kematian yang baik bukan perkara mudah dan menuntut kesungguhan dalam beribadah, meski terasa melelahkan. Menurutnya, setiap amal yang dilakukan semestinya selalu diukur dengan pertanyaan sederhana namun mendalam.

“Yang kita lakukan itu, pikirkan. Ini Allah rida tidak? Ini Allah sayang tidak? Kalau kita melakukan ini, Allah rida enggak ya? Allah sayang enggak ya? Boleh enggak ya?” ungkap Bunda Tuty mengingatkan jamaah agar senantiasa mempertimbangkan setiap tindakan sebelum dilakukan.

Mengutip Kitab Nashaihul Ibad, Sebut Enam Perusak Hati

Memasuki materi inti, Bunda Tuty merujuk pada kitab Nashaihul Ibad karya Imam an-Nawawi yang memuat pandangan Syekh Hasan al-Bashri tentang enam perkara yang dapat merusak hati manusia. Keenam perusak hati tersebut adalah:

  1. Menunda-nunda tobat meski telah berbuat dosa. Bunda Tuty mengingatkan bahwa setiap larangan Allah pasti memiliki hikmah untuk keselamatan manusia. “Setiap larangan Allah sudah pasti ada akibatnya yang buruk. Setiap anjuran Allah, perintah Allah, sudah pasti itu ada kebaikannya,” tegasnya, sembari mengajak jamaah segera beristigfar dan tidak menunda tobat.
  2. Berilmu banyak namun minim pengamalan. “Enggak apa-apa ilmu kita sedikit, tapi diamalkannya yang rutin,” kata Bunda Tuty, menegaskan bahwa ilmu sekecil apa pun jauh lebih berharga jika dipraktikkan dan diajarkan kepada orang lain dibanding ilmu yang hanya menumpuk tanpa pengamalan.
  3. Beramal tanpa keikhlasan. “Beramal tapi tidak ikhlas, mendingan jangan beramal. Beramal tapi menggerutu, mendingan jangan beramal. Beramal tapi menyakiti, mendingan jangan beramal,” tuturnya, mengingatkan agar amal kebaikan tidak dicampuri rasa pamrih maupun keinginan dibalas.
  4. Tidak rida terhadap ketetapan Allah, termasuk tidak menerima takdir, baik berupa jenis kelamin, kondisi kesehatan, maupun ujian hidup lainnya. “Kita maunya A, Allah maunya B. Kita maunya B, Allah maunya A. Makanya yang paling benar, kita menerima takdir dari Allah,” ujar Bunda Tuty.
  5. Menikmati rezeki tanpa rasa syukur, baik dalam bentuk makanan, minuman, maupun kesehatan yang kerap dianggap remeh padahal merupakan nikmat besar dari Allah. “Rezeki dari Allah itu bukan hanya makan dan minum. Kesehatan juga termasuk rezeki,” pesannya, mengajak jamaah membiasakan diri mengucap syukur atas nikmat sekecil apa pun.
  6. Menyaksikan kematian tanpa mengambil pelajaran. “Kalau kita melihat orang yang wafat, jadikan sebagai peringatan buat kita, ibrah sebagai pengingat kita juga bakal wafat,” katanya, mengajak jamaah menjadikan setiap kabar duka sebagai momentum untuk semakin giat beribadah dan mempererat silaturahmi.

Dalam penjelasannya, Bunda Tuty juga mengulas kisah pengorbanan Nabi Ibrahim Alaihissalam yang bersedia menyembelih putranya, Nabi Ismail, sebagai bentuk ketaatan total kepada Allah. Kisah ini, menurutnya, menjadi teladan penting tentang bagaimana seharusnya seorang hamba menerima ketetapan Allah tanpa menggerutu.

Enam Perusak Amal yang Perlu Diwaspadai

Selain perusak hati, Bunda Tuty turut memaparkan enam perkara yang dapat merusak amal seseorang, yakni:

  1. Sibuk mencari aib dan kekurangan orang lain, yang menurutnya lahir dari rasa benci dan berujung pada dosa mengumpat serta membuka aib yang semestinya ditutupi. “Allah menyuruh kepada kita, memerintahkan kepada kita, tutupi aibmu, Aku sudah tutupi, jangan kau buka. Udah Allah tutupi, dibuka-buka,” ujarnya menyayangkan sikap gemar membongkar kekurangan orang lain.
  2. Cinta dunia secara berlebihan (hubbud dunya), termasuk sikap serakah dan menghalalkan segala cara demi mengejar keuntungan duniawi. “Cinta kepada dunia boleh, asal jangan berlebihan,” pesannya, seraya mengajak jamaah hidup sederhana dan tidak berlebihan dalam mengejar pujian maupun harta.
  3. Panjang angan-angan (tulul amal), yakni memiliki cita-cita yang terlalu tinggi tanpa dasar realistis hingga memicu kebohongan.
  4. Berkurangnya rasa malu kepada Allah, yang membuat seseorang tidak lagi merasa bersalah saat meninggalkan kewajiban atau melanggar aturan agama.
  5. Kezaliman yang terus-menerus dan tidak kunjung dihentikan, yang menurutnya menjadi salah satu penghalang datangnya hidayah.
  6. Kerasnya hati (qaswatul qolbi), yakni sikap menutup diri dari nasihat kebaikan meski telah berulang kali diingatkan oleh orang-orang terdekat.

Bunda Tuty turut menyinggung penyakit hati lain yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu kemunafikan, keragu-raguan dalam beriman, serta sifat iri dan dengki. Ia mengajak jamaah membuka dan membaca bersama sejumlah ayat, di antaranya surah At-Taubah ayat 125 tentang bertambahnya kekafiran bagi orang yang berpenyakit hati, surah An-Nisa ayat 54 tentang sikap dengki terhadap karunia Allah, serta surah Al-Baqarah ayat 74 tentang perumpamaan hati yang lebih keras daripada batu.

Al-Qur’an sebagai Obat Hati

Menutup ceramahnya, Bunda Tuty mengutip surah Yunus ayat 57 yang menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai nasihat sekaligus obat bagi penyakit-penyakit dalam dada manusia. Ia mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa kembali kepada Al-Qur’an sebagai sarana melembutkan hati dan menyembuhkan luka batin.

Ia juga mengingatkan pentingnya melakukan muhasabah atau introspeksi diri sebelum kelak dihisab di akhirat, serta berharap agar seluruh amal ibadah jamaah diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa terhalang oleh kesombongan, kemunafikan, maupun keraguan hati.

Kajian yang berlangsung hangat dan interaktif ini ditutup dengan pembacaan surah Al-Fatihah serta doa bersama, sebagai harapan agar seluruh jamaah terhindar dari penyakit hati dan senantiasa mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. (FP)

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp