Menuju Harlah ke-50 IIQ Jakarta 144 hari lagi

Selengkapnya

Berita

Bersambung hingga Imam Nawawi: Santriwati IIQ Jakarta Terima Ijazah Sanad Hadis dari Ulama Sudan di Puncak Hari Santri 2026

1a62150f 7f8c 486a b94e a61974879a8b

Syaikh Dr. Muhammad Abdullah Muhyiddin Al-Quraisyi berpesan agar santriwati menjaga keikhlasan, mendahulukan adab sebelum ilmu, dan menyadari peran mereka sebagai madrasah bagi generasi mendatang.

TANGERANG SELATAN – Kamis malam, 5 November 2026, Masjid Raudhatul Qur’an Pesantren Takhasus Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta dipenuhi ratusan santriwati, mahasiswa, dosen, dan pimpinan kampus. Mereka hadir dalam Kajian Bersanad bertema “Menguatkan Sanad Keilmuan”, yang menjadi puncak peringatan Semarak Hari Santri 2026. Malam itu mereka menerima langsung ijazah sanad hadis dari ulama hadis asal Sudan, Syaikh Dr. Muhammad Abdullah Muhyiddin Al-Quraisyi.

Acara dibuka dengan pembacaan Surah Al-Fatihah yang dihadiahkan bagi para pendiri (al-muassisin), rektor, dosen, dan keluarga besar IIQ Jakarta yang telah wafat. Sesudahnya, lantunan Surah Al-Hasyr ayat 21, tentang gunung yang tunduk dan terpecah karena takut kepada Allah, membuat suasana majelis semakin khusyuk.

Dalam sambutannya, Rektor IIQ Jakarta, Assoc. Prof. Dr. Hj. Najmatul Faizah, S.H., M.Hum., menjelaskan mengapa tema sanad dipilih untuk puncak peringatan Hari Santri tahun ini.

“Tradisi keilmuan Islam, terlebih dalam bidang Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, bertumpu pada sanad yang muttashil, yaitu sanad yang bersambung tanpa terputus hingga Rasulullah SAW. Karena itu, menguatkan sanad berarti menjaga keaslian ilmu yang kita warisi,” ujarnya.

Rektor juga menyampaikan kabar gembira mengenai karya civitas akademika. Menurutnya, buku-buku terbitan IIQ Press kini sudah menjangkau sejumlah negara.

“Alhamdulillah, karya-karya pemikiran Al-Qur’an dari keluarga besar IIQ Jakarta melalui IIQ Press kini sudah menjadi koleksi perpustakaan di Uzbekistan, Thailand, Singapura, hingga Johor Bahru. Inilah ikhtiar kita agar ilmu Al-Qur’an dari IIQ dapat dimanfaatkan lebih luas,” tuturnya, sebelum membuka acara secara resmi.

Sambutan dilanjutkan dengan doa dan tawasul yang dipimpin Pengasuh Pesantren Takhasus IIQ Jakarta, Assoc. Prof. Dr. K.H. Ahmad Fatoni, Lc., M.A. Doa dipanjatkan untuk para pendiri, sekaligus memohon keberkahan dan kelancaran khidmah bagi seluruh pengelola, dosen, dan santriwati.

Ulama dengan Lebih dari 500 Guru

Kehadiran Syaikh Muhammad Abdullah Muhyiddin di IIQ Jakarta berawal dari persahabatan keilmuan dengan Direktur Pascasarjana IIQ Jakarta, Dr. Azizan Fitriana. “Kami sama-sama dulu berjuang menimba ilmu di Sudan,” kenangnya saat memperkenalkan sang Syaikh.

Syaikh Muhammad dikenal sebagai ulama yang menggabungkan dua tradisi keilmuan Sudan, yaitu jami’ (halaqah di masjid) dan jami’ah (perguruan tinggi). Ia mengajar di kampus sekaligus mengasuh halaqah di masjid. Ia menekuni Ilmu Hadis dan Fikih Mazhab Syafi’i, serta telah belajar (talaqqi) dan menerima ijazah dari lebih dari 500 guru di berbagai negara.

Pengalaman mengajarnya juga panjang. Selama tiga tahun ia mengkhatamkan Shahih al-Bukhari bersama murid-muridnya, dengan pengajian yang berlangsung sejak ba’da Asar hingga pukul 21.00–22.00 malam. Ia juga mengkhatamkan Musnad Imam Ahmad yang berjumlah 25 jilid di hadapan 500 hingga 1.000 peserta halaqah.

Menjadi Generasi ke-17 Murid Imam Nawawi

Inti acara malam itu adalah prosesi pengijazahan. Syaikh membuka dengan Hadis Musalsal bil Awwaliyah, yaitu hadis yang menurut tradisi para ulama didengar pertama kali oleh seorang murid dari gurunya:

“Ar-rahimuna yarhamuhumur Rahman tabaraka wa ta’ala, irhamu man fil ardhi yarhamkum man fis sama’.”

(Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian.)

“Kasih sayang adalah pondasi pertama. Para ulama hadis sepakat bahwa sebelum seorang penuntut ilmu mempelajari cabang-cabang ilmu yang lain, ia harus terlebih dahulu menanamkan rahmah dalam dirinya,” pesan Syaikh.

Selanjutnya Syaikh membacakan dan mengijazahkan kitab Matn Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Imam Nawawi, disertai ijazah khusus untuk riwayat Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang tercakup di dalamnya. Seluruh peserta kemudian menjawab serempak, “Qabilna”, yang berarti kami menerima.

Melalui sanad yang dibacakan malam itu, jarak antara para peserta dan Imam Nawawi hanya 16 mata rantai ulama. Dengan demikian, santriwati dan civitas akademika IIQ Jakarta kini menjadi generasi ke-17 dalam jalur keilmuan sang pengarang Arba’in. Sanad sependek ini tergolong istimewa (sanad ‘ali), dan juga menjadi amanah yang tidak ringan.

Duta Islam dan Madrasah Generasi

Seusai pengijazahan, Syaikh menyampaikan wasiat keilmuan. Ia menekankan bahwa keikhlasan merupakan syarat utama bagi siapa pun yang menuntut dan menjaga ilmu Al-Qur’an.

“Ikhlaskan niat hanya karena Allah. Keikhlasan akan memudahkan pemahaman, mendatangkan keberkahan ilmu, dan menguatkan cita-cita kalian agar tidak goyah dalam berkhidmah kepada agama dan bangsa,” ujarnya.

Kepada para mahasiswi, Syaikh menitipkan amanah khusus. “Kalian adalah duta-duta Islam (rusulul Islam) yang membawa cahaya Islam yang damai, di negeri sendiri maupun ke seluruh dunia. Kalian juga madrasatul jil, madrasah bagi generasi. Dari kalianlah kelak lahir para ulama, imam, dan pemimpin umat,” pesannya.

Ia lalu mengajak hadirin mengingat kembali kisah para ibu yang membesarkan imam-imam mazhab. Ibunda Imam Malik biasa memandikan, merapikan pakaian, dan memberi wewangian kepada putranya sebelum melepasnya belajar kepada Rabi’ah ar-Ra’yi.

“Sang ibu berpesan, ‘Pelajarilah adabnya sebelum engkau mengambil ilmunya.’ Inilah rahasia para ulama besar: adab didahulukan sebelum ilmu,” kata Syaikh.

Ia juga menceritakan ketabahan ibunda Imam Syafi’i yang membawa putranya, yang saat itu baru berusia dua tahun, dari Gaza ke Makkah dalam keadaan serba terbatas. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Abu Yusuf pun tumbuh di bawah bimbingan ibu mereka hingga menjadi pilar keilmuan dunia.

Ditutup dengan Pertukaran Karya

Acara ditutup dengan pertukaran kenang-kenangan. Syaikh Muhammad Abdullah Muhyiddin menyerahkan karya tulisnya langsung kepada Rektor IIQ Jakarta sebagai tanda penghormatan akademik dan penguat silaturahmi keilmuan internasional. Pihak rektorat membalas dengan cendera mata, kemudian acara diakhiri dengan foto bersama dan doa untuk kemajuan IIQ Jakarta.

Turut hadir dalam majelis tersebut para Wakil Rektor, Sekretaris Dewan Pengasuh Dr. Abdul Rasyid, M.A., para dekan dan ketua program studi, kepala lembaga dan biro, pengurus DEMA, serta tamu undangan khusus Sekretaris Umum MUI DKI Jakarta, Dr. Auzain Mahfud. Acara dipandu oleh Siti Salwa Nailalida dan Lulu Handayani. (FP)

Berita lainnya

Lihat semua

Mulai perjalanan Qur'ani Anda bersama IIQ Jakarta

Daftar melalui situs PMB, kenali jalur beasiswa tahfizh, dan unduh brosur program studi S1 maupun pascasarjana.