Berita

Dari Jakarta untuk Narathiwat: IIQ Jakarta Bawa Tiga Inovasi Belajar Al-Qur’an ke Thailand Selatan

33418c5d f473 446f 88d9 ab98f0d14ded

Rektor: Guru Al-Qur’an Tak Akan Tergantikan Kecerdasan Buatan

NARATHIWAT, THAILAND – Di tengah gempuran gawai dan kecerdasan buatan, dua lembaga pendidikan Al-Qur’an dari dua negara bertemu untuk membahas satu pertanyaan: seperti apa masa depan belajar Al-Qur’an? Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta dan Attarkiah Islamiah Institute menjawabnya lewat seminar internasional bertema “The Future of Qur’anic Education” di Narathiwat, Thailand Selatan, Senin (5/10/2026).

Seminar ini menjadi bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Kolaborasi Internasional Tahun Anggaran 2026 dari Kementerian Agama RI melalui skema LITAPDIMAS. Programnya mengusung tajuk “Strengthening Qur’an Learning Through Three Innovative Methods in Islamic Educational Institutions: Indonesia–Thailand Studies”.

Delegasi IIQ Jakarta dipimpin langsung Rektor, Assoc. Prof. Dr. Hj. Nadjematul Faizah, S.H., M.Hum. Mereka disambut hangat oleh pimpinan dan jajaran Attarkiah Islamiah Institute di Daud Conference Hall.

“Mukjizat Waktu” dan Rumah Kedua

Suasana pembukaan khidmat. Lantunan Surah Ad-Duha oleh Lukman Wungsondham membuka acara dan membawa hadirin ke suasana takzim.

Dalam sambutannya, Licentiate dan Manajer At-Tarkiah, Dr. Faisan Thayib, mengutip Surah Al-‘Asr. Ia menyebut pertemuan para ahli Al-Qur’an dari dua negara itu sebagai buah dari “mukjizat waktu”. Kehadiran delegasi IIQ Jakarta ia sambut dengan rasa syukur, sebab sudah dinantikan tiga hingga empat tahun.

“Berkumpulnya para penjaga Al-Qur’an dari dua negara hari ini adalah mukjizat waktu. Kami menanti kedatangan Ibu-Ibu selama tiga sampai empat tahun, dan hari ini Allah mempertemukan kita,” ujar Dr. Faisan.

Ia menegaskan bahwa persaudaraan yang dibangun di atas Al-Qur’an adalah ikatan abadi. “Anggaplah At-Tarkiah sebagai rumah kedua Ibu-Ibu. Pintunya terbuka kapan saja,” katanya.

Guru Tak Tergantikan, “Screen” Diganti “Green”

Dalam pidatonya, Rektor IIQ Jakarta Associate. Prof. Dr. Hj. Nadjmatul Faizah, SH, M. Hum, menyoroti dua tantangan zaman: kecerdasan buatan dan kecanduan gawai pada anak.

“Secanggih apa pun teknologi dan kecerdasan buatan, peran guru Al-Qur’an tidak akan pernah tergantikan. Al-Qur’an dipelajari lewat talaqqi musyafahah, tatap muka langsung. Dari situlah sanad keilmuan dan ketepatan makhraj terjaga,” tegasnya.

Menyikapi kecanduan gawai, Rektor mendorong gerakan pembatasan layar, selaras dengan imbauan “1 jam tanpa gawai bersama keluarga” di Indonesia. Ia juga mengajak anak-anak kembali ke permainan tradisional lewat semangat “instead of go screen, we go green”. Dalam semangat itu, Al-Qur’an dipahami sebagai sumber inspirasi sains, kesadaran lingkungan, dan pembentuk karakter generasi unggul.

Dari Kartu Bayi hingga Olahraga Plank

Pada sesi inti, tim pakar IIQ Jakarta memaparkan enam materi inovasi. Tiga di antaranya menjadi sorotan.

Stimulasi Al-Qur’an sejak usia nol tahun. Ketua Tim, Dr. Esi Hairani, M.Pd., memperkenalkan 200 kartu kosakata Al-Qur’an untuk bayi usia 0–3 bulan. Karena penglihatan bayi awalnya hanya menangkap hitam-putih, kartu dirancang sesuai tahap perkembangannya.

“Otak bayi ibarat memori komputer yang masih kosong, daya rekamnya sangat tinggi. Lewat pengulangan hingga 20 kali, kosakata Al-Qur’an masuk ke memori jangka panjang sebelum anak mengenal gawai. Di saat yang sama, ikatan kasih sayang ibu dan anak ikut terbangun,” jelasnya.

Bedah anatomi tajwid. Assoc. Prof. Dr. Hj. Sri Tuti Rahmawati, S.Ud., M.A., atau akrab disapa Bunda Tuti, mengajarkan tajwid lewat gestur wajah dan posisi mulut. Metode ini bisa dipakai dari anak usia 0–7 tahun hingga dewasa. Peserta diajak memetakan lima kelompok makhraj, yaitu halqiah, lisaniah, syafawiyah, jaufiah, dan khaisyum, lalu mempraktikkannya lewat Surah An-Nas.

Olahraga plank untuk napas tilawah. Dr. Yanti Susanti, M.Pd. berangkat dari pengalamannya sebagai mantan atlet bola voli yang kemudian tumbuh menjadi qariah internasional. Ia memaparkan kaitan antara otot inti perut yang kuat dan kontrol pernapasan.

“Latihan plank melatih diafragma menahan dan mengatur tekanan udara. Hasilnya napas lebih panjang dan nada lebih stabil, termasuk saat berpindah antarmaqam,” ungkapnya.

Ia lalu membuktikannya langsung. Dr. Yanti melantunkan Surah Al-Isra’ ayat 9–11 dan 78–79 dengan transisi halus dari Bayati ke Jiharkah dan Nahawand.

Tiga materi lain melengkapi pemaparan. Dra. Hj. Halimatus Sa’diyah, M.A. membahas penguatan tahfiz berbasis hadis dengan takrir tiga kali. Dr. Nuriah, M.M. menyampaikan manajemen mutu berkelanjutan (continuous improvement dan quality control) bagi lembaga Al-Qur’an. Assoc. Prof. Dr. Hj. Siti Rahmah Aziz, M.Ag. mengulas dimensi tasawuf dan kesehatan mental pendidik.

Kaligrafi Jembatan Dua Bangsa

Puncak diplomasi budaya hadir lewat cenderamata karya kaligrafi Fira Sari Isma, alumni IIQ Jakarta angkatan 2025. Nama kedua lembaga ditulis dengan Khat Suluts putih, sedangkan nama pimpinan dengan Khat Farisi. Huruf Wau berwarna emas menjadi simbol jembatan (jisr) silaturahmi dan pertukaran ilmu Indonesia–Thailand. Di bawahnya mengalir kain biru bermotif Batik Pekalongan dan capung, yang melambangkan pertumbuhan hubungan kedua lembaga.

“Nama Boleh Berbeda, Tujuan Satu”

Perwakilan At-Tarkiah, Ustazah Masyitah, menyampaikan terima kasih atas ilmu dan lantunan Al-Qur’an yang dibawa delegasi. Menurutnya, keduanya memberi pencerahan bagi para pendidik di At-Tarkiah.

Seminar ditutup dengan doa yang dipimpin Direktur At-Tarkiah Islamiah Institute, Ustaz Najib Yahya. Ia mengingatkan bahwa Indonesia dan Thailand Selatan dipersatukan oleh akidah Islam, rumpun bahasa Melayu, dan budaya Nusantara.

“Nama lembaga boleh berbeda, tetapi hakikatnya kita menyatu dalam satu tujuan, yaitu berkhidmat kepada Al-Qur’an,” ujarnya.

Usai seminar, rombongan mengunjungi Museum Datok Umar, menikmati ramah tamah makan siang bersama, lalu menggelar Kem Al-Qur’an bersama siswa Suansawanvithaya School. Sesi foto bersama diwarnai yel-yel “IIQ Jakarta Siap Berkah” dan “At-Tarkiah Hebat”.

Berlanjut ke Songkhla

Rangkaian kegiatan berlanjut pada Selasa (6/10/2026) dengan kunjungan kehormatan ke Konsulat RI di Songkhla. Program ini turut melibatkan mitra pendidikan Islam seperti UIN Jakarta dan Suansawanvithaya School.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa kerja sama IIQ Jakarta tidak berhenti pada wacana. Metode belajar Al-Qur’an yang inovatif dan aplikatif dibawa langsung ke ruang kelas di Thailand Selatan. (FP)

Berita lainnya

Lihat semua

Mulai perjalanan Qur'ani Anda bersama IIQ Jakarta

Daftar melalui situs PMB, kenali jalur beasiswa tahfizh, dan unduh brosur program studi S1 maupun pascasarjana.