TANGERANG SELATAN — Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menggelar forum diseminasi penelitian ilmiah bertajuk “Kontekstualisasi Shahih Bukhari dalam Budaya Jawa dan Pengaruh Shahih Bukhari terhadap Perkembangan Literatur Tafsir di Indonesia Abad ke-20”. Forum yang dikemas dalam rangkaian kegiatan #NGOPI (Ngobrol Perkara Islam) ini berlangsung pada Selasa, 6 Oktober 2026, pukul 13.00 WIB, bertempat di Ruang Aula Kampus IIQ Jakarta.
Penelitian unggulan ini dipaparkan oleh dua akademisi dan peneliti IIQ Jakarta, Dr. Samsul Ariyadi, M.Ag. dan Dr. Ahmad Hawasi, M.Ag. Riset tersebut memetakan transmisi intelektual kitab Al-Jami’ al-Shahih karya Imam al-Bukhari dari kawasan asalnya, Mā Warāʾ al-Nahr (Transoksiana) yang mencakup pusat keilmuan klasik di Samarkand dan Bukhara hingga menjadi kanon utama di pesantren-pesantren Jawa. Selain itu, penelitian ini membedah transformasi epistemologis serta peran strategis Shahih Bukhari dalam membentuk wajah tafsir Al-Qur’an di Nusantara.
Jaringan Haramayn dan Akulturasi Pedagogi Pesantren
Dalam pemaparannya, tim peneliti menelusuri bagaimana teks hadis sahih tersebut melintasi jaringan ulama Nusantara di Haramayn sebelum berakar di Tanah Jawa. Salah satu simpul utama jaringan ini adalah Syekh Mahfudz at-Tarmasi asal Pacitan yang mengajar di Makkah, yang kemudian meneruskan sanad keilmuan tersebut kepada murid utamanya, KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng.
Di samping penelusuran sanad, riset ini menggarisbawahi bentuk-bentuk akulturasi budaya dalam pembacaan hadis. Di lingkungan pesantren Jawa, pesan-pesan kitab Shahih al-Bukhari dipahami melalui metode pedagogi khas, seperti tradisi makna gandhul menggunakan aksara Pegon, metode sorogan dan bandongan, hingga pengajian intensif pasanan menjelang bulan Ramadan.
Dr. Samsul Ariyadi, M.Ag. menjelaskan bahwa hadirnya kitab karya Imam al-Bukhari di Jawa tidak berdiri sebagai teks yang terisolasi, melainkan berdialog aktif dengan kultur lokal.
“Shahih al-Bukhari bukan sekadar teks Arab yang dihafalkan, melainkan telah mengalami pembacaan kontekstual dan adaptasi kultural yang mendalam di Jawa. Melalui media aksara Pegon dan sistem pengajaran pesantren, teks klasik ini membentuk tradisi intelektual lokal yang turut memperkaya dinamika penulisan tafsir di Indonesia.”
Sementara itu, Dr. Ahmad Hawasi, M.Ag. menambahkan bahwa riset ini juga berpijak dari hasil kajian lapangan internasional yang mereka lakukan di Imam Bukhari International Scientific Research Center, Samarkand, Uzbekistan. Menurutnya, pemahaman mengenai genealogi hadis ini penting untuk melihat kesinambungan antara pusat keilmuan Islam global dan tradisi lokal Nusantara.
Katalis Rasionalitas dan Harmonisasi Budaya
Tim peneliti juga menyoroti bagaimana perjumpaan antara teks hadis sahih dengan dinamika sosio-kultural Nusantara telah menggeser corak tafsir klasik yang semula didominasi pendekatan esoteris-sufistik menjadi lebih rasional dan responsif terhadap isu kemasyarakatan.
Transisi tersebut ditopang oleh tiga pilar utama: vernakularisasi bahasa (peralihan dari aksara Pegon ke bahasa Indonesia Latin), pengaruh kapitalisme cetak (print capitalism), serta orientasi sosial kemasyarakatan (Al-Adab al-Ijtima’i).
Dr. Ahmad Hawasi, M.Ag. menjelaskan bahwa kehadiran Shahih Bukhari di Indonesia tidak sekadar menjadi teks hafalan, melainkan kompas intelektual yang mampu berdialog santun dengan tradisi lokal.
“Di Indonesia abad ke-20, Shahih Bukhari bertransformasi dari sekadar otoritas teks menjadi metodologi validasi yang hidup. Salah satu contoh nyata terlihat pada karya K.H. Bisri Mustofa dalam Tafsir Al-Ibriz, di mana teks sahih diharmonisasikan secara elegan dengan etika kultural Jawa (unggah-ungguh) tanpa merusak otentisitas ajaran Islam,” ujar Dr. Ahmad Hawasi, M.Ag.
‘Rem Epistemologis’ Penjaga Islam Wasathiyah
Selain harmonisasi budaya, penelitian ini juga menggarisbawahi fungsi Shahih Bukhari sebagai ‘rem epistemologis’ di tengah arus modernitas. Metodologi verifikasi sanad dan matan hadis Bukhari terbukti ampuh menyaring naskah tafsir dari narasi irasional (isra’iliyyat) sekaligus membendung dua kutub ekstrem: rasionalisme liar di satu sisi dan tekstualisme kaku (radikalisme) di sisi lain.
Dr. Samsul Ariyadi, M.Ag. menegaskan pentingnya mendiskusikan temuan ini secara kritis bersama civitas akademika.
“Keketatan metodologi Shahih Bukhari menjadi fondasi lahirnya karakter Islam Wasathiyah di Indonesia yakni model beragama yang rasional, toleran, dan mencerahkan. Melalui panggung diskusi ini, kami mengundang seluruh akademisi dan mahasiswa untuk menguji serta membedah temuan ini secara kritis,” ungkap Dr. Samsul Ariyadi, M.Ag.
Terbuka untuk Diskusi Kritis Civitas Akademika
Acara diseminasi ini diselenggarakan secara terbuka bagi seluruh civitas akademika IIQ Jakarta, mulai dari jajaran dosen, peneliti, hingga mahasiswa. Agenda ini dirancang interaktif untuk merangsang tradisi berpikir kritis di lingkungan perguruan tinggi Islam, menghubungkan modalitas kajian khas pesantren dengan hermeneutika akademis modern. Diskusi kritis ini diharapkan menjadi ruang akademik yang interaktif dalam merespons temuan-temuan baru terkait jaringan sanad, sejarah tafsir, serta perkembangan kajian hadis di Indonesia. (FP)


