NARATHIWAT – Di tengah dinamika dakwah di Asia Tenggara, peran akademisi Indonesia semakin krusial dalam memperkuat narasi Islam Rahmatan Lil Alamin. Dr. Hj. Sri Tuty Rahmawati, S.UD., M.A., pakar dari Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta yang juga dikenal luas sebagai narasumber program “Islam itu Indah” di Trans TV, telah melakukan kunjungan strategis ke Thailand Selatan. Kehadiran akademisi asal Sukabumi, Jawa Barat ini, menandai kepulangannya ke Narathiwat setelah tiga tahun berselang.
Atas undangan Dr. Faison Toyib, Dr. Sri Tuty hadir di Attar Radio 104 MHz sebagai narasumber Seminar Akbar dan pengajar bedah tajwid Al-Qur’an. Dalam sesi bincang spesial yang dipandu Ustazah Aisyah, beliau membawa misi merekatkan kembali hubungan emosional umat dengan kitab sucinya. Melalui retorika yang menyentuh, Bunda Tuty menggugah kesadaran audiens untuk menempatkan Al-Qur’an bukan sekadar sebagai teks formalitas, melainkan sebagai kawan perjalanan yang absolut di era disrupsi.
Redefinisi Persahabatan: Menggeser Paradigma Al-Qur’an dalam Kehidupan
Dr. Sri Tuty mengawali pembahasannya dengan menganalisis fenomena persahabatan antarmanusia yang sering kali rapuh dan transaksional. Beliau membandingkan ingatan manusia yang terbatas—di mana sahabat masa kecil saat bersekolah sering kali terlupakan wajahnya setelah puluhan tahun—dengan kesetiaan Al-Qur’an yang abadi.
“Banyak persahabatan manusia hanya ada saat kita sukses. Namun, saat kita terjatuh atau tidak lagi memberi manfaat materi, mereka menjauh,” ungkapnya. Sebaliknya, beliau mendefinisikan Al-Qur’an sebagai “Sahabat Sejati” berdasarkan tiga pilar utama:
- Investasi Spiritual Pasti: Berbeda dengan bantuan sosial manusia yang terbatas, membaca Al-Qur’an memberikan keuntungan matematis yang pasti: sepuluh kebaikan untuk setiap satu huruf. Ini adalah investasi yang tidak akan pernah mengalami inflasi spiritual.
- Penyembuh Luka Batin: Saat hati mengalami kehampaan, penderitaan, atau kekecewaan, Al-Qur’an hadir sebagai Syifa (penyembuh) yang memberikan solusi kedamaian yang tidak bisa ditawarkan oleh materi.
- Kesetiaan Tanpa Syarat: Al-Qur’an akan datang menyapa pembacanya (man qara’a al-qur’an) sebagai pembela di saat manusia lain sudah tidak mampu lagi memberikan pertolongan.
Kritik Sosial: Fenomena Drama Korea, TikTok, dan Manajemen Waktu
Dalam tinjauan kritisnya, Dr. Sri Tuty menyoroti anomali perilaku manusia modern terhadap teknologi. Beliau secara spesifik menyentuh kecanduan masyarakat terhadap hiburan digital yang menggeser prioritas ibadah.
Analisis Ketimpangan Prioritas Modern:
- Daya Tahan Visual: “Kita sanggup menatap layar handphone untuk menonton Netflix atau TikTok berjam-jam hingga baterai habis dan tangan pegal, namun merasa 10 menit membaca Al-Qur’an adalah beban yang berat,” kritiknya.
- Investasi Emosional pada Fiksi: Beliau mencontohkan bagaimana orang bisa begitu terhanyut dan “khatam” menonton episode Drama Korea seperti kisah CEO hingga meneteskan air mata, namun belum pernah menamatkan pemahaman terhadap pesan cinta Allah.
- Teori Penjual Minyak Wangi: Menggunakan perumpamaan klasik, beliau menekankan bahwa lingkungan menentukan apakah seseorang akan menjadi rajin (diligent) atau malas (lazy). Bergaul dengan komunitas Al-Qur’an akan membuat seseorang “terpercik” wangi kebaikan meski tidak membelinya.
Beliau merujuk Surah Al-‘Ashr sebagai landasan manajemen waktu. Kunci agar tidak merugi adalah dengan menerapkan skema 8/8/8 (delapan jam ibadah, delapan jam kerja, delapan jam istirahat). Manajemen ini hanya bisa dicapai dengan tiga jenis kesabaran: sabar dalam menghindari maksiat, sabar menghadapi musibah, dan sabar dalam konsistensi beribadah.
Metodologi “10 Ayat Sehari”: Kalkulasi Matematis untuk Masyarakat Sibuk
Bagi para profesional yang merasa tidak memiliki waktu, Dr. Sri Tuty menawarkan pendekatan gradual yang sangat masuk akal. Beliau membedakan antara level membaca (tilawah) dan level pemahaman (translation):
- Level Tilawah (10 Ayat Sehari): Skema praktis ini dilakukan dengan membaca 2 ayat setiap selesai salat fardu. Dengan durasi hanya sekitar 10 detik per sesi (misalnya dimulai dari Alif-Laam-Miim), seseorang secara konsisten menyelesaikan 10 ayat dalam sehari tanpa mengganggu rutinitas kerja.
- Level Pemahaman (1 Ayat Sehari): Beliau menantang audiens untuk menyelami makna. Dengan target memahami terjemahan satu ayat saja per hari, umat dapat meraih capaian intelektual yang luar biasa.
- Kalkulasi Surah Al-Baqarah: “Surah Al-Baqarah terdiri dari 286 ayat. Jika Anda membaca satu ayat dan terjemahannya setiap hari, maka dalam satu tahun (365 hari) Anda sudah khatam memahaminya, bahkan masih tersisa 79 hari luang,” paparnya.
Beliau menekankan bahwa memahami Al-Qur’an jauh lebih berharga daripada menonton drama, karena Al-Qur’an memuat informasi fundamental; mulai dari sejarah Nabi Musa hingga hukum waris dan pernikahan yang mendalam dalam Surah An-Nisa.
Dimensi Eskatologis: Cahaya di Alam Kubur Tanpa Listrik
Puncak pesan Dr. Sri Tuty menyentuh realitas akhir kehidupan. Beliau mengingatkan bahwa kematian adalah kepastian bagi siapa pun, baik kaya maupun miskin. Di fase transisi ini, segala kecanggihan teknologi dan gawai tidak lagi memiliki fungsi.
“Di alam kubur tidak ada aliran listrik untuk menyalakan lampu atau gawai. Kita hanya sendiri, dibungkus kain kafan,” tuturnya. Beliau memaparkan bahwa Al-Qur’an akan menjelma menjadi cahaya penerang dan pembela saat malaikat Munkar dan Nakir melontarkan pertanyaan Man Rabbuka (Siapa Tuhanmu).
Bahkan, beliau merujuk pada fenomena nyata di mana jasad para penjaga Al-Qur’an ditemukan tetap utuh dan wangi meski telah dikubur puluhan tahun. Menurutnya, ini adalah bukti bahwa Allah menjamin keamanan fisik bagi mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat setia di dunia. Keinginan meraih Husnul Khatimah harus dijemput dengan menjadikannya kebiasaan harian (dawam).
Penutup: Ibda Binafsik dan Seruan Kembali ke Sumber Kehidupan
Menutup rangkaian pesannya di Thailand, Dr. Sri Tuty Rahmawati menggaungkan seruan “Ibda Binafsik” (mulai dari diri sendiri). Beliau menekankan bahwa tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta melalui kitab suci-Nya.
Beliau mengajak seluruh umat, baik di Indonesia maupun Thailand, untuk menyembuhkan hati yang hampa dengan kembali membaca Al-Qur’an. Harapannya, kedekatan ini akan memberikan syafaat dan keberkahan yang menyelamatkan manusia di dunia maupun di akhirat. “Bismillah, mari kita mulai hari ini. Jadikan Al-Qur’an sumber kehidupan dan ketenangan sejati,” pungkasnya. (FP)




