Forum Kebangsaan Iduladha di MPR RI, Kabiro Akademik dan Kemahasiswaan Serta Dosen IIQ Jakarta Hadiri Diskusi Persatuan Bangsa

Forum Kebangsaan Iduladha di MPR RI, Kabiro Akademik dan Kemahasiswaan Serta Dosen IIQ Jakarta Hadiri Diskusi Persatuan Bangsa

JAKARTA — Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Dr. Hj. Iffaty Zamimah, M.Ag., bersama dosen IIQ Jakarta, Dr. Nur Izzah, menghadiri Forum Diskusi Kebangsaan bertema Merawat Kebangsaan, Menguatkan Keislaman: Peran Perguruan Tinggi Islam dalam Menjaga Persatuan dan Kepedulian Sosial” di Ruang Rapat Pimpinan MPR RI, Gedung Nusantara III DPR/MPR RI, Selasa (26/5).

Forum yang diinisiasi Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono, menghadirkan sekitar 15 akademisi dan pimpinan perguruan tinggi Islam dari wilayah Jabodetabek dalam format diskusi terbatas dan interaktif.

Panitia menyebutkan, akademisi IIQ Jakarta dipilih sebagai perwakilan karena profil dan keahlian dinilai relevan dengan tema kebangsaan dan penguatan nilai keagamaan yang menjadi fokus pembahasan forum.

Selain IIQ Jakarta, forum tersebut juga dihadiri pimpinan dan perwakilan akademisi dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas Ibnu Chaldun, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, dan sejumlah kampus Islam lainnya.

Dalam diskusi tersebut, Dr. Hj. Iffaty Zamimah, M.Ag., menyampaikan sejumlah persoalan strategis yang saat ini dihadapi perguruan tinggi Islam swasta, mulai dari penurunan penerimaan mahasiswa baru (PMB), keterbatasan kuota beasiswa, penguatan satuan tugas pencegahan kekerasan, pengembangan kegiatan kemahasiswaan, kesehatan mental mahasiswa, hingga pentingnya penguatan kerja sama dan kemitraan antar lembaga pendidikan.

“Semua menyampaikan persoalan yang hampir sama, terutama terkait penurunan PMB di perguruan tinggi Islam swasta,” ujar Dr. Hj. Iffaty Zamimah.

Menurutnya, persoalan penerimaan mahasiswa baru menjadi perhatian serius karena hampir seluruh perguruan tinggi Islam swasta mengalami penurunan jumlah mahasiswa dalam beberapa tahun terakhir.

“Semua pimpinan mengiyakan bahwa ada penurunan penerimaan mahasiswa baru. Karena itu, kami berharap ada solusi dan perhatian terhadap kondisi perguruan tinggi swasta Islam, apalagi kampus negeri terus memperpanjang penerimaan mahasiswa,” katanya.

Selain PMB, Dr. Iffaty juga menyoroti keterbatasan kuota beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) bagi perguruan tinggi Islam swasta.

“Kami juga menyampaikan terkait beasiswa KIP. Kuota yang diberikan masih sangat sedikit, sehingga kami berharap ada penambahan kuota beasiswa bagi PTKIS,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, Dr. Iffaty turut menekankan pentingnya optimalisasi Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di lingkungan kampus. Menurutnya, keberadaan satgas harus diperkuat agar mampu meminimalisir berbagai bentuk kekerasan yang masih terjadi di perguruan tinggi.

“Saya menyampaikan bahwa satgas kekerasan perlu dimaksimalkan. Karena meskipun semua kampus sudah memiliki satgas, fenomena kekerasan masih terjadi di mana-mana. Bahkan terkadang ada dosen yang tidak sadar bahwa tindakannya termasuk bentuk kekerasan,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan kegiatan kemahasiswaan sebagai ruang pengembangan potensi mahasiswa, termasuk perlunya dukungan pemerintah terhadap program-program kemahasiswaan yang sebelumnya pernah mendapatkan bantuan.

Selain itu, isu kesehatan mental mahasiswa menjadi perhatian penting yang turut disampaikan dalam forum tersebut. Menurut Dr. Iffaty, tantangan kehidupan akademik dan sosial di era digital menuntut kampus lebih serius memperhatikan kesehatan mental mahasiswa agar tercipta lingkungan belajar yang sehat dan suportif.

Tak hanya itu, forum juga membahas pentingnya memperluas kerja sama kemitraan antar perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai stakeholder guna memperkuat daya saing perguruan tinggi Islam swasta, termasuk membuka peluang kolaborasi dan pengembangan mahasiswa hingga ke luar negeri.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Edhie Baskoro Yudhoyono menyatakan pentingnya kesetaraan perlakuan antara perguruan tinggi Islam swasta dan perguruan tinggi negeri.

“Mas Ibas menyampaikan bahwa PTKIS harus diperlakukan setara dengan perguruan tinggi negeri, jangan sampai ada disparitas yang terlalu jauh dalam pelayanan dan dukungan,” kata Dr. Iffaty.

Dalam kesempatan tersebut, Mas Ibas juga menyampaikan rencana untuk memberikan bantuan buku bagi perpustakaan sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan literasi dan pengembangan pendidikan di lingkungan perguruan tinggi Islam.

Sementara itu, dosen IIQ Jakarta, Dr. Nur Izzah, menegaskan bahwa forum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi Islam dalam menjaga persatuan nasional dan moderasi beragama.

“Diskusi interaktif ini bertujuan mendorong peran aktif perguruan tinggi Islam dalam menjaga persatuan nasional dan moderasi beragama. Selain itu, forum ini juga menjadi ruang dialog kebangsaan antara akademisi, tokoh pendidikan Islam, dan pemangku kepentingan nasional,” ujar Dr. Nur Izzah.

Ia menambahkan, forum tersebut juga diharapkan mampu menguatkan semangat kebersamaan dalam menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan kebangsaan di era globalisasi dan digitalisasi.

Forum ini menjadi ruang silaturahmi dan refleksi bersama untuk memperkuat nilai persaudaraan, solidaritas sosial, toleransi, dan gotong royong sebagai fondasi menjaga keutuhan bangsa Indonesia. (FP)

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp