Tawarkan Paradigma Baru Relasi Gender Qur’āni, Zulfi Ida Syarifah Raih Gelar Doktor di IIQ Jakarta

Tawarkan Paradigma Baru Relasi Gender Qur’āni, Zulfi Ida Syarifah Raih Gelar Doktor di IIQ Jakarta

TANGERANG SELATAN — Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta kembali melahirkan doktor baru di bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Dalam sidang promosi doktor S3, Zulfi Ida Syarifah berhasil mempertahankan disertasinya yang bertajuk “Relasi Gender Perspektif Al-Qur’ān: Studi Perkembangan Penafsiran Ayat-Ayat Kisah Perempuan dari Periode Klasik hingga Kontemporer”.

Di bawah bimbingan tim promotor Prof. Dr. KH. Said Agil Husin Al-Munawar, M.A. dan Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Ulinnuha, Lc., M.A., penelitian ini mengkaji secara mendalam bagaimana para mufasir dari berbagai era menafsirkan ayat-ayat kisah (qaṣaṣ) perempuan dalam Al-Qur’an.

Menjawab Tantangan Relasi Gender dan Krisis Keluarga Modern

Latar belakang penelitian ini disoroti oleh dinamika pemaknaan relasi gender yang kian krusial di tengah isu-isu sosial kontemporer. Zulfi Ida Syarifah menegaskan bahwa persoalan gender dalam ruang publik maupun domestik—termasuk tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)—menandakan adanya krisis relasi keluarga yang membutuhkan pijakan keagamaan yang berkeadilan.

Melalui penelitian kualitatif kepustakaan dengan pendekatan History of Ideas (Arthur O. Lovejoy) dan Tafsir Kontekstual, kajian ini mengintip evolusi pemikiran tujuh mufasir lintas periode. Hasilnya, penafsiran mengenai relasi gender ternyata tidak bersifat statis, melainkan mengalami pergeseran paradigma: dari pola tradisionalis (tekstual/implisit-subordinatif), bergeser ke reaktif (tekstual-substantif/normatif-legalistik), hingga holistik (kontekstual-substantif/eksplisit-egaliter).

Penemuan Utama: Model Kurva U dan Model Relasi Gender 7–7–7

Salah satu temuan paling menakjubkan dalam disertasi Dr. Zulfi Ida Syarifah adalah bahwa penafsiran agensi perempuan secara historis-sosiologis membentuk Model Kurva U.

“Penafsiran relasi gender dalam ayat-ayat kisah perempuan Al-Qur’ān berkembang mengikuti pola kurva U: dari fondasi etis yang egaliter, menurun menjadi subordinatif akibat horizon sosial-budaya patriarki dan dominasi riwayat, lalu bangkit kembali menegaskan agensi perempuan pada era kontemporer,” terang Dr. Zulfi Ida Syarifah saat memaparkan disertasinya.

Ia menambahkan bahwa penurunan agensi perempuan tersebut tidak bersifat mutlak. “Konstruksi penafsiran yang melingkupinya menunjukkan bahwa penurunan agensi bersifat historis-sosiologis, dan karenanya dapat dipulihkan,” tegasnya.

Sebagai sintesis atas dinamika tersebut, Zulfi merumuskan sebuah konsep kebaruan (novelty) berupa Model Relasi Gender Qur’āni Bersistem 7–7–7. Model ini mengintegrasikan 7 kisah perempuan dalam Al-Qur’an, 7 dimensi relasi (mulai dari ontologis, domestik, publik, sosial-komunitas, hukum, psikologis, hingga puncak spiritual), dan 7 kategori agensi perempuan.

“Seluruh dinamika ini disintesiskan menjadi Model Relasi Gender Qur’āni bersistem 7–7–7, yang menjadikan relasi gender bukan sekadar konsep normatif, melainkan kerangka etik-praktis sekaligus solusi atas persoalan kehidupan kontemporer—dari relasi keluarga hingga wacana keagamaan publik,” paparnya di hadapan para penguji.

Melalui model 7–7–7 ini, relasi gender bukan lagi sekadar beban ganda (double burden), melainkan kerangka kerja sama yang berasas kesalingan, pemuliaan, dan penguatan agensi bagi laki-laki maupun perempuan.

Kontribusi Bagi Kebijakan Keagamaan dan Pendidikan

Disertasi ini menawarkan resolusi konkret bagi pengembangan studi tafsir, kurikulum pendidikan keluarga, hingga arah kebijakan keagamaan yang berorientasi pada keadilan relasional. Dengan tuntasnya sidang promosi doktor ini, hasil pemikiran Dr. Zulfi Ida Syarifah diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam membangun masyarakat Islam kontemporer yang inklusif, adil, dan berkeadaban. (FP)

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp