Tim Monitoring KKL IIQ Jakarta 2026 Turun Langsung ke Bogor: Dorong Program Berkelanjutan dan Berdampak Jangka Panjang

Tim Monitoring KKL IIQ Jakarta 2026 Turun Langsung ke Bogor: Dorong Program Berkelanjutan dan Berdampak Jangka Panjang

BOGOR – Panitia Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta 2026 yang terdiri dari para Ketua Program Studi (Kaprodi) turun langsung melakukan peninjauan dan monitoring evaluasi KKL di berbagai desa di Wilayah Kabupaten Bogor pada Rabu (22/7). Peninjauan ini dilakukan untuk memantau langsung kontribusi mahasiswa yang tersebar di Kecamatan Cileungsi (Desa Pasirangin, Dayeuh, Limusnunggal) dan Kecamatan Klapanunggal (Desa Bantarjati, Bojong, Cikahuripan, Kembang Kuning, Klapanunggal, Nambo, Ligarmukti, Leuwikaret, dan Lulut).

Kegiatan monitoring ini berfokus pada tiga program utama KKL IIQ Jakarta 2026, yang meliputi pemberdayaan masyarakat berbasis kesadaran lingkungan melalui ekoteologi, edukasi dan gerakan ekonomi umat melalui literasi zakat dan wakaf, serta pemberantasan buta aksara Al-Qur’an dan implementasi ilmu keprodian.

Aktivitas Padat dan Inovatif Mahasiswa di Lapangan

Berdasarkan laporan mahasiswa, seperti yang disampaikan oleh Kelompok 20 (AMARTHA) di Desa Pasir Angin, agenda KKL diisi dengan rangkaian kegiatan pemberdayaan yang sangat padat dan beragam.

Sejak awal kedatangan pada awal Juli 2026, mahasiswa aktif menjalin silaturahmi dengan berbagai elemen masyarakat, mulai dari Kepala Desa, RT/RW, Ketua FDKM, MUI Desa, hingga pimpinan TPQ dan Majelis Taklim. Di bidang keagamaan dan pendidikan, mahasiswa secara konsisten menyelenggarakan:

  • Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur’an dan pengajaran rutin Tahsin di berbagai musholla dan TPQ.
  • Pengenalan Metode Pembelajaran Al-Qur’an, seperti Metode Baghdadi, Metode Ilham, hingga sosialisasi Al-Qur’an Isyarat di Majelis Ta’lim.
  • Kajian Keagamaan: Pengajian rutin ibu-ibu, kajian tafsir, Safari Khotmil Qur’an, pembacaan Ratib, hingga kajian Ekonomi Syariah dan sosialisasi pencegahan bullying.

Di bidang lingkungan dan pemberdayaan ekonomi, kreativitas mahasiswa diwujudkan melalui:

  • Aksi Ekoteologi & Lingkungan: Kegiatan BerSeRi (Bersih, Sehat, dan Rapi), kerja bakti makam, uji coba tanaman hidroponik, penanaman pohon herba, pembuatan kreasi dari daur ulang sampah saat MPLS PAUDQU, serta pembuatan dan pemasangan Plang Edukasi Sampah di Posyandu dan Kantor Desa Pasir Angin.
  • Pemberdayaan Ekonomi & UMKM: Kunjungan dan pendampingan budidaya jamur tiram bersama pengurus BUMDES, survei bank sampah, pendaftaran UMKM di Google Maps, pendampingan pembayaran digital (QRIS), sertifikasi Jaminan Produk Halal (JPH), hingga gerakan edukasi Sedekah Rp500/hari.

Masyarakat Antusias, Bertanya Kapan Program Berlanjut

Kehadiran dan keaktifan para mahasiswa IIQ Jakarta disambut hangat oleh warga. Program pemberantasan buta aksara Al-Qur’an menjadi salah satu yang paling diminati. Tingginya rasa kebersamaan ini terlihat dari tanggapan warga di lapangan.

“Alhamdulillah ibu, disini ibu-ibunya antusias, bahkan kemarin ada yang bertanya, Neng habis ini KKL-nya pindah ke mana lagi? Kami mau ikut lagi programnya” ujar salah seorang ibu warga Desa Pasir Angin yang merasa terbantu dengan program-program pengajaran Al-Qur’an.

Para mahasiswa pun mengaku merasa nyaman dan betah berbaur dengan warga, menjadikan KKL ini sebagai pengalaman pengabdian yang sangat berharga.

Arahan Kaprodi sekaligus Tim Monitoring KKL

Untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan memberikan keberlanjutan pasca-KKL, Kaprodi PAI IIQ Jakarta Dr Reksiana, Kaprodi IAT Dr Mamluatun Nafisah, Kaprodi KPI Dr Hizbullah dan Kaprodi Manajemen Zakat dan Wakaf Dr Syafaat, menyampaikan arahan strategis kepada seluruh kelompok mahasiswa.

Berikut adalah petunjuk teknis dan arahan langsung dari Kaprodi selaku Tim Monitoring KKL:

“Diarahkan anak-anak seminggu 3 kali pembinaan. Bisa datang ke rumah-rumah dengan sistem ‘jemput bola’. Untuk program Al-Qur’an, harus berdampak dengan mengadakan TOT (Training of Trainers) menggunakan Metode Baghdadi untuk guru-guru TPQ setempat agar programnya terus berlanjut.” Ujar Dr Mamluatun.

“Untuk sektor lingkungan, produk yang kalian buat harus berbasis produk jangka panjang. Ketika setelah KKL selesai, harus ada peninggalan fisik dan kolaborasi yang nyata, seperti pembuatan bank sampah, plang nama kacamata, botol tempat sampah terpilah, pembuatan kompos, papan edukasi sampah, serta menjalin kerja sama resmi dengan Karang Taruna setempat.” Pungkas Dr Reksiana dalam arahannya.

Dengan adanya monitoring dan arahan ini, KKL IIQ Jakarta 2026 diharapkan tidak hanya menjadi agenda pengabdian sementara, tetapi mampu meninggalkan warisan nilai keagamaan dan kepedulian lingkungan yang berkelanjutan bagi masyarakat Bogor. (FP)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp