TANGERANG SELATAN — Biro Akademik dan Kemahasiswaan bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menyelenggarakan Pelatihan Bahasa Isyarat bertajuk “Merangkai Isyarat, Menyatukan Makna” selama dua hari, 20–21 Juni 2026, di Pesantren Takhassus IIQ Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus upaya nyata IIQ Jakarta dalam mewujudkan lingkungan kampus yang inklusif dan ramah bagi seluruh kalangan.
Pada kesempatan ini. peserta mempelajari berbagai kosakata dan praktik Bahasa Isyarat Indonesia yang berkaitan dengan lingkungan keluarga, sekolah, serta komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sekadar teori, para peserta juga berkesempatan mempraktikkan langsung bersama teman-teman penyandang tunarungu untuk melatih komunikasi berbasis bahasa isyarat sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya komunikasi yang setara dan saling menghargai.
Narasumber pelatihan, Sitti Salamah Fahruddin, Guru SLB Sana Dharma, menekankan bahwa bahasa isyarat bukan sekadar sarana komunikasi, melainkan juga jembatan untuk membangun pemahaman dan memperkuat hubungan antarsesama.
Sejumlah peserta mengaku memperoleh pengalaman berharga dari pelatihan ini. Salah satunya mengungkapkan bahwa kegiatan dua hari tersebut membuka wawasannya tentang keberagaman cara berkomunikasi.
“Alhamdulillah, pelatihan selama dua hari ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Kami diajarkan dari awal hingga akhirnya dapat berinteraksi langsung dengan teman-teman tunarungu. Saya menyadari bahwa cara berkomunikasi itu sangat beragam, tidak hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui bahasa isyarat. Semoga pelatihan seperti ini dapat terus berlanjut,” ujarnya.
Hal senada disampaikan peserta lainnya, Alena. Ia menilai pelatihan ini memberinya pemahaman baru tentang keragaman bahasa yang selama ini belum ia kenal.
“Pelatihan ini sangat penting karena saya dapat mengenal bahasa yang unik dan berbeda dari yang selama ini saya ketahui. Saya merasa kegiatan seperti ini perlu terus diadakan agar semakin banyak mahasiswa yang memahami bahasa isyarat,” katanya.
Melalui pelatihan ini, IIQ Jakarta tidak hanya membekali mahasiswa dengan keterampilan berbahasa isyarat, tetapi juga menanamkan nilai empati, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap keberagaman. Semangat “Merangkai Isyarat, Menyatukan Makna” diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan kampus yang semakin inklusif, di mana setiap individu memiliki hak yang sama untuk didengar, dipahami, dan dihargai. (FP)





