Tangerang Selatan – Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Associate Prof. Dr. Hj. Nadjmatul Faizah, menghadiri The Asian Islamic Universities Association (AIUA) International Seminar and Annual General Meeting 2026 yang diselenggarakan di Gedung Auditorium Harun Nasution, Kampus 1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Rabu (24/6/2026).
Seminar internasional bergengsi ini mengusung tema “Transforming Islamic Higher Education for Advancing Global Peace, Resilience, and Inclusive Development”, sebuah forum strategis yang mempertemukan para pemimpin perguruan tinggi Islam dari berbagai negara di Asia dalam satu panggung akademik global.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak 23 Juni 2026 dengan kedatangan delegasi dari berbagai negara Asia, dilanjutkan dengan pelaksanaan seminar internasional pada 24 Juni, dan ditutup dengan sidang tahunan AIUA pada 25 Juni 2026, seluruhnya bertempat di Auditorium Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kehadiran Rektor IIQ Jakarta dalam forum ini mencerminkan komitmen institusi dalam memperkuat jaringan kolaborasi internasional di bidang pendidikan tinggi Islam. IIQ Jakarta tercatat sebagai salah satu perguruan tinggi yang diundang oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., selaku tuan rumah sekaligus Presiden AIUA saat ini.
“Forum ini menjadi penting bagi IIQ Jakarta untuk mempererat jejaring dengan perguruan tinggi Islam di Asia. Kita tidak bisa berjalan sendiri, kolaborasi internasional adalah keniscayaan” ujar Associate Prof. Dr. Hj. Nadjmatul Faizah.
Prof. Asep Saepudin Jahar selaku Rektor UIN Jakarta sekaligus Presiden AIUA menyatakan bahwa forum ini memperkuat diplomasi dan kerja sama antarperguruan tinggi Islam di tingkat internasional. Menurutnya, perguruan tinggi Islam tidak hanya mengemban mandat dalam bidang pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membangun perdamaian, memperkuat ketahanan sosial, serta menghadirkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Perguruan tinggi Islam tidak hanya memiliki mandat dalam pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab strategis untuk membangun perdamaian, memperkuat ketahanan sosial, serta menghadirkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Prof. Asep menambahkan, dunia saat ini tengah dihadapkan pada berbagai tantangan yang saling berkaitan, mulai dari konflik geopolitik, perubahan iklim, kesenjangan sosial-ekonomi, hingga transformasi digital yang berlangsung dengan sangat cepat. Dalam konteks itu, perguruan tinggi Islam dituntut untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam menghasilkan pengetahuan, kepemimpinan, serta kebijakan yang berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Seminar internasional yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WIB ini menghadirkan sejumlah pembicara kunci terkemuka. Sesi pertama dibuka dengan pidato utama dari Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2004–2009 dan 2014–2019, yang menyampaikan pandangannya mengenai kepemimpinan Islam dan peacebuilding dalam tatanan global yang semakin terfragmentasi. Sesi keynote kedua disampaikan oleh Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, yang mengupas peran pendidikan tinggi Islam dalam memperkuat demokrasi dan transformasi global.
Forum ini juga menghadirkan dua panel diskusi utama. Panel pertama mengangkat tema Islamic Higher Education as a Strategic Actor in Peacebuilding and Social Cohesion, yang membahas peran strategis kampus Islam dalam membangun perdamaian dan kohesi sosial di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. Adapun panel kedua bertajuk Repositioning Islamic Higher Education in the Age of Global Disruption: Innovation, Integration, and Impact, yang mengulas strategi perguruan tinggi Islam dalam menghadapi era disrupsi global melalui inovasi akademik, integrasi keilmuan, dan peningkatan dampak sosial.
Rektor IIQ Jakarta menegaskan bahwa tema yang diangkat dalam forum ini sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi dunia saat ini. “Pendidikan tinggi Islam harus mampu menjawab krisis global dengan solusi nyata yang berdampak luas bagi masyarakat dunia,” tegasnya.
Selain sesi seminar dan diskusi panel, agenda AIUA 2026 juga diwarnai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antaranggota AIUA yang mencakup program pertukaran mahasiswa, riset bersama, program gelar ganda, diseminasi pengetahuan, serta penguatan jejaring internasional antarperguruan tinggi Islam di kawasan Asia dan dunia.
Pada malam harinya, para delegasi mengikuti sesi makan malam dan jejaring yang turut dihadiri oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suyitno, M.Ag. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan pidato bertema Strengthening PTKIN Global Engagement through Networking, Collaboration, and Institutional Synergy, yang menekankan pentingnya sinergi kelembagaan dalam memperkuat keterlibatan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri di kancah global.
Forum bergengsi ini diproyeksikan dihadiri sekitar 150 hingga 200 peserta yang terdiri atas pimpinan perguruan tinggi, akademisi, peneliti, diplomat, perwakilan pemerintah, organisasi internasional, mitra pembangunan, dan unsur masyarakat sipil dari berbagai negara. (FP)




